Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 20 September 2013

Kemarin dan Wanita Sempurna



        Kemarin adalah kemarin sedangkan hari ini adalah sebuah kenyataan yang sedang terjadi. Siang ini matahari menyinari dunia dengan sangat semangat, teriknya begitu menyengat membuat hati dan perasaan menjadi tak menentu. Siang hari ini semuanya tampak begitu asing, burung yang berterbangan, dahan yang tertiup sepoi angin, bahkan kendaraan yang berjalan tak ada yang sama dengan kemarin. Perlahan aku mencoba membuka mata melihat apa yang terjadi hari ini namun terik matahari membuatku takut untuk melangkah menikmati indahnya hari. 

     Terik siang benar benar mengingatkanku bagaimana kejadian indah hari kemarin. Sebuah hal yang menyakitkan ketika bagaimana baru saja aku kehilangan seorang wanita yang menurutku sangat sempurna. Seorang gadis yang tak begitu cantik, bermata sipit, bertubuh kurus dengan dada rata yang tak terlihat menonjol, dan rambut panjang padat ketinggalan jaman khas tahun 90an. Tidak cantik bahkan banyak orang mengatakan tak menarik tapi dialah wanita yang sempurna bagiku, dialah wanita yang aku yakini sebagai partner tepat seumur hidup. Lain kemarin lain sekarang, dia menghilang, dia menjauh dariku, dia pergi tanpa alasan. Tak ada pertengkaran hebat sebelumnya bahkan hanya menunjukan emosi pun kami tak pernah melakukannya. Hubungan kami berjalan dengan teratur dan menyenangkan, senyum dan melihat bintang di langit selalu menyelimuti hari bahagia kami tiap malam. Memang tidak tiap malam tapi kurasa hampir tiap saat kami selalu memandangi langit untuk mencari bintang yang bersinar paling terang.
      
      Bintang berganti langit, malam dingin berganti siang yang terik. Siklus hidup selalu datang menghampiri tiap kegiatan dan perilaku manusia, tak ada hal yang selalu indah, tak semua hal yang kita inginkan pasti mulus tercapai. Semuanya terjadi tanpa di prediksi seperti siang yang tak selalu terik dan bintang yang mungkin bosan menemani malam. Dia, wanita yang sempurna itu, mungkin telah jauh meninggalkanku tanpa sepatah katapun hanya senyuman tanda perpisahan mengiri kepergiannya. Awalnya aku tak mengerti maksud senyuman itu namun sebuah senyum bukan hanya simbol kebahagiaan, itu dapat berarti banyak hal. Dalam kasus ini, berarti tak ada lagi menghitung bintang, tak ada lagi bintang terang bersinar, tak ada lagi kecupan kening mesra dan tak ada lagi senyum murni tanda kebahagiaan.
                
        “Hari ini adalah hari yang sangat buruk bagiku,” aku berkata pada seorang bartender sebuah bar, dimana bar ini adalah tempat pertama kali aku bertemu dengan wanitaku di hari ketigapuluh penghujung bulan September tahun lalu.




                
           “Wiski Cutty Sark?”, Ujar pelayan itu dengan menuangkan wiski ke gelas.
                
          “Tidak, tidak sekarang, aku sedang tidak ingin.”
                
          “Free, aku traktir khusus hari ini.”
                
       Bartender meletakan segelas wiski dihadapanku, dengan penuh senyum ceria dia mendekat kearahku seperti tertarik dengan apa yang aku alami hari ini.
                
           “Ada apa denganmu?”
                
           “Dia meninggalkanku.”
                
           “Siapa? Wanitamu?”
                
           “Ya wanitaku, wanita yang sering kuajak kemari.”
                
           “Begitukah? Bagaimana bisa?”
                
      “Aku juga tak mengerti, dia pergi meninggalkanku tadi saat siang terik melanda. Aku tak tau alasannya, sesaat aku tak yakin bahwa itu dirinya namun kenyataannya itu adalah dia. Aku seperti tak mengenalnya tapi benar, dia wanitaku!”
                
         Padahal kemarin malam aku masih bertemu dengannya, melihat sinar bintang bersamanya dan masih saling beradu kecupan di malam yang terang. Dia juga masih tersenyum kepadaku walaupun dengan wajah datar karna rasa letih, tiap detik aku melihat wajahnya tiap detik pula lah aku yakin bahwa dialah wanita sempurna untukku. Aku telah menyimpan namanya di dalam lubuk hatiku, aku telah meyakinkan diriku akan perjalan cinta yang selama ini aku cari. Aku mengecup keningnya sebelum dia pergi kembali pulang kerumah.
                
        Pagi ini, ketika membuka mata segera rasa rindu menyelimuti pikiranku padahal baru saja kemarin malam aku bertemu dengannya. Cinta memang gila, cinta membutakan pikiran rasionalku seperti jam antik yang dijual mahal di pelelangan, tak masuk akal tapi sangat berharga. Tak pernah aku merasa serindu ini dengan seseorang bahkan dengan keluargaku sendiri. Aku menghubunginya namun tak ada jawaban, beberapa kali aku mencoba untuk menelfonnya tapi sepertinya sia sia bahkan saat panggilan kelima tiba tiba saja handphonenya tidak aktif.
                
        Akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya dan sekedar memberikannya surprise kecil beruba cincin murah yang kubeli di pusat pertokoan tengah kota. Wanitaku bekerja sebagai seorang kasir di sebuah toko buku kecil di pusat pertokoan itu, dia adalah seorang pegawai teladan jadi pada jam jam kantor seperti ini dia biasanya berdiri manis melayani pengunjung yang membeli buku. Namun tak seperti biasanya, siang ini toko buku sangat ramai dengan pengunjung yang hampir memenuhi seluruh isi toko. Aku tak perduli dengan keadaan toko, aku hanya fokus mencari keberadaan wanitaku, pikiranku pun hanya fokus menyusun kalimat apa yang harus aku ucapkan ketika bertemu dengannya. Hampir lima belas menit aku mencari keberadaannya namun sama sekali aku tak melihat dirinya, sampai akhirnya aku melihatnya berjalan santai dengan membawa sekeranjang buku yang sepertinya akan dipajang di rak.
                
          “Hai, tidak jaga kasir?”
                
          “Tidak, ada perlu apa?” Tanya wanitaku tanpa sedikitpun menoleh.
                
        “Hanya ingin menemuimu dan memberikanmu ini.” Dengan perlahan aku menyodorkan sebuah kado kecil berisi cincin kepadanya.
                
           “Apa maksudmu?” Akhirnya dia menoleh kearahku.
                
          Aku bingung melihat tindakannya, mungkin dia sedang bercanda kepadaku tapi yang kurasakan hanya sebuah ekspresi defensif yang sangat serius. Dia menatapku seperti menatap orang asing yang sedang mengancam keselamatan jiwanya.
                
           “Aku kekasihmu.”
                
           “Kau? Aku bahkan tak mengenalmu!”
                
          “Jangan bercanda, ini tidak lucu!” Ujarku dengan sedikit emosi, inilah kali pertama aku tak dapat menahan emosiku terhadapnya.
                
         “Kau yang jangan bercanda. Jika memang tak ada yang bisa kubantu, lebih baik kau menyingkir, Tuan.”
                
     Seperti lonceng gereja yang jatuh, aku merasakan pikiran rasionalku mulai pergi meninggalkanku, menghilang kedalam sebuah vacum cleaner raksasa. Disaat aku mencoba tetap bertahan di hari yang terik ini, hal aneh lain kemudian kembali menghantamku. Seorang pria muda, tampan dengan dandanan rapi nan gagah datang menghampiri kami, dia menyadari keributan kecil yang kami timbulkan.
                
          “Ada apa ini?” Ujar pria itu.
                
       “Tidak ada apa apa..” Jawab wanitaku yang dibalas rangkulan mesra pria asing itu, kemudian ciuman mesra diarahkan pria itu ke bibir wanitaku yang dibalas dengan sangat mesra olehnya. Aku bingung. Aku tak percaya. Serasa ditembak tepat dikepala berkali kali.
                 
           “Aku tak apa apa sayang, dia hanya pria asing yang sedikit gila.”
                
          Setelah ditembak tepat dikepala, aku langsung double combo seperti terkena serangan jantung mendadak mendengar ucapannya barusan. Tak percaya, dan aku merasa tak lagi seperti manusia seutuhnya. Bayang bayang muncul menghantui isi kepalaku, tiba tiba saja aku merindukan kemarin saat kami berdua masih tersenyum melihat bintang. Duniaku berputar terbalik, aku seperti berada di planet lain dimana aku sendiri tidak mengenal diriku sendiri. Otakku hanya flashback kejadian kemarin, kemarin dan kemarin.
                                                                                                
                                                                                    ****

       “Sangat menyedihkan..” Ujar bartender seraya kembali menuangkan segelas Wiski Cutty Sark kepadaku.
                
          Suasana bar menjadi sangat tenang entah karna memang sedang sepi, karna suasana hatiku yang gundah atau mungkin karna aku yang sudah sedikit mabuk, aku sudah tak peduli sekitarku. Dalam benak dan pikiranku hanya satu hal yang kuinginkan, aku hanya ingin hari kemarin mengulang kembali, hari dimana terakhir kalinya aku menatap wajah syahdu wanitaku, hari dimana aku masih menatap bintang bersinar bersamanya.
                
          “Jelas kemarin jauh lebih baik dari hari ini, jika bisa aku ingin bersembunyi untuk hari ini. Aku tidak percaya dengan hari ini, aku ingin kembali kehari kemarin.”
                
          “Apa yang akan kau lakukan jika diberi kesempatan itu?”
                
     Suasana mendadak menjadi melow ketika secara random bar memutarkan lagu Yesterday dari The Beatles. Lantunan nada petikan gitar John Lennon segera menggema seluruh isi ruangan, kemudian dilanjutkan dengan syahdu suara Paul McCartney yang serasa mengiris jantungku menjadi keping - keping kecil.
                
               Why she had to go
I don't know, she wouldn't say
I said something wrong
Now I long for yesterday

Yesterday love was such an easy game to play
Now I need a place to hide away
Oh, I believe in yesterday

......
                
           “Kau sudah tau akhirnya berakhir seperti ini, percuma saja kan?”
                
           “Aku tetap yakin dia adalah wanita yang sempurna untukku.”
                 
        Setelah mengatakan itu, aku merasa semua hal seperti berbalik kepadaku. Semua seolah berjalan maju mundur melawan kehendak, kepalaku pusing tak menentu tapi kurasa ini karna aku telah mabuk parah. Sekitarku bergerak begitu cepat, semua seolah kompak berjalan mundur melebihi kecepatan cahaya. Dalam hitungan detik aku seperti merasa berputar dan terhisap kedalam kloset yang sangat besar, sekuat tenaga aku mencoba melawan tapi sekuat itulah aku merasa tak dapat melakukan apapun. Aku teringat dengan senyum licik bartender yang terus menawariku minuman, senyuman sombong penuh tipu muslihat.
                
       Dalam hitungan ketiga tiba tiba saja aku tersadar, aku melihat sekeliling semuanya tampak sama tapi tak 100% persis dengan sebelumnya. Bartender pria yang tadi melayaniku berganti dengan wanita yang terus menunjukan gestur genit menggoda, bajuku pun tiba tiba saja tak sama dengan apa yang aku kenakan tadi. Aku melihat kalender digital di jam tanganku, angka angka digital di jam tanganku memberitahukan bahwa sekrang tanggal 30 bulan 9, tepat setahun yang lalu. Sontak segera aku melihat kearah pintu kaca bar yang masih tertutup rapat kemudian dari kejauhan aku melihat sesosok wanita kurus dengan muka pucat tampaknya setengah mabuk datang mendekati bar. Rambut padat mengembang khas 90an miliknya terlebih dahulu masuk seakan mencuri finish kedalam bar namun tak seorang pun memperhatikan kehadirannya.

Secara fisik memang dia bukan wanita menarik bagi sebagian orang, tapi tak tau mengapa aku tetap bergetar ketika melihatnya melangkah, sejenak aku kembali yakin dia adalah wanitaku. Jika benar ini bukan halusinasi karna mabuk, artinya aku diberikan kesempatan kedua untuk kembali jatuh cinta kepadanya, untuk merubah akhir yang telah terjadi hari kemarin. Apakah aku harus tetap mendekatinya atau aku harus mengantisipasi akan kehadirannya, keyakinanku mulai goyah seiring dilema yang datang menyerbu seperti denting alarm bergema di pagi buta.

                                                                                                
                                                                                      ******


Inspirasi: Yesterday by The Beatles (Album Help! 1965)

Selasa, 10 September 2013

Mystery of The Knight





           Situasi makin genting ditengah tekanan hebat Interpol Internasional yang mengejarnya. Tragedi berbau konspirasi juga secara langsung ikut memaksa seluruh polisi di Prancis mencari dan memasukannya kedalam daftar buronan. Saat kebingungan melanda karna fakta aneh terus bermunculan, Henry harus menentukan pilihan yang tepat nan cepat, di depan salah satu orang yang diyakini keturunan langsung Knights Templar, ksatia paling ditakuti pada masa Perang Salib (awal abad 11 – akhir abad 13) yang juga biasa disebut Crusade. Selain pahlawan perang dalam sejarah, Knights Templar juga mempunyai tugas mulia untuk menjaga rahasia lokasi disimpannya cawan suci oleh leluhurnya sejak ratusan tahun lamanya. Hitam putih antara logika, kebenaran dan agama bercampur menjadi satu dalam kepala Henry sebagai seorang detektif terkenal di Los Angeles yang berjuang hingga meuju Tolouse, Prancis.



       Penyelidikan dilakukan dari informasi yang ia dapatkan, mengantarkannya bertemu dengan Fabian Patrick, seorang pelukis terkenal yang karyanya selalu bercirikhas objek manusia sebagai tokoh utama tiap lukisan. Pelukis nyentrik penuh dengan kontroversial dan dari info yang diselidiki menjadikan sosok pelukis 62 tahun ini makin diselimuti fakta latar belakang cukup aneh. Informasi gereja tua di kota Tolouse menggiring Henry menenumui pria yang menurut media internasional adalah, jenius yang mendapat gelar Professor Seni kehormatan dari Yale University dan juga sosok yang fasih tujuh bahasa asing. Namun kejutan lain yang menambah kontroversi professor ini adalah silsilahnya yang diyakini  sebagai keturunan langsung Hugues de Payens, pendiri Knights Templar. Gereja percaya kakek buyut Fabian Patrick  pemegang kunci terakhir mengenai rahasia cawan suci, yang cukup beruntung dapat melarikan diri saat puncak pembantaian besar-besaran terhadap para Templar dilakukan oleh penyelidikan Roma dengan berbagai tuduhan mulai dari perilaku seks menyimpang hingga pemujaan terhadap Baphomet. Dan hingga saat ini hari penangkapan para Templar yang jatuh di hari Jumat tanggal 13 dianggap sebagai hari sial di dunia Barat. Tahun demi tahun berlalu, sampai kini 2015 adalah tahun dimana rahasia itu dijaga oleh Prof. Fabian Patrick.

       “Apa yang membawa detektif terkenal sepertimu singgah di rumahku?” Ujar Prof. Fabian dengan nada bicara sopan seraya memberikan segelas wine merah yang nampak mahal dari gelas perak berkilauan.

           “ Tidak usah basa basi, Prof..”

         Prof. Fabian tersenyum kecil melihat ekspresi Henry yang menunjukan kekhawatiran dan sedikit tidak tenang, ekspresi wajahnya menunjukan dia sedang tidak dalam kondisi fit untuk berbedabat panjang. Prof. Fabian lalu meletakkan gelas wine tersebut diatas meja disebelah tempat duduk Henry.

           “Kau pasti menonton televisi prof, kenapa kau masih setenang ini melihatku?”

          “Selain pelukis, aku juga ahli membaca ekspresi. Membedakan jujur dan bohong ibarat menyalakan lampu bagiku – hahaha!”

          Henry menatap Professor Fabian dengan pandangan yang sangat gusar, dia mengambil nafas panjang yang dalam sebelum akhirnya meminum wine yang diberikan oleh Professor sampai habis.

           “Aku dijebak.. Biarawan Sion menjebakku..”

           “Biarawan Sion?” Professor mengulangi ucapan Henry dengan bingung.




        “Ya.. Biarawan Sion Kabbalah, tak usah pura pura bingung prof. Aku tau kau tau banyak, aku butuh kejelasan saat ini!”

             “Ordo hijau, ordo kuning dan ordo putih? Kukira itu hanya omong kosong.”

             “Sudahlah Prof, tak usah menyangkal lagi. Aku sudah tau semuanya..”

             “Tau? Apa maksudmu?” Jawab Prof. Fabian.

           “Kau.. Keturunan langsung Knights Templar. Kau menyimpan rahasia besar dan aku sudah terjebak dalam masalah ini.”

           Prof. Fabian tersenyum lebar kepada Henry yang disambut dengan ekspresi makin tak menentu yang terpancar dari aura wajahnya. Senyuman pak tua ini sangat penuh arti dan sangat mencemooh harga diri Henry sebagai detektif penerima Badge of Honor dari kepolisian Los Angeles, atas jasanya menangkap bandar narkoba terkenal, Mickey Cohen.

           “Biarawan Sion sudah tak ada Henry... Mungkin masih ada tapi hanya dalam skala kecil tak mungkin jika mereka bisa melakukan dampak sebesar ini. Lagi pula apa tujuan mereka menjebakmu?”

          “Russel Brown lewat pesuruhnya menyewaku secara pribadi untuk menemukan cawan suci.”

          “Russel Brown? Direktur FedEx?”

           Henry mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Prof. Fabian. 

          “Ceritakan semuanya, aku ingin tau.” Ujar Prof. Fabian penasaran.

         “Aku perlu uang, kau tau, aku perlu uang. Anakku terjangkit AIDS karna jarum suntik narkoba dan aku perlu uang untuk menyembuhkannya. Russel menjanjikan kesembuhan anakku jika aku mampu mencari cawan suci. Aku Badge of Honor, aku bukan polisi bagian kriminal biasa. Aku detektif profesional tapi kasus ini ternyata diluar jangkauanku.”

         “Rupanya kau tak tau sedang bermain dengan apa.”

        “Aku terlalu ceroboh. Saat menuju katedral, seseorang tiba tiba saja menyerangku tapi aku berhasil menembaknya dengan tepat di kepala. Namun ternyata ketika aku cek itu adalah Philip Fatalis, ketua CIA. Dan entah bagaimana di situ sudah ada CNN, aku dijebak.”

     Prof. Fabian mengangguk tanda mengerti dengan pernyataan Henry. Dia kembali menuangkan segelas wine lagi lalu memberikannya kepada Henry.

        “Tapi di katedral aku mendapat info lain, aku segera menuju ke gereja kristen di pinggir kota Tolouse. Gereja yang kabarnya didirikan oleh Maria Magdalena saat usahanya kabur dan di sana... Di sana disimpan manuskrip Gnostik yang berhubungan dengan kau!” Nada suara Henry mulai meninggi, emosi kembali mulai menyelimuti isi kepalanya.

         “Ordo putih...”

         “Apa maksudmu?” Tanya Henry dengan wajah bingung. 

   “Ordo Putih ini lebih menekankan misi politik dan kekuasaan. Merekalah yang merumuskan bahwa tujuan akhir Kabbalis adalah untuk membentuk "Satu Pemerintahan Dunia".

        “Aha! Sudah kuduga kau tau satu hal! Feelingku tak pernah salah!”

       Bak habis memenangi emas olimpiade, Henry langsung beranjak dari tempat duduknya. Dengan penuh semangat dia berbicara lantang dan sejenak seperti melupakan masalah yang sedang menderanya.

     “Benar, kami sebagai Knights Templar melindungi rahasia Holy Grail sejak dulu atau yang biasa disebut cawan suci.”

      Mendengar perkataan itu, Henry langsung bersikap reaktif. Dia segera menarik kerah baju Prof. Fabian dan dengan penuh emosi langsung mendekatkan wajahnya yang penuh kemarahan.

        “Hanya karna mencarimu aku terlibat dalam masalah seperti ini!”

        “Tenang Henry, tenang!” 

         Keduanya saling adu volume suara seperti berlomba siapa yang sanggup menjadi simba dalam hutan. Ketegangan mulai mereda setelah akhirnya Prof. Fabian berhasil menenangkan Henry dengan sikapnya yang penuh ketegasan.

        “Jadi.. benar kan kau keturunan langsung Knights Templar?”

        “Ya.. Bisa dibilang seperti itu.”

        “Aku lelah dengan semua ini, cepat kau jelaskan dimana makam Maria Magdalena?”

       “Tunggu.. Apa maksudmu?”

       “Kau masih mau mengelak? Aku tau cawan suci itu hanya kiasan, tak pernah ada cawan suci. Lukisan perjamuan terakhir telah mejelaskan segalanya!”

        “Tenang Henry, tenang...”

      Henry menarik nafas dalam guna menahan kemarahannya, dia kembali memberikan kesempatan pada Prof. Henry untuk melanjutkan perkataannya.

        “Memang benar itu lukisan yang indah dari Da Vinci, terima kasih padamu karna secara tak langsung memuji lukisan itu. Tapi hipotesismu hanya bernilai nol, nol besar. Kau terlalu terpengaruh dengan meledaknya buku Dan Brown. Hah, Dan Brown..”

      Kembali nada mengejek keluar dari dinamika suara pak tua yang jenius ini. Dia sepertinya mengetahui segalanya, bahkan dia terlihat seperti saksi sejarah.

         “Jelaskan padaku... Jelaskan...” Ucap Henry pasrah.

        “Tahun 2013 lalu, ada sebuah pameran arkeologi yang cukup heboh "Dig for Germania Archaeology under the Swastika" di Bremen, Jerman. Di sini diceritakan bagaimana kepala SS (Schutzstaffel, satuan pengaman pribadi Hitler) Heinrich Himmler diduga mengunjungi Spanyol saat perang karena ia percaya cawan itu ada di Montserrat Abbey dekat Barcelona. Dia percaya jika menemukan cawan suci akan membantu Jerman memenangkan perang dan memberinya kekuatan supranatural. Namun regu SS ini sia-sia tidak menemukan apa yang mereka cari. Anggaran SS untuk proyek-proyek seperti ini begitu besar, bagi Nazi temuan itu dimaksudkan untuk menulis ulang sejarahnya yang membuktikan Jerman adalah ras terbesar dalam sejarah.”
          
           "Buat apa nazi melakukan itu?"

      "Agar sejarah menuliskan Yesus memliki keturunan ras bangsa aria."

         “Apa maksud kekuatan mistis? Seperti apa?”

           “Tak tau pasti, dari kabar yang kudengar dapat membuat hidup abadi.”

           “Tak tau pasti? Bagaimana bisa kau tak tau pasti?! Kau penjaga cawan. Dan jika berita itu benar, kakekmu berarti berhasil menyembunyikan rahasia cawan itu dari Nazi.”

           “Cawan tak terlalu penting, itu hanya benda biasa bahkan fisiknya sama sekali tak terlihat seperti barang antik yang berharga milyaran euro. 'Sesuatu' dari cawan itulah yang berharga. Saksi bisu penyaliban Messiah.”

           “'Sesuatu’?” 

       “Akan aku jelaskan karna kau telah tau sejauh ini. 'Sesuatu' dari Cawan Suci adalah darah Yesus Kristus, yang dimana menurut kepercayaan pagan Yahudi, siapapun yang mendapatkannya akan panjang umur, kaya raya, berpengaruh dan memiliki kekuasaan di dunia ini.”

          “Kau menjaga benda seperti itu?”

          “Ya, benar.”

          “Diimana benda itu?”

          “Di sini, dirumah ini.”

          “Bagaimana leluhurmu bisa lolos dari pencarian Nazi? Bahkan pembantaian Roma?” Dia mencoba memecahkan keping keping dari apa yang baru saja di keluar dari ucapan Prof. Fabian.

          “Menyatu dengan alam..”

          Henry mencoba menelaah ucapan Prof. Fabian dengan seksama namun tak tau kenapa kepalanya serasa sangat lelah dan pusing tiba tiba menyerang kepalanya. Dengan sisa kekuatan dia terus mencoba untuk tetap mengikuti penjelasan Prof. Fabian.

       “Aku akan menjelaskan padamu semuanya. Benar, cawan dan darah itu memberikan keabadian tapi... Tapi kedua hal ini mutualisme, jika kau meminum darah itu tanpa cawan yang tepat maka kau akan mati begitu pula sebaliknya.”

         “A... apa yang tadi kau maksud menyatu de.. dengan alam?” Ujar Henry seraya memegang dada nya yang mendadak sakit.

        “Sudahlah, Detektif Henry tak usah dipaksakan lagi. Kau sepertinya sudah tak berdaya sekarang. Kau terlihat lemah seperti kakek kakek tak berdaya.”

    Mendengar ucapan itu seketika membuat Henry segera memeriksa kedua tangannya, hanya untuk memastikan apa yang terjadi kepadanya. Dan apa yang dia lihat sangat membuatnya terkejut kaget bukan kepalang. Kedua tangannya telah mengeriput lalu seketika dia mengecek kulit wajahnya yang ternyata juga telah ikut mengeriput. Dia merasa seperi sudah berumur 70 tahun yang tak berdaya untuk terus berpikir dengan keras.

          “A.. Apa.. Yang terjadi padaku...?”

        “Russel Brown penghianat ordo, dia akan melakukan kudeta. Sedangkan kau adalah orang asing yang sudah terlalu banyak ikut campur hingga sejauh ini. Kulitmu itu adalah efek dari darah Yesus jika diminum di cawan yang salah.”

        Dengan segera Henry dengan sisa kekuatannya mengecek kearah gelas wine yang tadi dia minum dengan terburu buru. Seketika dia segera menyadari tentang semuanya, tentang semua hal yang dia lakukan. Tentang anaknya, tentang cawan suci dan tentang orang tua jenius nan eksentrik.

          “Siapa kau...?” Tanya Henry dengan suara serak tak berdaya.

          “Seorang pelukis.”

         “Tidak. Kau lebih dari sekedar itu...”

        “Wow? Kau telah menyadari sesuatu rupanya, Badge of Honor ternyata memang hebat. Tidak ada seorang pun yang tau mengenai identitas asliku. Tapi khusus untukmu akan aku beritahu.”

         Henry masih tetap mencoba dengan sekuat tenaga untuk tetap menyadarkan diri. Dia masih memiliki kekuatan untuk bertahan hidup.

      “Dulu.. Sekitar 70 tahun lalu orang orang memanggilku Fuhrer. Dulu sekali juga orang mengenaliku sebagai pelukis terkenal, Picaso. Namun.. Jauh sebelum itu akulah yang melukis Perjamuan Terakhir atas pesan Maria Magdalena, aku juga dikenal sebagai DaVinci. Itu semua hanya kamuflase saja.. Nama asliku adalah...

          Sebelum mendengar lanjutan perkataan Prof. Fabian tiba tiba Henry merasa  seperti memasuki sebuah tempat gelap. Pandangan dan pendengarannya bak diisap vacuum cleaner kekuatan super menuju ke tempat yang antah berantah. Badannya sakit, sakit teramat sangat. Ruh nya seperti dicabik cabik karna dipaksa keluar menuju dunia nyata. Tubuhnya telah menjadi lemah, fisiknya tampak seperti seorang yang telah berumur 90 tahun. Dalam hitungan detik tubuhnya melemah, detak jantungnya tak berdaya lalu kemudian berhenti seutuhnya.

         Dengan tenang Prof. Fabian melihat pergerakan Henry yang sudah nampak tua dan tak berdaya. Dia tersenyum penuh kemenangan sembari meminum seteguk wine dari sebuah gelas kuno yang terbuat dari kayu. Sebuah gelas yang nampak seperti cawan misteri yang kembali menjadi saksi bisu suatu hal yang cukup penting. 

        “Aku Hugues de Payens.”

Senin, 02 September 2013

You're Mine




            Malam minggu adalah malam dimana harusnya semua kesibukan yang telah dilalui selama bekerja terbayar lunas dengan hanya temu kangen kekasih hati. Bertatap muka hanya sekedar melihat bentuk wajah kekasih yang dicintai memang tak bisa ditandingi oleh apapun. Perasaan cinta yang tulus dan apa adanya adalah perasaan murni yang tak terkalahkan bahkan oleh materi yang besar. Ibarat sepasang mata yang tak pernah saling melihat satu sama lain namun dapat saling melengkapi dan merasakan keberadaan yang lainnya, jika salah satunya rusak atau hilang maka tak seimbanglah saat menatap luasnya dunia, cahaya seolah mundur perlahan karna termakan ganasnya kegelapan yang menjadi nyata. Sepasang kekasih sejati adalah sepasang bola mata yang tak akan pernah meninggalkan satu sama lain, mereka akan saling setia hingga nasib Tuhan memisahkan.

           Sebagai seorang wanita seutuhnya, aku percaya akan kisah indah negeri dongeng. Aku suka Snow White, Beauty and The Beast, Rapunzel dan Little Mermaid, intinya aku suka semua kisah indah yang disajikan oleh Disney. Aku seorang wanita kuno yang mendambakan kisah cinta klise layaknya seorang putri raja, aku menunggu pangeran berkuda putih datang menjemputku dan menyelamatkanku dari tawanan ratu iblis yang sangat jahat. Satu hal yang kuyakini, pria mana pun itu yang berhasil menaklukan hatiku adalah pria yang sangat beruntung. Aku akan menyayanginya dengan tulus, dan aku akan setia padanya layaknya kucing spinx piliharanku yang selalu menjilati kakiku ketika bangun tidur, sambutan pagi yang cukup romantis dari hewan tanpa bulu. Oh, aku tau betapa beruntungnya Mason, menjadi kekasihku dan aku yakin dia adalah pria tepat yang digariskan oleh Tuhan untuk menyelamatkanku dari tawanan ratu iblis yang sangat jahat.

      Sinar matahari yang menerangi hari sabtu ini memancarkan radiasi lembut penuh dinamika seakan membuat perasaan dan batinku menjadi jauh lebih tenang dari biasanya, benar benar weekend yang sempurna. Aku ingin merayakannya dengan Mason, agar dia tau aku mencintainya dan hanya aku wanita yang bisa memilikinya. Siang ini, Mason datang menghampiriku hanya untuk sekedar menyambut malam minggu. Aku tau dia sangat lelah sehabis bekerja, maka tak heran jika kadang ucapannya menjadi ngelantur, ada baiknya dia kubiarkan dulu untuk istirahat melepas penat. Mungkin sedikirt surprise keci, walaupun hanya sekedar makan malam romantis penuh nelangsa, bisa menjadi foreplay terbaik untuk sex yang luar biasa malam ini. Steak merupakan pilihan yang tepat untuk itu lagipula aku bisa memasak menggunakan dapur umum kostku

***



            “Hei sedang apa kau?” Tanya seorang wanita asing kepadaku.

                “Kau tak lihat? Aku sedang memasak.”

                “Begitukah?” Katanya. “Masak apa? Kelihatannya enak..”

                “Hanya steak, untuk kekasihku.”

       Aku mengeluarkan handphone dari saku celana hanya untuk menyetel musik. Aku sedikit terganggu dengan kehadiran wanita asing ini, sejenak aku hentikan dulu kegiatanku menumis bawang bombay. Kubuka music library di handphone, kulihat wanita itu masih fokus memandangi beberapa potong daging yang kuletakan disebelah penggorengan. Beberapa saat aku bingung untuk memilih pilih lagu dan secara random kupilih lagu Johnny B Goode milik Chuck Berry, dari albumnya yang sangat terkenal Chuck Berry Is On Top. “Oh, Chuck kenapa kau begitu narsis?”.

            Way down Louisiana close to New Orlean

Way back up in the woods among the evergreens

Livin’ in a cottage made of earth and wood

Lived a country boy name of Johnny B. Goode

He never ever learned to read or write so well

But he could play the guitar just like ringing a bell

Walaupun tak mengerti lagu blues klasik seperti ini tapi aku dapat menikmati setiap nada gitar yang dipilih oleh Chuck Berry. Not yang dia pilih memang jenius dan dapat membuat orang yang tak mengerti musik pun berdansa mabuk kepayang.

“Selera musikmu bagus.” Ujar wanita itu.

“Ah tidak, ini lagu favorit kekasihku.”

“Benarkah? Dia pasti seorang yang pintar, seleranya bagus.”

Aku tersipu malu mendengar ucapan wanita itu.

“Tapi sangat disayangkan Chuck Berry penyembah setan.”

“Hah? Itu Cuma gosip.”

“Dia memakan kucing.”

Rasa mual mendadak menyelimuti seluruh isi kepalaku. Sebagai seorang penyayang kucing aku tak dapat membayangkan jika benar Chuck Berry memakan seekor kucing, seumur hidup aku bersumpah tak akan lagi mendengar lagu lagu yang dia bawakan. Aku kembali tak menghiraukan wanita asing itu selain sok kenal dia juga menyebalkan karna cerita tentang Chuck Berry dan kucing barusan. Lagipula apa hubungannya makan kucing dengan penyembah setan, wanita bodoh.

“Eh ngomong ngomong itu daging yang bagus, baru dibeli?”

“Tidak juga.” Jawabku dengan ketus.

“Steak terbaik memang harus disajikan dengan daging terbaik.”

Aku mengangguk tanda setuju dengan pendapat wanita itu.

“Saus apa yang akan kau gunakan untuk steak mu?”

“Lada hitam.”

“Sebaiknya jangan campurkan banyak air, saus yang kental dapat mengurangi cita rasa daging. Apalagi daging itu sepertinya sangat bagus.”

“Bagaimana kalau steak tanpa saus?”

“Jangan bercanda, kau bukan suku pedalaman kan?” Jawab wanita itu seraya tertawa mendengar pertanyaanku.

Aku sedikit menarik kesimpulan bahwa wanita itu sedikit banyak paham tentang khasnya daging. Dan mungkin saja dia paham tentang mengolah daging yang berkualitas, sedikit percakapan mengenai hal khusus mungkin tak terlalu membosankan.

“Sepertinya kau paham tentang daging?” Tanyaku.

“Bisa dibilang begitu. Kau beruntung bertemu denganku, aku bisa memberi masukan padamu tentang memasak daging yang enak, kekasihmu pasti akan suka steak buatanmu. Aku pemakan daging – Hahhahaa dan aku telah mencoba berbagai macam daging.” Jawab wanita itu dengan penuh percaya diri.

“Seperti?”

“Seperti... Ayam, kelinci, sapi, ikan, babi..”

“Sangat biasa, tak ada yang ekstrim?”

“Tentu saja ada, kau benar benar ingin tau?"

“Ya, beritau padaku daging apa saja yang telah kau makan.” Ujarku dengan penuh penasaran.

“Aku pernah makan daging kelelawar, tikus, anjing, buaya..”

“Sangat mengejutkan. Yang mana paling enak?”

Wanita itu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, dia seperti sedang mengingat ingat daging mana yang paling enak yang pernah masuk kedalam kerongkongannya.

“Paling enak... Daging kucing yang terbaik.”

Aku terdiam kaget mendengar ucapan wanita asing itu, seketika dia hanya terdiam kemudian menjulurkan lidah untuk mengelap bibirnya agar nampak basah. Pekikan gitar dan lengkingan suara Chuck Berry membahana memenuhi seluruh isi dapur yang sangat sempit.

“Daging kucing adalah yang terbaik dari yang terbaik, memang tak seenak daging babi namun feeling ketika mengunyahnya tak dapat dilupakan. Kenikmatan orgasme pun tak sebanding dengan lembutnya daging kucing. Kucing hewan penuh mistis, memakannya pun seperti membawa hawa mistis yang pekat.”

“Mistis seperti apa?”

“Di mesir kucing dianggap dewi perlingungan dalam wujud Dewi Bast.”

“Aku pernah membaca tentang itu, makanya aku memelihara kucing..”

“Kau pernah mendengar cerita mesir kuno tentang kucing?”

“Belum, ceritakan padaku..”

“Jika kau bertemu dengan kucing yang bisa bicara, berbicara apa saja dengan kucing itu maka kau akan mengalami kebalikannya. Apa yang kau rasakan dan apa yang kau lakukan itu hanya ilusi dari kebalikan dari kenyataan. Aku makan kucing ketika sedih maka aku percaya akan senang.”

“Apa itu berhasil?” Tanyaku penasaran.

“Aku tak tau pasti, tapi kurasa berhasil.”

Aku tak sanggup lagi meneruskan pembicaraan aneh dengan wanita itu, hal basa basi tiba tiba saja menjadi serius dan mengerikan.

“Tapi aku tak pernah lihat daging yang akan kau masak, daging apa itu?” Tanya wanita asing itu.

“Bukan apa apa.”

“Apa itu wagyu?”

“Bukan.”

“Daging babi?”

“Sama sekali bukan.”

“Lantas itu daging apa?”

“Mason. Ini daging Mason.” Jawabku dengan sedikit emosi.

“Mason? Hewan apa itu?”

“Bukan hewan, dia kekasihku. Aku sangat menyayanginya dan itu adalah dagingnya.”

“Benarkah? Apa kau gila?!!”

Tiba tiba saja nyanyian Chuck Berry berhenti, sepertinya handphone mati kehabisan batre. Keadaan ini seketika membuat semuanya sunyi dan arah pembicaraan semakin serius.

“Tidak, aku tak gila. Aku mencintainya lantas apa aku salah jika aku ingin memiliki dia seutuhnya? Aku hanya ingin memakan dagingnya agar dapat bersatu seutuhnya, agar darah kami dapat menyatu. Aku miliknya dan dia hanya milikku.”

“A... Apa... yang membuatmu melakukan ini padanya?”

“Tampaknya dia sedang mabuk. Dia datang kemari tadi siang lalu meminta putus. Dia bilang, dia telah bertemu dengan seorang wanita lebih tepatnya seorang chef, yang lebih mengerti dirinya dibanding aku. Aku tau dia sedang banyak masalah di kantor, lalu aku memberi obat penenang pada minumannya agar dia dapat beristirahat.”

“Kau gila!! Gilaa!”

“Aku tidak gila!! Aku hanya manusia yang diciptakan dari ketidaksempurnaan.”
Wanita asing itu mundur selangkah sepertinya dia menjadi takut kepadaku setelah apa yang telah kukatakan barusan.

“Aku tak ingin membuatnya menderita karna cinta dan pekerjaan. Saat dia tak sadar, aku jepit kepalanya diantara meja dengan badan di bawah dan kepala bagian otak berada di atas meja. Lalu bagian tengkorak kukuliti sehingga tampak bagian otak yang masih berdenyut, seperti kejadian di film Hannibal. Aku memakan otaknya, dapat kurasakan energi yang selalu dia pancarkan. Aku ingin dia sepenuhnya menjadi milikku maka kumutilasi dia dan kujadikan steak sebagai santapan malam. Itu kulakukan karna sangat menyayanginya.”

Aku menutup kedua mataku dengan erat, semua kenangan bersama Mason datang membabi buta dalam pikiranku. Seketika muncul perasaan penyesalan jauh dari dalam lubuk hati, aku tak kuat menahan tekanan yang tiba tiba muncul seperti ini. Aku telah membunuh Mason, orang yang yang paling kusayangi. Aku hanya ingin kisah cintaku berakhir bahagia seperti kisah indah Snow White, dia adalah pria berkuda yang akan menyelamatkanku dari Ratu yang jahat. Tapi apa yang dia lakukan setelah menyelamatkanku, dia malah melakukan hal yang sama jahatnya dengan ratu iblis. Jika memang aku tak bisa memilikinya maka wanita lain pun tak bisa, Mason akan selalu ada dalam darahku, aku akan memilikinya selamanya.

“Maaf telah membuatmu takut...” 

Aku membuka mata dari cengkreman erat tanganku tapi kudapati ternyata wanita itu sudah tak berada lagi di tempatnya, mungkin dia telah kabur karna takut mendengar pengakuanku. Tapi bagaimaa mungkin dia kabur? Aku sama sekali tak mendengar jejak langkahnya. 

Tiba tiba saja aku dikagetkan dengan suara piring yang terjatuh ke lantai, piring yang jatuh karna tersenggol oleh kucing spinx peliharaanku. Kucing telanjang tanpa bulu yang sangat kusanyangi, kucing yang kuberi nama Clarice. Clarice diam tak bersuara, dia hanya menjilati bibir dengan lidahnya yang menjulur keluar.

“Apa aku membuatmu takut, Clarice?” Seperti orang gila aku mencoba berbicara kepada kucing yang hanya bisa menatapku dengan nanar.

“Halusinasiku saja, sepertinya aku tadi berbica dengan orang asing..”

“Orang asing?”

Tiba tiba saja aku mendengar suara tepat dari arah Clarice berdiri. Suara yang terkesan meremehkan dan menunjukan ketidaksukaan yang teramatsangat terhadap ucapanku barusan. Aku tak yakin apakah benar Clarice berbicara.

“Kau kira dari tadi bicara dengan siapa?” Suara lirih keluar dari mulut Clarice.

                                                                        ******