Wikipedia

Hasil penelusuran

Kamis, 15 Agustus 2013

Two Moons in The Sky (Bagian 1)



            Jika aku tanya, apa sih cinta pertama itu? Apakah kalian bisa menjawabnya dengan jujur dan lugas? Sebuah pertanyaan yang cukup ambigu tapi memiliki berjuta jawaban. Awalnya aku bingung jika pertanyaan ini diajukan kepadaku, apakah cinta pertama itu wanita pertama yang aku pacari saat sekolah dasar ataukah wanita pertama yang kuajak having sex saat awal kuliah. Tapi jika saat ini ada yang menanyakan padaku pertanyaan yang sama. Aku sudah tau jawabannya, paling tidak aku sudah tau apa yang harus aku jawab. “Ada dua bulan diatas langit, dua bulan yang selalu memandikan dunia dengan cara yang aneh.” Itulah jawabanku, cinta pertama itu adalah dua bulan yang saling berhadapan.  


            

Aku pernah mendengar suatu cerita dari almarhum kakek, bahwa dahulu kala ada dua bulan yang menyinari bumi ini saat malam. Bulan itu berwarna biru terang tapi tidaklah berada di negri ini, kedua bulan itu berada pada sebuah negri berbeda dengan yang kita kenal saat ini. Di sana adalah negri dimana dua bulan diangkasa saat malam sudah biasa dan sudah tak asing lagi. Dua bulan itu saling beradu siapa yang paling terang dan paling membirukan langit diantara kegelapan. Bulan yang satu selalu berpendapat bahwa dialah bulan yang paling terang sinarnya di seluruh negri, sedangkan bulan yang satunya selalu yakin bahwa birunya lah paling memecah gelap malam. Dua bulan yang saling memancarkan sinar keindahan namun juga di sisi lain membuat seluruh penghuni pelosok negri menjadi gila dan kehilangan akal sehat. Ini bukan sekedar legenda, ini pernah terjadi dulu sangat dulu sekali. Sebuah keindahan yang muncul diantara kegelapan memang dapat membuat terpana hingga kita seperti kehilangan maksud dan tujuan utama kita hidup di dunia ini.
                
           Kakek juga pernah bercerita kepadaku tentang perbedaan lunatic dan insane. Dalam bahasa inggris kedua kata itu layak disebut bagai pinang dibelah dua. Kedua kata tersebut adalah kata sifat, yang artinya sakit jiwa. Insane mempunyai makna seperti ada kelainan otak sejak lahir. Dan kemungkinan besar masih dapat disembuhkan oleh dokter ahli jiwa. Sedangkan lunatic adalah kehilangan kewarasan sementara akibat pengaruh luna, bulan. Menurut kakek, dahulu kala di Inggris jika orang ‘lunatic’ melakukan hal kriminal, maka hukumannya akan diringankan satu tahun. Alasannya, karna pelaku tak sepenuhnya sadar dengan apa yang mereka perbuat. Dan menurut kakek, itu sama saja pemerintah Inggris saat itu mengakui bahwa bulan dapat mengacaukan mental orang. Jadi bulan pun harus dituntut bertanggung jawab karna dapat membuat orang kehilangan kewarasan dan mengakibatkan sakit jiwa bersifat sementara. Secara tak langsung fenomena dua bulan ini cukup mengatur hidup kita tanpa disadari.
                
          Cerita dua bulan dilangit ini mengingatkanku akan kisah cinta yang dulu sekali pernah kualami dengan seorang wanita yang bernama, Kirana. Dia adalah cinta basa basiku semasa menempuh jenjang sekolah menengah pertama (SMP), tidak tepat juga jika kubilang bahwa saat itu cinta, itu lebih seperti sebagai rasa suka anak anak yang tak serius dan tak ada arah tujuan. Jika diibaratkan aku lebih suka menyebut itu sebagai “keong”. Bukan rasa cinta yang tulus tapi hanya ungkapan ekspresi seperti layaknya keong, yang muncul ketika dia ingin namun sembunyi ketika dia diganggu pihak lain. Selalu ada di saat duka namun tak ada di saat duka. Yang penting hanya senang dan mencari kebahagiaan. Perasaan “keong” mungkin itu padanan kata yang tepat.
                
         Aku dan Kirana adalah dua orang yang sangat berbeda satu sata lain. Dulu aku seorang anak yang nakal dan tak berperasaan, siapa yang tega memukul seorang wanita dengan menggunakan buku pelajaran (tentu saja bukan Kirana, melainkan temanku yang lain) dan siapa yang senang pada saat memasukan teman kedalam tong sampah sekolah. Cukup sering aku mem- bully teman temanku di sekolah dulu walaupun nyatanya dulu juga aku sangat populer dikalangan adik kelas. Aku ganteng, keren, anak band dan pede (sampai sekarang), tak heran jika saat itu banyak mengirimiku surat cinta #nomention. Saat itu aku adalah seorang kakak kelas penuh pesona yang memiliki rambut jabrik ala David Beckham yang tengah tren diantara anak seusiaku.

Tapi yang cukup mengherankan bagiku, ditengah elu pujian dan kagum dari para adik kelas tetap saja tak bisa mengalahkan aura yang dipancarkan oleh Kirana, seorang gadis yang tak terlalu populer namun selalu berhasil membuatku penasaran. Kirana adalah seorang gadis berambut pendek, bertubuh mungil dan memiliki wajah unik khas oriental yang membuatku selalu ingin melahap selusin bakpau hangat setiap kali melihatnya. Suara cemprengnya adalah ciri khasnya, suara yang aku yakini dapat merusak gendang telingaku jika mendengar dia menyanyi. Jika harus memilih aku lebih memilih mendengarkan teriakan metal James Hetfield dari pada mendengar dia menyanyi. Tapi tetap saja aura yang dia pancarkan laksana bulan yang seolah membuatku tertancap paku dan membuatku bertahan untuk menikmati indahnya.

Sebelumnya aku sudah mengenal Kirana sejak kelas 2 SMP namun memang pada saat itu hubungan pertemanan kami tidak terlalu dekat, hanya sebatas teman sekelas yang saling mengenal satu sama lain. Dan sampai sekarang aku juga tak dapat mengingat secara persis bagaimana pertama kali aku bisa menyukainya, yang pasti pada waktu kelas 3 SMP kami sempat menjalin hubungan “keong” walaupun singkat. Cara berpacaran kami saat itu sebenarnya berjalan sangat normal, kami hanya bertemu di sekolah dan saling ngobrol sepulang sekolah. Setelah itu? Setelah pulang sekolah tak ada kontak lagi. Kami hanya berkomunikasi saat di sekolah saja, lumrah pada anak sekolahan masa itu mengingat harga pulsa masih sangat mahal sehingga alasan “tak ada pulsa” masih menjadi alasan yang sangat masuk akal. Media komunikasi via telfon hanya bisa dilakukan dari telfon rumah yang biasanya mengakibatkan orang tua marah karna tagihan telfon yang membengkak. Cara pacaran “keong” kami waktu itu mungkin adalah cara pacaran yang sangat dirindukan oleh orang kebanyakan saat ini, masa dimana bertatap muka adalah waktu yang sangat berkualitas dibandingkan mengobrol melalui media sosial. The precious moment is where i could meet you personally like how i stare at the moon everynight, Kirana.

Seminggu lalu, tepat di Sabtu malam saat aku baru saja pulang ke rumah tiba tiba saja aku mendapatkan kabar dari Kirana. Memang bukan kabar secara langsung tapi cukup membuatkan perasaanku sedikit tak karuan, sebelum akhirnya dia lebih dulu mengontakku melalui Path. “Siapa sih yang bisa ngelupain orang seganteng aku”, gumamku dalam hati – hahahaa! Dan akhirnya aku memutuskan untuk menanyakan salah satu media sosial dia, hanya untuk sekedar chatting dan menanyakan kabar karna bisa dibilang kami sudah tidak bertemu hampir sepuluh tahun. Sepuluh tahun lost contact tanpa obrolan dan bertatap muka satu sama lain. Obrolan kami berlangsung menyenangkan walaupun kaku satu sama lain, hanya obrolan basa basi seputar “how’s life? How’s your job? And how about love?”. Dan kemudian pertanyaan pamungkas keluar dari kepalaku dan tampa sadar menggerakan jempolku untuk mengetik kata kata..

 "Still with your boy? Hahahaa!

Oh no! I’m single now... emm we’re broke up eight months ago... hehee...”, jawab Kirana tanpa emoticon melalui chatnya.

Sounds good (dalam hati). Eh, gimana kalo kita jalan jalan?” Tanyaku kembali.

Obrolan basa basi yang menyerempet ke modus kecil kecilan untuk mencairkan suasana, hingga akhirnya menghasilkan janji temu minggu depan, tepat di saat dia mudik untuk mengunjungi keluarganya.

******
                
         “Hai apa kabar?” adalah kata kata yang sudah kupersiapkan ketika kembali bertatap muka dengannya secara langsung. Hatiku cukup berdetak tak karuan ketika ingin bertemu dengannya, padahal ini bukan ajakan kencan pada umumnya. Ini hanya acara pertemuan biasa setelah sekian lama tak bertemu dan melakukan obrolan yang berkualitas. Tapi apa  mungkin bisa terjadi obrolan yang berkualitas? Arggghh!! Bagaimana mungkin penakluk wanita sepertiku malah kehilangan kata kata di saat seperti ini. “Kenapa malah aku nervous seperti ini?”, kata kata seperti ini terus terulang di dalam kepalaku seperti pita kaset yang rusak. Saat itu aku memilih mengenakan setelan kemeja dengan sepatu chuka kulit yang telah kubersihkan hingga mengkilat, cukup rapi tapi aku tak ingin terlihat terlalu rapi maka dari itu aku dengan segaja tak mencukur kumisku yang berantakan. Aku terus menanamkan pada diriku sendiri, “ini bukan date, ini hanya pertemuan antara teman lama. Ini bukan date. Ini bukaaaan date!”, kata kata itu terus kuulang dalam otakku seperti lagi hancur hatiku, Olga Syahputra. Namun sepertinya usaha itu agak percuma, karna sepanjang jalan menuju rumah Kirana aku terus berbicara sendiri, hanya untuk membayangkan obrolan seperti apa yang akan terjadi nanti. Jika Kirana berbicara A maka aku harus menjawab B, jika aku bicara B tapi dia malah menjawab A, jadi aku harus menjawab apa? Ah shit, lagi lagi aku dibuat bingung oleh diriku sendiri – hahahaa!
                
            Kirana mengenakan kaos berwana putih depan padanan jeans dan kardigan tipis berwarna hijau, flat shoes berpita berwana hitam pun melengkapi penampilan santai memukaunya malam itu. Gaya rambutnya tetap pendek tak ada perubahan sejak dulu, kulitnya tetap putih dan wajahnya tetap menggemaskan seperti bakpau. Yang berubah hanya dia sekarang sedikit lebih tinggi dari dulu dan penampilannya sekarang jauh lebih bergaya. Itu bukan hal aneh karna setiap orang pasti bertumbuh baik itu secara fisik maupun secara pemikiran, seperti halnya aku pun yang makin ganteng setiap tahunnya. Aku terpana sepersekian detik melihat penampilan cantik Kirana, aura yang dia pancarkan tetap tak berubah, tetap tak bisa diungkapkan dengan kata kata dan tetap menusuk seperti paku. Saat ini auranya beradu dengan sinar yang dipancarkan oleh bulan sabit diatas langit malam.
                
        “Alee apa kabar?” Kata kata pertama yang keluar dari mulut Kirana di dalam mobil. Nada suaranya tak berubah tetap flat dan cempreng, seperti tikus terjebak dalam lengketnya lem. Oiya sempat lupa, namaku Ale. Nama yang pas untuk orang ganteng – hahahaa!
                
         “Baik, kamu apa kabar?” Tanyaku kembali yang dijawab dengan anggukan kepala manis dari Kirana.
                
           Semua pertanyaan yang tadinya sudah kupersiapkan semuanya buyar tak berbekas. Aku kehilangan kata kata, mungkin inilah kali pertama sejak lima tahun aku kehilangan kata kata dihadapan wanita. Speak speak iblisku mandek mampet ide hingga inspirasi, bakat gombal tingkat dewa hilang seperti dihisap vacum cleaner dan entah kenapa tingkat percaya diri level 10 seperti runtuh hancur berantakan. Aku lebih memilih diam dengan memainkan radio seolah sedang mencari frekuensi yang tepat, Kirana juga hanya diam dengan sedikit tersenyum sepertinya dia juga salah tingkah seperti diriku. Tiba tiba tanganku berenti pada salah satu frekuensi radio, bukan radio favoritku namun saat itu kebetulan sedang memutar playlist lagu secara random. Lagu yang diputar adalah “Stuck on The Puzzle” dari Alex Turner, lagu yang sebenarnya menurutku tak dinyanyikan dengan cukup baik namun memiliki lirik yang indah. Lagu yang menceritakan tentang stars, moon, night and love.
                
         “Laguuu ini kereeen, aku mau nyanyi ya boleh?”, ujar Kirana girang mendengar lagu yang baru saja diputar dari radio.
                
              “Jangaaaaan, mending di dengerin aja lagunya!” Jawabku dengan bercanda.
                
              “Argghhh sial! Suara aku sekarang udah bagus tau!”
               
               “Kamu ikutan les vokal emang di sana?”
                
              “Sial lo. Siaaaaal!”
                
              “Tapi suka kan? Hahahaa! Jawabku dengan penuh suka cita.
                
              Kirana terdiam sejenak, bibirnya bergerak bernyanyi kecil mengikuti alunan lagu yang disajikan oleh Alex Turner melalui radio. Dia sangat menikmati nada demi dana yang mengalun merdu dari musik mendayu dan suara Alex Turner yang sangat Britpop. Lagu yang bagus dengan wanita yang tepat pada waktu yang telah siap.
                
              “Eh nonton yuk, film The Conjuring mau gak?” Tanyaku pada Kirana.
                
       “Itu horor kan? Aku penasaran sih tapi kamu kan tau aku penakut hahahaa!”
           
           “Yaudah sih, sama aku ini kan lagian filmnya biasa aja kok.” Jawabku dengan penuh rasa percaya diri, karna sebenarnya aku telah menonton film ini sebelumnya.
          
        “I have been searching from the bottom to the top... As the one I caught when I saw your... Fingers dim in the light. Like you’re used to being told that you’re....”     

Suara Alex Turner yang mendayu saat menyanyikan lagu Stuck On The Puzzle mengiri awal pertemuan aku dan Kirana setelah sepuluh tahun tak berjumpa walaupun awal pertemuan ini dimulai dengan menonton film horor. Memang bukan pilihan tepat namun sangat cocok dengan situasi saat ini, mengingat dulu sekali saat masih bersama kami hanya menghabiskan waktu bertemu di sekolah tanpa pernah jalan jalan seperti pasangan pada umumnya. Dan bisa dibilang ini adalah kali pertama, aku dan Kirana menghabiskan waktu berdua saja untuk menonton film di bioskop. Dalam perjalanan aku dan dia berbicara obrolan yang menarik dan sesekali saling mengingatkan dengan bagaimana kisah kami dulu saat masih menjalin hubungan “keong”, jarang bertemu namun memulai dengan obrolan basa basi namun berkualitas. Iringan lagu Stuck on The Puzzle memulai pembicaraan kami di malam itu, malam dimana bulan tunggal diatas langit bertemu dengan saingannya yang tak kalah memcarkan sinar yang indah. Bait demi bait mengalun cocok dengan keadaan dan suasana yang terbentuk malam ini.

*****

Pertemuan setelah sepuluh tahun hanya terbayar singkat dan juga cukup membuat aku tak mengerti. Ternyata perasaan itu rumit, bagaimana bisa hanya pertemuan yang kurang dari seminggu bisa kembali menumbuhkan perasaan suka. Kedekatan kami yang cukup intens cukup membuat perasaanku mendayu dayu, aku terbawa suasana kepada wanita pertama yang tangannya ku genggam (selain wanita yang ada dalam keluargaku). Aku terjebak dengan wanita yang pertama kali kucium keningnya, ciuman kening yang tulus tanda kasih sayang cinta semasa “keong”. Tapi kali ini tanpaknya bukan rasa suka biasa, mungkin lebih tepat jika kunamakan sayang. Tapi apa benar rasa sayang tiba tiba saja muncul atau ini cuma karna pengaruh hubungan “keong”.

Usiaku yang telah 26 tahun sudah bukan waktunya lagi untuk menjalin cinta asal asalan seperti cerita Catatan si Boy. “Oh God, why I love her again?” sebenarnya simple namun cukup rumit. Selain karna domisili kami yang berbeda, aku juga merasa takut untuk kehilangan perasaan seperti ini, aku ragu apakah ini tulus muncul dari dalam jiwaku atau ini hanya perasaan sesaat karna pengaruh bulan. Besok Kirana akan segera kembali ke kotanya dan aku tak tau kapan kami bisa bertemu kembali, urusan pekerjaan dan lingkungan bisa saja membuat kami kehilangan satu sama lain (lagi). Aku sayang padanya dan aku pun yakin dia merasakan hal yang sama.  Ada magnet yang sangat kuat yang seakan menarik tubuhku, ini kali pertama aku kehilangan ketegasanku dalam menghadapi wanita. Ternyata aku tak se- pede itu, aku juga memiliki rasa gugup. Dan bagaimana dengan Kirana? Aku dapat melihat dari dalam matanya hal yang sama, semoga saja itu bukan pengaruh bulan. Aku mulai berpikir bahwa aku harus “doing something”, aku harus mengambil peluang yang ada untuk mengurangi resiko.


Bersambung dulu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar