Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 10 September 2013

Mystery of The Knight





           Situasi makin genting ditengah tekanan hebat Interpol Internasional yang mengejarnya. Tragedi berbau konspirasi juga secara langsung ikut memaksa seluruh polisi di Prancis mencari dan memasukannya kedalam daftar buronan. Saat kebingungan melanda karna fakta aneh terus bermunculan, Henry harus menentukan pilihan yang tepat nan cepat, di depan salah satu orang yang diyakini keturunan langsung Knights Templar, ksatia paling ditakuti pada masa Perang Salib (awal abad 11 – akhir abad 13) yang juga biasa disebut Crusade. Selain pahlawan perang dalam sejarah, Knights Templar juga mempunyai tugas mulia untuk menjaga rahasia lokasi disimpannya cawan suci oleh leluhurnya sejak ratusan tahun lamanya. Hitam putih antara logika, kebenaran dan agama bercampur menjadi satu dalam kepala Henry sebagai seorang detektif terkenal di Los Angeles yang berjuang hingga meuju Tolouse, Prancis.



       Penyelidikan dilakukan dari informasi yang ia dapatkan, mengantarkannya bertemu dengan Fabian Patrick, seorang pelukis terkenal yang karyanya selalu bercirikhas objek manusia sebagai tokoh utama tiap lukisan. Pelukis nyentrik penuh dengan kontroversial dan dari info yang diselidiki menjadikan sosok pelukis 62 tahun ini makin diselimuti fakta latar belakang cukup aneh. Informasi gereja tua di kota Tolouse menggiring Henry menenumui pria yang menurut media internasional adalah, jenius yang mendapat gelar Professor Seni kehormatan dari Yale University dan juga sosok yang fasih tujuh bahasa asing. Namun kejutan lain yang menambah kontroversi professor ini adalah silsilahnya yang diyakini  sebagai keturunan langsung Hugues de Payens, pendiri Knights Templar. Gereja percaya kakek buyut Fabian Patrick  pemegang kunci terakhir mengenai rahasia cawan suci, yang cukup beruntung dapat melarikan diri saat puncak pembantaian besar-besaran terhadap para Templar dilakukan oleh penyelidikan Roma dengan berbagai tuduhan mulai dari perilaku seks menyimpang hingga pemujaan terhadap Baphomet. Dan hingga saat ini hari penangkapan para Templar yang jatuh di hari Jumat tanggal 13 dianggap sebagai hari sial di dunia Barat. Tahun demi tahun berlalu, sampai kini 2015 adalah tahun dimana rahasia itu dijaga oleh Prof. Fabian Patrick.

       “Apa yang membawa detektif terkenal sepertimu singgah di rumahku?” Ujar Prof. Fabian dengan nada bicara sopan seraya memberikan segelas wine merah yang nampak mahal dari gelas perak berkilauan.

           “ Tidak usah basa basi, Prof..”

         Prof. Fabian tersenyum kecil melihat ekspresi Henry yang menunjukan kekhawatiran dan sedikit tidak tenang, ekspresi wajahnya menunjukan dia sedang tidak dalam kondisi fit untuk berbedabat panjang. Prof. Fabian lalu meletakkan gelas wine tersebut diatas meja disebelah tempat duduk Henry.

           “Kau pasti menonton televisi prof, kenapa kau masih setenang ini melihatku?”

          “Selain pelukis, aku juga ahli membaca ekspresi. Membedakan jujur dan bohong ibarat menyalakan lampu bagiku – hahaha!”

          Henry menatap Professor Fabian dengan pandangan yang sangat gusar, dia mengambil nafas panjang yang dalam sebelum akhirnya meminum wine yang diberikan oleh Professor sampai habis.

           “Aku dijebak.. Biarawan Sion menjebakku..”

           “Biarawan Sion?” Professor mengulangi ucapan Henry dengan bingung.




        “Ya.. Biarawan Sion Kabbalah, tak usah pura pura bingung prof. Aku tau kau tau banyak, aku butuh kejelasan saat ini!”

             “Ordo hijau, ordo kuning dan ordo putih? Kukira itu hanya omong kosong.”

             “Sudahlah Prof, tak usah menyangkal lagi. Aku sudah tau semuanya..”

             “Tau? Apa maksudmu?” Jawab Prof. Fabian.

           “Kau.. Keturunan langsung Knights Templar. Kau menyimpan rahasia besar dan aku sudah terjebak dalam masalah ini.”

           Prof. Fabian tersenyum lebar kepada Henry yang disambut dengan ekspresi makin tak menentu yang terpancar dari aura wajahnya. Senyuman pak tua ini sangat penuh arti dan sangat mencemooh harga diri Henry sebagai detektif penerima Badge of Honor dari kepolisian Los Angeles, atas jasanya menangkap bandar narkoba terkenal, Mickey Cohen.

           “Biarawan Sion sudah tak ada Henry... Mungkin masih ada tapi hanya dalam skala kecil tak mungkin jika mereka bisa melakukan dampak sebesar ini. Lagi pula apa tujuan mereka menjebakmu?”

          “Russel Brown lewat pesuruhnya menyewaku secara pribadi untuk menemukan cawan suci.”

          “Russel Brown? Direktur FedEx?”

           Henry mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Prof. Fabian. 

          “Ceritakan semuanya, aku ingin tau.” Ujar Prof. Fabian penasaran.

         “Aku perlu uang, kau tau, aku perlu uang. Anakku terjangkit AIDS karna jarum suntik narkoba dan aku perlu uang untuk menyembuhkannya. Russel menjanjikan kesembuhan anakku jika aku mampu mencari cawan suci. Aku Badge of Honor, aku bukan polisi bagian kriminal biasa. Aku detektif profesional tapi kasus ini ternyata diluar jangkauanku.”

         “Rupanya kau tak tau sedang bermain dengan apa.”

        “Aku terlalu ceroboh. Saat menuju katedral, seseorang tiba tiba saja menyerangku tapi aku berhasil menembaknya dengan tepat di kepala. Namun ternyata ketika aku cek itu adalah Philip Fatalis, ketua CIA. Dan entah bagaimana di situ sudah ada CNN, aku dijebak.”

     Prof. Fabian mengangguk tanda mengerti dengan pernyataan Henry. Dia kembali menuangkan segelas wine lagi lalu memberikannya kepada Henry.

        “Tapi di katedral aku mendapat info lain, aku segera menuju ke gereja kristen di pinggir kota Tolouse. Gereja yang kabarnya didirikan oleh Maria Magdalena saat usahanya kabur dan di sana... Di sana disimpan manuskrip Gnostik yang berhubungan dengan kau!” Nada suara Henry mulai meninggi, emosi kembali mulai menyelimuti isi kepalanya.

         “Ordo putih...”

         “Apa maksudmu?” Tanya Henry dengan wajah bingung. 

   “Ordo Putih ini lebih menekankan misi politik dan kekuasaan. Merekalah yang merumuskan bahwa tujuan akhir Kabbalis adalah untuk membentuk "Satu Pemerintahan Dunia".

        “Aha! Sudah kuduga kau tau satu hal! Feelingku tak pernah salah!”

       Bak habis memenangi emas olimpiade, Henry langsung beranjak dari tempat duduknya. Dengan penuh semangat dia berbicara lantang dan sejenak seperti melupakan masalah yang sedang menderanya.

     “Benar, kami sebagai Knights Templar melindungi rahasia Holy Grail sejak dulu atau yang biasa disebut cawan suci.”

      Mendengar perkataan itu, Henry langsung bersikap reaktif. Dia segera menarik kerah baju Prof. Fabian dan dengan penuh emosi langsung mendekatkan wajahnya yang penuh kemarahan.

        “Hanya karna mencarimu aku terlibat dalam masalah seperti ini!”

        “Tenang Henry, tenang!” 

         Keduanya saling adu volume suara seperti berlomba siapa yang sanggup menjadi simba dalam hutan. Ketegangan mulai mereda setelah akhirnya Prof. Fabian berhasil menenangkan Henry dengan sikapnya yang penuh ketegasan.

        “Jadi.. benar kan kau keturunan langsung Knights Templar?”

        “Ya.. Bisa dibilang seperti itu.”

        “Aku lelah dengan semua ini, cepat kau jelaskan dimana makam Maria Magdalena?”

       “Tunggu.. Apa maksudmu?”

       “Kau masih mau mengelak? Aku tau cawan suci itu hanya kiasan, tak pernah ada cawan suci. Lukisan perjamuan terakhir telah mejelaskan segalanya!”

        “Tenang Henry, tenang...”

      Henry menarik nafas dalam guna menahan kemarahannya, dia kembali memberikan kesempatan pada Prof. Henry untuk melanjutkan perkataannya.

        “Memang benar itu lukisan yang indah dari Da Vinci, terima kasih padamu karna secara tak langsung memuji lukisan itu. Tapi hipotesismu hanya bernilai nol, nol besar. Kau terlalu terpengaruh dengan meledaknya buku Dan Brown. Hah, Dan Brown..”

      Kembali nada mengejek keluar dari dinamika suara pak tua yang jenius ini. Dia sepertinya mengetahui segalanya, bahkan dia terlihat seperti saksi sejarah.

         “Jelaskan padaku... Jelaskan...” Ucap Henry pasrah.

        “Tahun 2013 lalu, ada sebuah pameran arkeologi yang cukup heboh "Dig for Germania Archaeology under the Swastika" di Bremen, Jerman. Di sini diceritakan bagaimana kepala SS (Schutzstaffel, satuan pengaman pribadi Hitler) Heinrich Himmler diduga mengunjungi Spanyol saat perang karena ia percaya cawan itu ada di Montserrat Abbey dekat Barcelona. Dia percaya jika menemukan cawan suci akan membantu Jerman memenangkan perang dan memberinya kekuatan supranatural. Namun regu SS ini sia-sia tidak menemukan apa yang mereka cari. Anggaran SS untuk proyek-proyek seperti ini begitu besar, bagi Nazi temuan itu dimaksudkan untuk menulis ulang sejarahnya yang membuktikan Jerman adalah ras terbesar dalam sejarah.”
          
           "Buat apa nazi melakukan itu?"

      "Agar sejarah menuliskan Yesus memliki keturunan ras bangsa aria."

         “Apa maksud kekuatan mistis? Seperti apa?”

           “Tak tau pasti, dari kabar yang kudengar dapat membuat hidup abadi.”

           “Tak tau pasti? Bagaimana bisa kau tak tau pasti?! Kau penjaga cawan. Dan jika berita itu benar, kakekmu berarti berhasil menyembunyikan rahasia cawan itu dari Nazi.”

           “Cawan tak terlalu penting, itu hanya benda biasa bahkan fisiknya sama sekali tak terlihat seperti barang antik yang berharga milyaran euro. 'Sesuatu' dari cawan itulah yang berharga. Saksi bisu penyaliban Messiah.”

           “'Sesuatu’?” 

       “Akan aku jelaskan karna kau telah tau sejauh ini. 'Sesuatu' dari Cawan Suci adalah darah Yesus Kristus, yang dimana menurut kepercayaan pagan Yahudi, siapapun yang mendapatkannya akan panjang umur, kaya raya, berpengaruh dan memiliki kekuasaan di dunia ini.”

          “Kau menjaga benda seperti itu?”

          “Ya, benar.”

          “Diimana benda itu?”

          “Di sini, dirumah ini.”

          “Bagaimana leluhurmu bisa lolos dari pencarian Nazi? Bahkan pembantaian Roma?” Dia mencoba memecahkan keping keping dari apa yang baru saja di keluar dari ucapan Prof. Fabian.

          “Menyatu dengan alam..”

          Henry mencoba menelaah ucapan Prof. Fabian dengan seksama namun tak tau kenapa kepalanya serasa sangat lelah dan pusing tiba tiba menyerang kepalanya. Dengan sisa kekuatan dia terus mencoba untuk tetap mengikuti penjelasan Prof. Fabian.

       “Aku akan menjelaskan padamu semuanya. Benar, cawan dan darah itu memberikan keabadian tapi... Tapi kedua hal ini mutualisme, jika kau meminum darah itu tanpa cawan yang tepat maka kau akan mati begitu pula sebaliknya.”

         “A... apa yang tadi kau maksud menyatu de.. dengan alam?” Ujar Henry seraya memegang dada nya yang mendadak sakit.

        “Sudahlah, Detektif Henry tak usah dipaksakan lagi. Kau sepertinya sudah tak berdaya sekarang. Kau terlihat lemah seperti kakek kakek tak berdaya.”

    Mendengar ucapan itu seketika membuat Henry segera memeriksa kedua tangannya, hanya untuk memastikan apa yang terjadi kepadanya. Dan apa yang dia lihat sangat membuatnya terkejut kaget bukan kepalang. Kedua tangannya telah mengeriput lalu seketika dia mengecek kulit wajahnya yang ternyata juga telah ikut mengeriput. Dia merasa seperi sudah berumur 70 tahun yang tak berdaya untuk terus berpikir dengan keras.

          “A.. Apa.. Yang terjadi padaku...?”

        “Russel Brown penghianat ordo, dia akan melakukan kudeta. Sedangkan kau adalah orang asing yang sudah terlalu banyak ikut campur hingga sejauh ini. Kulitmu itu adalah efek dari darah Yesus jika diminum di cawan yang salah.”

        Dengan segera Henry dengan sisa kekuatannya mengecek kearah gelas wine yang tadi dia minum dengan terburu buru. Seketika dia segera menyadari tentang semuanya, tentang semua hal yang dia lakukan. Tentang anaknya, tentang cawan suci dan tentang orang tua jenius nan eksentrik.

          “Siapa kau...?” Tanya Henry dengan suara serak tak berdaya.

          “Seorang pelukis.”

         “Tidak. Kau lebih dari sekedar itu...”

        “Wow? Kau telah menyadari sesuatu rupanya, Badge of Honor ternyata memang hebat. Tidak ada seorang pun yang tau mengenai identitas asliku. Tapi khusus untukmu akan aku beritahu.”

         Henry masih tetap mencoba dengan sekuat tenaga untuk tetap menyadarkan diri. Dia masih memiliki kekuatan untuk bertahan hidup.

      “Dulu.. Sekitar 70 tahun lalu orang orang memanggilku Fuhrer. Dulu sekali juga orang mengenaliku sebagai pelukis terkenal, Picaso. Namun.. Jauh sebelum itu akulah yang melukis Perjamuan Terakhir atas pesan Maria Magdalena, aku juga dikenal sebagai DaVinci. Itu semua hanya kamuflase saja.. Nama asliku adalah...

          Sebelum mendengar lanjutan perkataan Prof. Fabian tiba tiba Henry merasa  seperti memasuki sebuah tempat gelap. Pandangan dan pendengarannya bak diisap vacuum cleaner kekuatan super menuju ke tempat yang antah berantah. Badannya sakit, sakit teramat sangat. Ruh nya seperti dicabik cabik karna dipaksa keluar menuju dunia nyata. Tubuhnya telah menjadi lemah, fisiknya tampak seperti seorang yang telah berumur 90 tahun. Dalam hitungan detik tubuhnya melemah, detak jantungnya tak berdaya lalu kemudian berhenti seutuhnya.

         Dengan tenang Prof. Fabian melihat pergerakan Henry yang sudah nampak tua dan tak berdaya. Dia tersenyum penuh kemenangan sembari meminum seteguk wine dari sebuah gelas kuno yang terbuat dari kayu. Sebuah gelas yang nampak seperti cawan misteri yang kembali menjadi saksi bisu suatu hal yang cukup penting. 

        “Aku Hugues de Payens.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar