Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 29 April 2013

Diary of Laura




            Sayang...

Cahaya matahari yang mengintip masuk melalui teralis membangunkanku dari lelapnya cahaya bulan. Dan pagi ini aku sangat merindukanmu saat pertama kali membuka mata. Tak hanya pagi ini-- bahkan tiap detik senyumanmu selalu terbayang dari benakku. Memang, aku tak bisa menyentuh dan menjamah fisikmu namun pikiranku tak pernah mengizinkanku untuk memikirkan hal lain selain dirimu. Aku sangat mencintaimu, sayang. Dan aku sangat yakin 100% bahwa kau merasakan hal yang sama. Hemm... Benar kan kau merasakan yang sama sepertiku?

Sayang..

Sudah hampir tiga bulan aku terkurung di sini, aku sudah tak tahan lagi diperlakukan tak adil. Apa yang kau dan mereka mau dariku? Aku yang memimpin proyek Cerebral Boyd No 23 ini, tapi aku sendiri malah dikurung di sini. Sayang, tolong aku. Aku sangat menderita di sini, aku ingin bertemu denganmu, aku ingin bebas. Kumohon tolong aku...

Tiga hari yang lalu kau bisa hadir sebelum aku memutuskan untuk tidur, tapi kenapa sekarang kau tidak muncul kembali?! Katanya kau cinta padaku? Kau bilang kau akan menikahiku? Mana bukti cintamu?! Aku si jenius Laura Bates, tega kau melakukan ini padaku!

Kau hanya muncul dengan senyuman lalu kemudian menghilang. Aku tidak butuh senyumanmu sayang! Aku butuh pertolonganmu!

Suruh orang orangmu pergi sayang. Aku takut mereka kembali lagi ke sini dan memberiku obat itu. Obat yang kau beri selalu membuat kepalaku sakit, membuatku seperti terpisah dengan ragaku. Tubuhku selalu bergetar hebat tiap mengingat apa efek yang ditimbulkan obat itu. Emosiku menjadi sangat labil, aku merasa sangat sedih setelah mengkonsumsi obat itu. Aku terus menangis, padahal aku tak ingin menangis. Bola mataku sudah sangat kering karna terlalu sering mengeluarkan air mata yang berdampak perih tiap kali aku mencoba untuk tidur.

Sayang, sudah kucabut bola mataku sebelah kanan karna tak tahan dengan perih yang terus menerus muncul karna efek obat itu. Namun karna perbuatanku itu, kau sekarang memberiku sengatan listrik otomatis, yang akan muncul menyetrum tubuhku tiap kali kucoba untuk menarik bola mataku. Oh sayang... tolong aku...

Sayang...

Apa kau bisa merasakan kesakitanku? Aku sangat tersiksa di sini sayang. Ayo tolong aku, kumohon padamu tolong aku, hentikan perbuatanmu..

Oiya, kemarin aku bilang kepada Dr. Andra bahwa aku melihatmu di sini, ya aku bilang padanya bahwa aku melihatmu datang ke selku. Aku kira dia akan kaget dengan ceritaku, namun ternyata tidak. Kulihat dia tersenyum dan ekspresinya berubah sumringah ketika kuceritakan hal itu. Bahkan dia pun dengan semangat memintaku untuk segera menceritakan kejadian itu secara detail, wah aneh kan untuk wanita pembuat obat sepeti dia? Hahaha--

Lalu ia memberiku tiga lembar kertas dan sebuah pulpen, supaya aku dapat langsung menuliskan sesuatu bila aku bertemu denganmu. Sekarang aku dapat menulis seperti ini, aku senang, jadi aku dapat mencurahkan betapa aku cinta padamu dan betapa menderitanya aku karna perbuatanmu di rumah sakit jiwa ini.

Mereka mengira aku pembangkang karna tidak mau melanjutkan pembuatan obat yang mereka bilang sebagai obat masa depan, hmm tentu saja mereka salah. Aku menolak karna beberapa kali kucoba dengan dengan tikus percobaan, efek yang muncul malah sulit diprediksi. Saat tikus itu sendirian di dalam box dia hanya diam di sudut box dengan ekspresi yang sepertinya menunjukan kesedihan. Dan suatu hari karna kasihan aku memindahkan tikus tersebut ke box lain yang berisi banyak tikus tikus. Awalnya itu berlangsung baik, namun kau tau sayang apa yang terjadi 6 jam kemudian? Aku masih ingat kira kira jumlah tikus di dalam box itu sekitar seribu tikus tapi setelah itu, semua tikus dalam box mati dengan keadaan tanpa kepala malah setengahnya sudah rusak tercabik badannya. Box yang tadinya berwarna putih, berubah menjadi merah karna darah yang muncrat bercucuran. Aku terkejut melihat itu, namun yang lebih membuatku terkejut hanya satu tikus yang masih hidup, ya itu tikus yang kujadikan kelinci percobaan. Aku telah membuat monster, sayang. Aku tidak bermaksud menolak melanjutkan penelitian obat itu, aku hanya takut itu juga akan terjadi kepadaku..

Kau tau sayang...

Sebenarnya aku tidak terima diperlakukan seperti ini. Aku seorang wanita yang pintar. Aku seorang wanita yang kuat. Aku seorang pencipta jenius. Kau dan mereka, semua orang di Cerebral Boyd tidak berhak memperlakukanku seperti ini!!

Aku ini mudah diatur, kalian tinggal tegas terhadapku. Tapi tidak dengan perlakuan sampah seperti ini. Tunjukan padaku bagaimana persisnya mereka ingin penelitian itu dilakukan, maka aku akan belajar melakukannya dengan otomatis.

Sayang, jika kau pikir aku adalah hamba kalian, kau benar! Tapi sayangnya juga hamba dari semua pecundang. Dengan kejeniusanku kau dan mereka selama ini telah kujadikan besar. Tapi ingat dengan perlakuan kalian yang seperti ini, aku akan membalas dan kalian semua akan kujadikan pecundang!

Sayang..

Kumohon datanglah padaku malam ini, peluk aku, panggil namaku, hubungi aku. Aku sangat merindukanmu. Aku tak percaya dengan semua omongan pasien di rumah sakit ini. Mereka semua gila! Aku yakin kau masih hidup. Mereka bilang, aku memakanmu dan menggoreng matamu sebelum kumakan bersama tikus lab. Hah! Bagaimana bisa aku memakanmu?! Aku bukan kanibal. Jikalau aku seorang kanibal maka sudah sejak lama semua orang di sini kukuliti satu persatu dan kupanggang bersama potongan babi panggang presto favoritku----

...............................

***

        Suasana sel berubah menjadi kacau balau karna teriakan yang dikeluarkan pasien no 4 sangat kencang. Dia berteriak dengan raungan yang sangat memekakan telinga yang otomatis membuat seluruh penjaga datang berduyun duyun menuju selnya. Dan ketika membuka pintu sel, dapat terlihat ekspresi penjaga tersebut berubah 180 drajat dari takut menjadi sangat takut. Semuanya melihat bagaimana pasien no 4 telah menusuk bola matanya dengan pensil yang dia pakai untuk menulis sebuah pesan, ya yang tampaknya merupakan sebuah jurnal kecil. Darah muncrat bercucuran keluar dari mata kanannya yang sebenarnya hanya tinggal satu buah. Selain darah, sengatan listrik pun muncul memercikan panas ke seluruh kepalanya. Semua penjaga ketakukan untuk mendekat, mereka tak punya keberanian karna takut akan sengatan listrik yang muncul dari kepala pasien no 4.

            Tiba tiba sengatan listrik tersebut berhenti. Pasien no 4 terkulai lemas tak berdaya, banyak yang mengira dia akan mati namun tanda tanda kehidupan masih nampak jelas dari sel motoriknya yang menunjukan dia masih dapat bergerak.

      Pasien no 4 berdiri. Semua terkejut melihat hal itu. Tak ada satu orang pun berani mendekat. Sambil memegang matanya yang penuh darah, pasien no 4 berjalan dengan perlahan keluar sel menuju sekumpulan orang yang masih melihatnya dengan rasa takut.

            “Aku tau kalian semua melihatku!”, teriak pasien no 4.

         Suasana hening, tak ada satupun yang berani menjawab pertanyaan pasien No 4 yang berjalan dengan keadaan yang tergopoh gopoh menahan rasa sakit. Dia benar benar sangat marah sehingga rasa sakitpun tak dapat menghentikan laju jalannya. Pasien No 4 itu adalah, Antoni Malaka dia adalah pemimpin sekaligus kelinci percobaan proyek rahasia 23 “Blank Medicine”.

            “Dia merusak otakku!”, gumam Antoni dalam hati.

      Obat itu membuat kepribadian lain dalam diri Antoni. Kepribadian Laura Bates (seorang wanita psikopat yang telah membunuh ayah dan kekasih ayahnya sendiri dari New Jersey, USA) muncul dan seakan mengambil alih dirinya. Laura Bates adalah kepribadian ganda yang sangat gila dan mencintai dirinya sendiri. Laura Bates bahkan rela memotong kemaluan Antoni agar terlihat seperti wanita sempurna adanya. Bahkan Laura sampai memakan jempol kiri dan salah satu bola mata Antoni karna kelaparan. Untuk sementara, Antoni dapat bebas dari pengaruh Laura.

Dia sangat marah. Hanya satu orang yang dia tau harus bertanggung jawab atas kejadian ini, ya Dr. Andra. Dia tau ini hanya sementara sebelum Laura kembali mengambil alih tubuhnya, dalam waktu sesingkat ini dia harus bisa membunuh Dr. Andra untuk membalaskan dendam.

Jumat, 05 April 2013


The Tell-Tale Heart
by Edgar Allan Poe
1843


Memang benar! Aku gelisah, sangat-sangat gelisah pada waktu itu -- sekarang pun masih. Namun, mengapa kalian menyebutku gila? Rasa sakit menajamkan inderaku, bukan melemahkannya. Apalagi, membuatnya tumpul. Dibanding indera lainnya, indera pendengaranku paling tajam. Aku mendengar semua hal di langit dan di bumi. Aku mendengar suara di neraka. Bagaimana bisa aku disebut gila? Dengarlah! Kalian akan tahu betapa warasnya aku. Betapa tenangnya aku. Akan kuceritakan kepada kalian seluruh detail kejadiannya.

****

Sulit menceritakan bagaimana mula-mula pikiran itu menyusup dalam benakku. Namun, begitu masuk, pikiran memburuku siang malam. Tak ada niat dan aku tak ada dendam padanya. Aku mencintai orang tua itu. Ia tak pernah berbuat salah kepadaku. Juga tak pernah melukai hatiku. Emasnya pun tak kuinginkan. Kupikir yang menjadi persoalan adalah matanya. Hmm, ya, matanya! Salah satu bola matanya menyerupai mata burung pemangsa – mata yang biru dan berselaput. Setiap kali mata itu menatapku, darahku terasa beku. Dan sedikit demi sedikit -- secara berangsur-angsur -- aku membulatkan hati untuk membunuhnya. Sehingga, terbebas selamanya dari sergapan mata burung pemangsa itu.

Di sinilah pangkal soalnya. Kau akan menganggapku gila. Semua orang gila pasti tidak tahu apa-apa. Namun kau akan melihat bagaimana aku melakukannya. Kau akan melihat betapa cerdiknya aku menyelesaikan pekerjaanku -- begitu rapi, terencana. Kemudian, berpura-pura tidak tahu apa-apa. Aku menjadi lebih manis kepada oang tua itu pada seminggu terakhir sebelum aku membunuhnya. Setiap malam, menjelang tengah malam, aku memutar gagang pintu kamarnya dan membukanya -- hmm, begitu hati-hati. Dan kemudian ketika pintu kamar itu terkuak dan cukup bagiku untuk memasukkan kepala, kumasukkan lentera berkatup yang kurapatkan semua lempengan katupnya. Sehingga, tidak ada sinar yang menerobos keluar dari lentera itu. Lalu, kusorongkan kepalaku ke dalam. Oh, kau pasti terkejut melihat betapa cerdiknya aku menyusupkan kepala. Semua kulakukan pelan-pelan, sangat-sangat pelan. Sehingga, tidak mengganggu tidur orang tua itu. Kuperlukan satu jam untuk menempatkan posisi kepala sebaik-baiknya di celah pintu. Sehingga, aku bisa leluasa melihat orang tua itu berbaring di ranjangnya. Nah, bisakah orang gila melakukan pekerjaan secerdik ini? Dan ketika kepalaku sudah leluasa, aku membuka katup penutup lentera dengan hati-hati -- begitu hati-hati -- jangan sampai engsel katupnya berderit. Aku membuka seperlunya saja, cukup agar seberkas tipis cahaya bisa menerangi mata burung pemangsa itu. Dan pekerjaan seperti ini kulakukan selama tujuh malam berturut-turut, tiap datang tengah malam. Namun, selalu kujumpai mata itu tertutup. Dalam keadaan seperti itu tentu mustahil melanjutkan rencanaku. Karena, bukan orang tua itu yang membangkitkan marahku. Tapi, mata itu! Pagi harinya, di saat fajar, sengaja kudatangi kamarnya. Kuajak ia bercakap-cakap, kusapa namanya penuh semangat. Kutanya pula apa tidurnya nyenyak semalam. Dengan demikian, kau tahu, diperlukan kecerdasan tertentu pada si tua itu untuk menduga bahwa setiap malam, tepat pukul dua belas, aku selalu mengamatinya ketika ia tidur.

Pada malam ke delapan aku membuka pintu lebih hati-hati ketimbang malam-malam sebelumnya. Jarum menit jam dinding, bahkan lebih cepat ketimbang gerakan tanganku. Baru pada malam itu aku merasakan begitu besarnya kekuatanku -- begitu cerdiknya akalku. Hampir aku tidak bisa menahan luapan perasaan menangku. Membayangkan diriku sendiri sedang menguakkan pintu, sedikit demi sedikit, dan orang tua itu bahkan tidak pernah berkhayal tentang apa yang kulakukan dan apa yang kupikirkan. Aku tergeletak dengan lintasan pikiran ini. Mungkin, ia mendengar suaraku. Karena, tiba-tiba, ia menggerakkan tubuhnya seperti orang terkejut. Sekarang kau pasti berpikir bahwa aku akan mundur. Tidak! Kamarnya gelap pekat, jendelanya tertutup rapat. Karena itu, aku tahu bahwa ia tidak melihat pintu kamarnya terkuak, dan aku terus saja mendorong daun pintu itu sedikit demi sedikit.

Aku menyusupkan kepalaku ke celah pintu dan sedang membuka katup lentera, ketika jempolku tiba-tiba selip dan mengetuk lempengan penutup, dan si tua itu bangkit dari ranjangnya.

"Siapa itu?" teriaknya.

Aku mematung di tempatku dan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam satu jam aku sama sekali tak bergerak. Selama itu, pula aku tak mendengar ia merebahkan tubuhnya lagi. Ia tetap duduk di ranjangnya dan mendengarkan. Seperti aku, malam demi malam. Mendengar detak jam kematian di dinding.

Tiba-tiba kudengar erangan kecil, dan aku tahu itulah erangan yang muncul. Karena, teror kematian. Bukan erangan, karena sakit atau dukacita. Sama sekali bukan. Itu suara lemah orang tercekik. Suara yang muncul dari dasar jiwa yang diteror kengerian. Aku kenal sekali dengan suara itu. Beberapa malam, tepat tengah malam, di saat dunia terlelap, suara itu bangkit dari dadaku, menusuk-nusuk. Gaungnya mengerikan. Sebuah teror yang menggelisahkan. Kubilang aku kenal betul suara itu. Aku tahu apa yang dirasakan orang tua itu, dan turut berduka atas kemalangannya, meskipun dalam hati aku ketawa. Aku tahu bahwa matanya tak pernah lagi terpejam, sejak ia dikejutkan oleh suara yang membangunkannya. Rasa takutnya tumbuh semakin besar. Ia coba menenangkan diri, tapi tidak bisa. Ia yakinkan dirinya sendiri, "Tidak ada apapun, hanya angin di cerobong asap – hanya tikus yang merayap," atau "hanya jangkrik yang mengerik." Ya, ia mencoba menenangkan diri dengan dugaan-dugaan seperti itu, tapi sia-sia. Sia-sia; sebab maut yang menguntitnya diam-diam kini telah mengepung korbannya dengan bayang-bayang hitam. Dan efek muram bayang-bayang yang tak tampak itulah yang menyebabkan ia merasakan -- bukan mendengar atau melihat. Namun merasakan -- kehadiran kepalaku di kamarnya.

Setelah cukup lama menunggu, dengan sangat sabar, tanpa mendengar ia membaringkan kembali tubuhnya, maka kubuka sedikit -- sedikit sekali -- katup lentera untuk membuka celah kecil. Kau takkan bisa membayangkan betapa hati-hatinya aku membuka katup itu. Sehingga, akhirnya seutas cahaya, setipis sulur benang laba-laba, memancar dari celah lentera dan jatuh tepat di mata burung pemangsa itu.

Mata itu terbuka, begitu lebar. Amarahku bangkit ketika melihat mata itu terbuka. Jelas sekali kulihat -- mata biru berkabut, dengan selaput yang mengerikan, yang menusukkan hawa dingin di sumsum tulangku. Namun, sama sekali tak kulihat wajah orang tua itu: sebab seolah dibimbing oleh naluriku, cahaya lentera kuarahkan tepat pada bulatan mata keparat itu.

Jadi, bukanlah yang kau sebut gila itu sesungguhnya adalah inderaku yang begitu tajam? Sekarang aku mendengar suara lemah, samar-samar, berdetak dalam tempo cepat seperti detak jam yang terbungkus kain. Aku kenal betul suara itu. Ialah bunyi detak jantung orang tua itu. Kemarahanku memuncak, sebagaimana keberanian seorang serdadu naik, karena pukulan genderang.

Kendati demikian aku masih menahan diri. Kutahan napasku. Kujaga lentera di tanganku. Kujaga agar sinarnya tetap jatuh ke matanya. Sementara detak jantung terkutuk itu temponya semakin meningkat. Makin lama makin cepat, dan makin keras. Ketakutan si tua itu, pastilah luar biasa! Suara itu makin keras, kubilang, bertambah keras setiap saat. Kau catatkah omonganku baik-baik? Telah kukatakan kepadamu bahwa aku gelisah: begitulah yang kurasakan. Dan sekarang pada jam kematian malam itu, di tengah kebisuan yang mencekam di rumah tua itu, dentam aneh itu menyiksaku layaknya sebuah teror yang tak tertanggungkan. Aku masih menahan diri beberapa menit dan tetap tak beraksi. Namun, dentam itu makin memekakkan. Kupikir jantungnya pasti segera meledak. Dan sekarang aku merasakan kecemasan baru -- para tetangga pasti akan mendengar bunyi itu! Tiba sudah waktu bagi si tua! Dengan teriakan keras, aku membuka semua katup lentera dan merangsek masuk ke dalam kamar. Sekali ia memekik, hanya sekali. Dalam sekejap aku menyeretnya ke lantai dan membekapnya dengan kasur tebalnya. Setelah itu, senyumku mengembang, semua pekerjaan beres. Bermenit-menit jantung itu masih berdetak samar-samar. Namun, tak lagi membuatku jengkel. Suaranya takkan mampu menembus dinding. Akhirnya bunyi itu berhenti. Si tua mati. Aku mengangkat kasur dan memeriksa mayatnya. Ya, ia sudah mati. Matanya takkan menyusahkan aku lagi.

Kalau masih kau anggap gila aku, anggapan itu tak akan berlaku lagi bila kulukiskan apa yang kulakukan untuk menyembunyikan mayatnya. Malam melarut, dan aku mengebut pekerjaanku, tanpa suara. Pertama-tama kumutilasi mayat itu. Kupenggal kepalanya, kedua lengannya, dan kedua kakinya.

Kemudian, kubongkar tiga bilah papan lantai kamar itu dan kumasukkan potongan-potongan tubuhnya ke dalam rongga di bawah lantai kamar. Setelah itu kukembalikan lagi papan lantai seperti semula, begitu sepele, begitu rapi. Sehingga, tak satupun mata -- termasuk mata si tua itu -- yang menemukan adanya kejanggalan. Tak ada yang perlu dicuci. Karena, tak ada ceceran noda apa pun. Tak ada bercak darah sekecil apa pun. Aku sangat waspada terhadap semua itu. Bak mandi sudah menampung semuanya. Ha! Ha!

Jam empat pagi semua pekerjaanku selesai sudah. Hari masih gelap seperti tengah malam. Bersamaan dengan dentang lonceng jam, terdengar ketukan di pintu depan. Aku turun dengan perasaan ringan. Apalagi, yang perlu ditakutkan kini? Kubuka pintu, tiga orang lelaki masuk. Mereka memperkenalkan diri dengan sangat sopan sebagai petugas-petugas kepolisian. Seorang tetangga mendengar pekik si tua itu semalam. Menduga ada tindak kejahatan, ia melapor kantor polisi. Dan mereka (para polisi itu) ditugasi untuk melakukan penyidikan atas kecurigaan si tetangga.

Aku tersenyum. Apalagi, yang perlu ditakutkan? Dengan ramah kupersilakan mereka masuk. Pekik itu, kataku, keluar dari mulutku di saat mimpi. Kujelaskan kepada mereka bahwa si orang tua sedang tidak di rumah. Lalu, kubawa mereka melihat-lihat seisi rumah. Kupersilakan mereka memeriksa -- memeriksa dengan teliti. Akhirnya, kubawa ketiga orang itu ke kamar si tua. Kuperlihatkan kepada mereka barang-barang berharga miliknya. Semua aman, tak tercolek. Dengan kepercayaan diri yang melambung, aku mengusung kursi-kursi ke dalam kamar itu. Dan meminta mereka untuk melepas lelah di tempat itu. Sementara aku sendiri, dalam gelegak keberanian, karena kemenangan yang sempurna, meletakkan kursiku tepat di atas tempat aku menyimpan mayat si tua.

Para petugas merasa puas. Perlakuanku meyakinkan mereka. Aku sendiri merasa tenang. Mereka duduk. Sementara aku menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan keseharian yang normal. Tapi, sebentar kemudian aku merasa parasku memucat dan berharap agar mereka segera pergi. Kepalaku pening, dan aku merasakan penging di telingaku. Namun, mereka tetap duduk dan bercakap-cakap. Suara penging itu makin jelas: terus-menerus dan makin jelas. Aku bicara lebih keras untuk mengusir perasaan itu. Namun, suara penging itu terus saja dan makin pasti. Sampai akhirnya aku sadar bahwa suara penging itu bukan di dalam telingaku.

Parasku, aku yakin makin memucat. Namun, bicaraku lebih fasih dan lebih lantang. Suara penging itu "bangkit". Aduh, apa yang bisa kulakukan? Kudengar suara lemah, samar-samar, yang berdetak dalam tempo cepat. Seperti, detak jam yang terbungkus kain. Napasku tersengal. Namun, para petugas itu tidak mendengarnya. Bicaraku lebih cepat, lebih meyakinkan. "Bebunyian" keparat itu makin kuat. Aku bangkit dan mendebat segala topik pembicaraan yang sepele, dalam nada tinggi dan gerak tubuh yang kasar. Dan bunyi itu terus menguat.

Mengapa mereka tidak mau pergi? Aku mondar-mandir dengan langkah panjang dan menghentak. Seolah-olah merasa terganggu oleh pemeriksaan yang mereka lakukan. Tapi, bunyi keparat itu terus menguat. Ya, Tuhan! Apa yang bisa kulakukan? Aku meradang. Aku meracau. Aku mengutuk! Kuangkat kursi yang kududuki dan kuhempaskan benda itu ke lantai papan. Namun, kegaduhan yang ditimbulkanya tertelan oleh bunyi detak keparat yang terus menguat itu. Suara itu makin kencang, makin kencang, makin kencang! Para petugas, tetap melanjutkan percakapan seperti tak terjadi apa-apa. Mereka cuma tersenyum. Bagaimana mungkin mereka tidak mendengar suara itu? Demi Tuhan! Tidak! Tidak! Mereka juga mendengar. Mereka curiga. Mereka tahu! Mereka pasti sedang menemoohkan ketakutanku. Kupikir begitu. Cara lain kurasa jauh lebih baik dari siksaan seperti ini! Cara lain apa pun lebih bisa ditanggungkan daripada pelecehan ini! Aku tidak kuat lagi melihat senyum pura-pura mereka. Aku merasa bahwa aku harus berteriak. Atau aku mampus! Dan sekarang, bunyi itu lagi. Dengar! Makin kencang. Makin kencang. Makin kencang!

"Jahanam!" aku memekik, "tak usah berpura-pura lagi! Aku yang melakukan semuanya! Bongkar saja papan ini di sini, di sini! Di sinilah dentam jantung keparat itu!"

Selasa, 02 April 2013

Whisper 2 - Tamat



“Tok.. Tok..”

Dengan pelan aku mengetuk pintu rumah Marta. Keadaan yang sepi dan gelap gulita membuatku takut. Hal yang kutakutkan bukanlah hantu atau dedemit melainkan manusia, bagaimana jika tiba tiba muncul pencuri atau siapalah, bisa habis aku diculik atau mungkin diperkosa oleh para pria bejat. Sama sekali tak ada sautan dari ketukanku, aku berhenti sejenak untuk berpikir sebaiknya apa yang harus kulakukan. Aku melihat kekanan dan kiri untuk memastikan keadaan sekitar, aku merasa seperti ada yang memperhatikanku. Semuanya seperti tertuju kearahku.

“Tok... Tok...”, aku mengetuk pintu untuk kali kedua dan juga sama sekali masih tak ada jawaban muncul dari dalam kediaman Marta. Aku makin penasaran dan makin ingin mencari tau apakah ada orang di dalam rumah atau tidak. Di sebelah kanan pintu ada sebuah jendela berukuran besar, aku perlahan mendekat kearah jendela lalu mencoba mengintip dari jendela berdiri besar itu, namun tak ada apapun ketemui. Sepanjang penglihatan yang aku lihat dari jendela tak ada satupun yang jelas, tak adanya lampu dan gorden yang menjuntai membuat semuanya hitam pekat. Aku memalingkan pandanganku dari jendela kembali ke pintu rumah, mulanya dengan pelan aku mendorong mencoba membuka pintu rumah tapi sia sia. Pintu rumah dikunci, walau kudorong dengan penuh tenaga pun rasanya percuma. Aku terdiam sejenak untuk berpikir apa yang harus kulakukan sekarang tapi yang ada di pikiranku hanyalah menelfon Marta. Namun untuk kali ini entah kenapa aku mempunyai firasat bahwa telfon ini akan memberikan sebuah jawaban.

“Ah.. Anjir”, gumamku dalam hati. Firasatku benar benar sampah. Sudah 5 kali aku mencoba menelfon Marta namun tak ada jawaban darinya, malah di ditelfon terkhir tiba tiba telfonnya mati seperti sengaja untuk di non aktifkan. Entah kenapa aku merasa seperti di permainkan oleh Marta, padahal kenyataannya aku datang kemari atas kesadaranku sendiri. Tapi tetap saja, ini adalah hal yang cukup tai yang pernah kulakukan seumur hidupku. Datang kerumah orang sendirian malam malam, sedangkan si pemilik rumah entah kemana rimbanya, kurang tai apa lagi?? “Pulang. Ya, aku harus pulang sekarang.”, hanya kata kata ini yang terlintas di kepalaku.

Iya pulang saja...

Ngapain di sini...

Pulang sajaa...

Aku berhenti berjalan. Aku terdiam di tempat. Suara wanita itu muncul lagi, muncul lagi! Kali ini seratus persen aku yakin bahwa sumber suara itu tepat muncul dari belakangku. Suara yang merasuk sampai kedalam tulang dan otakku. Keadaan menjadi merinding, oh, aku tak sanggup membayangkat apa yang ada di belakangku saat ini. Desiran suara asing yang terdengar lirih itu seakan mulai merobek gendang telingaku. Aku mencoba untuk menggerakan tubuhku, namun tenagaku seakan kalah oleh rasa takut yang timbul dari alam bawah sadar. Aku memacu waktu, aku mempercepat jalan pikiranku. Suara itu makin mendekat, mendekat dan mendekat. Aku mulai merasa ada sesuatu yang menempel dan menekan pundakku. Ya Tuhan.. apa itu.....

“Kriiiing... Kriiiiing....”

Dari dalam tas tiba tiba handphone ku berdering dengan cukup keras. Seketika aku tersadar dan mendadak tubuhku dapat digerakan kembali. Suara handphone yang meraung raung makin keras membuatku lupa akan keinginanku untuk memastikan apa yang ada di belakang tadi. Dengan sibuk aku mencari handphone ku untuk mengankat telfon yang berdering ini, seketika kuambil aku kaget bukan kepalang melihat siapa yang menghubungiku. Nama Martha muncul di layar, tanpa berpikir panjang aku langsung mengangkat telfon dengan penuh emosi.

“Halo! Lo dimana?!”, teriaku penuh amarah.
...........

Hening terdengar dari ujung telfon, Marta tak menjawab apa yang kutanyakan. Aku langsung melihat hp ku untuk memastikan apakah telfon tersebut masih terhubung. Dan benar itu masih terhubung. Mendadak aku kembali ketakutan, tubuhku merinding tak karuan.

“Halo Mar? Lo di sana kan?”, aku mulai memelankan tempo suaraku.

“Iya..”, dari ujung telfon suara Marta terdengar halus dan lembut sangat berbeda dari biasanya.

“Lo dimana?”
...........

Kembali hening muncul ke permukaan, suara Marta kembali menghilang. Keringatku mulai bercucuran dari kepala, mataku mulai berkunang kunang. Saat ini aku benar benar sangat takut, takut setakut takutnya.

“Gue balik ya Mar, gue takut...”, ujarku dengan suara pelan.

“Mau kemana? Ayo masuk ke rumah..”, suara Marta tiba tiba muncul kembali, suaranya yang lembut dengan tempo pelan makin membuatku ingin pulang. Aku langsung mematikan telfon tersebut, aku benar benar takut.

Rasa penasaran yang cukup kuat membuatku menoleh kearah rumah, hanya untuk sekedar memastikan apa yang telah terjadi. Namun aku terkejut dengan apa yang kulihat, rumah yang tadinya terkunci rapat kini pintunya telah terbuka lebar walaupun dengan keadaan yang masih gelap gulita. Tanpa diperintah aku berjalan menuju rumah Marta, akupun tak tau kenapa aku yang tadinya ingin pulang malah berjalan menuju dalam rumah Marta. Dengan wajah pucat dan keringat yang bercucuran, aku berjalan dengan cukup cepat menuju kedalam rumah, detik per detik pun bergerak sangat cepat. Aku sangat takut tapi aku tak kuasa menghentikan jejak langkahku yang seperti sedang digerakkan oleh sesuatu. Sesuatu yang sebenarnya aku sendiri tak tau itu apa.

Di depan pintu rumah aku masih disambut dengan keadaan gelap nan mencekam. Hanya bedanya kali ini persentase kengeriannya naik 100%, pintu rumah yang terbuka membuat aku dapat melihat keadaan rumah yang sangat berantakan. Berantakan dan sangat tak teratur, sepertinya ada dua gerobak sampah yang baru saja membuang sampah kesini. Sangat bau dan tidak nyaman.

“Mar.. Mar...”, aku mulai memanggil nama Marta untuk memastikan apakah benar yang dia katakan di telfon tadi. 1 menit berlalu, 2 menit berlalu masih juga belum ada jawaban yang kuterima. Bau sampah ini benar benar membuatku jijik dan membuatku tak dapat menahan diri lagi untuk segera meninggalkan tempat ini, tapi lagi lagi kaki ku yang tak dapat digerakkan hanya membuatku diam tak melakukan sesuatu.

Tiba tiba di dalam kegelapan ini aku melihat sebuah cahaya yang nampaknya sebuah lilin, makin lama makin mendekat. Cahaya itu makin mendekatiku membuatku benar benar panas hingga keringat kembali bercucuran dari ubun ubun kepalau. “Cahaya itu mendekat, cahaya itu mendekat!”, gumamku dalam hati. Perlahan namun pasti aku melihat sebuah wajah, sebuah wajah yang sedang membawa cahaya lilin itu. Wajah yang tak asing bagiku, wajah yang sangat aku kenal. Ya benar itu wajah Andra. Oh Tuhan apa aku berhalusinasi lagi, oh Tuhan jangan lakukan ini padaku sekarang. Aku takut.

Wajah Andra yang menyeringai tajam dengan tatapan kosongnya perlahan mendekat padaku. Namun kali ini wajahnya masih lengkap, tidak hancur seperti bagaimana dia mati. Aku yakin ini halusinasiku lagi, bagaimana mungkin Andra yang aku yakin 100% telah mati, sekarang malah muncul di hadapanku dengan sebuah lilin kecil yang dibawanya. Kini aku dan Andra berdiri saling berhadapan, aku ingin memeluknya, aku merindukannya tapi rasa takut yang amat sangat membuatku menghilangkan niat itu. Wajah Andra pucat pasih tanpa ekspresi dia hanya diam sambil melihat wajahku yang sebenarnya sudah sangat takut.

“JREEEB!”

“Oh Tuhan. Oh Tuhan. Ohhhh Tuhan. Ada apa ini?”. Aku merasalan sakit yang amat sangat di dadaku, aku tak mengerti apa yang terjadi. Tiba tiba ada sebilah pisau dapur menacap kuat di dadaku. Darahku mengucur, aku mulai merasakan pusing. Mataku kabur tak karuan. Tapi aku masih melihat Andra memegang pisau tersebut dan makin menancapkannya di dadaku. Aku tak mengerti kenapa ini terjadi, “SAKIIIIIIT!”, aku ingin berteriak dengan kencang namun mulutku tak dapat digerakkan. Oh Tuhan! Tuhan! Ada apa ini?! Ini sakit. Sakit!! Sakit!! SAKIIIIIT! Ya Tuhan kenapa kau tega?!!!

Pandanganku kearah Andra makin kabur dan semu. Rasa sakitnya sudah mulai hilang. Aku dapat merasakan tubuhku mulai kehilangan kontrol atas diriku. Inikah rasanya mati itu? Aku belum siap untuk mati..

***

“Bagaimana sudah beres?”

“Iya, sudah.”

“Sulit juga manipulasi otak itu.”, ujar Andra seorang wanita berambut pendek kepada Marta yang berdiri di sebelahnya.

S, seorang pasien rumah sakit jiwa yang kabur akhirnya telah kembali lagi ke habitatnya sebagai orang tidak waras. Sudah 2 bulan X kabur setelah membunuh salah satu suster rumah sakit dan mengambil seluruh barangnya termasuk kunci kontrakan dan sebuah handphone. Hingga akhirnya sebuah chip yang memang telah ditanam di kepala setiap pasien membuatnya kembali lagi ke sebuah rumah sakit jiwa yang dikelola secara misterius oleh pemerintah ini. 
Dany Cerebral Boig Hospital atau yang biasa disebut DCB berdiri dipinggir kota, tepat setelah melewati hutan tropis yang terkenal dengan fenomena bunuh diri masal tahun 1989.

DCB dilabeli sangat rahasia oleh pemerintah. Karna dibalik cover nya sebagai rumah sakit jiwa, di sana juga merupakan tempat uji coba sebuah chip buatan nazi sejak perang dunia kedua. Sebuah benda kecil berbentuk sebesar sim card yang gunanya hanya untuk menyiksa musuh secara psikis dengan cara memainkan cara berpikir otak terhadap objek yang akan dilihat subjek. Praktisnya, chip ini dapat membuat kita mengatur apa yang harus dilihat dan dilakukan oleh orang tersebut, dulu biasa disebut Puppe Project oleh para Nazi. Cara penggunaan chip tersebut, dikontrol dari sebuah komputer dengan menggunakan aplikasi khusus. Sebenarnya project ini sudah dilarang pemakaiannya, namun secara rahasia praktek dan uji coba chip ini masih berjalankan di DCB. Ya, dengan pasiennya sebagai kelinci percobaan.

“Tapi dia tak akan mati kan?”, ujar Marta dengan nada suara yang sedikit takut.

“Tidak, dia hanya mati dalam pikirannya tapi badannya masih tetap hidup.”, Andra menjawab dengan tenang, pelan namun pasti.

Marta terdiam sejenak namun dia langsung berinisiatif untuk menggotong tubuh X, lebih tepatnya pasien dengan kode X. Dia bermaksud untuk membawa X kembali kedalam ruangan kamarnya.

“Aku sudah sering membuatnya merasakan mati.. emm.. kalo seingatku ya.. ya mungkin udah 6 kali dia kubuat mati.. hehee..”, tiba tiba Andra melanjutkan perkataannya dengan penuh semangat, wajahnya yang tadinya tenang kini berubah 100%  layaknya seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru.

Marta tidak membalas perkataan Andra, dia merasa kotor dan hina. Namun dia pun tak punya kuasa untuk melawan. Andra tak terlihat tertarik membantu Marta walaupun hanya untuk sekedar memapah X. Dia lebih tertarik untuk melihat sambil memilih pilih foto foto semua pasien DCB yang teletak diatas meja kerjanya yang diiringi dengan seringaian kecil dari bibirnya.

“Hei Marta!”, kembali Andra memanggil Marta yang sebenarnya sudah tak tertarik dengan pembicaraan ini.

“Chip itu bisa membuat kita menjadi Tuhan, kau harus mencobanya hahaha!”, tawa lantang yang memecah sunyinya suasana membuat suasana ruangan kotor ini menjadi makin kotor dan menjijikan.

TAMAT

Rabu, 27 Maret 2013

WHISPER



Hei jangan kesana....

Lewat jalan lain saja....

Hei jangan ke sanaaa...

AAAAAAAAAAAAAAA....!!!!



            “Andra, lo denger teriakan barusan?”, ucapku kepada Andra yang berdiri tepat dihadapanku.

            “Hah? Ga denger gue, emang suara apa?”

            “Suara cewe teriak, masa sih lo ga denger?”, dengan nada getir Marta menambahkan perkataanku.
           
Andra hanya menggelengkan kepala mendengar apa yang kami ucapkan, sepertinya dia merasa kami sedang mengalami halusinasi ringan. Bukankah sudah menjadi hal biasa jika tiga orang wanita sedang menyebrang jalan pasti salah satu diantaranya mempunyai permasalahan “parno” dalam urusan sebrang menyebrang ini. Namun kali ini sangat berbeda, aku yakin betul bahwa apa yang aku dengar tadi bukanlah ilusi, melainkan sebuah realita nyata. Aku dapat merasakan suara getir itu muncul dari lubuk hati, sebuah suara lirih yang membuat bulu kuduku semua merinding.
           
Aku dapat melihat wajah Marta yang pucat membisu, aku yakin dengan sepenuh keyakinanku bahwa Marta juga mendengar teriakan lirih tersebut. Andra hanya menggelengkan kepala melihat kami berdua yang hanya berdiri, terdiam dan membisu di sisi jalan, hingga akhirnya ia pun mengambil inisiatif untuk terlebih dahulu menyebrangi jalan yang sebenarnya tidak terlalu ramai ini. Dengan penuh tenaga aku berusaha menggerakan kaki kananku namun semakin berat aku berusaha, semakin berat juga kaki ku untuk menghentak. Aku hanya dapat melihat Andra mulai berjalan menjauh mendekati sisi jalan yang lain, semakin dia menjauh aku mulai melihat dia makin samar dari kedua bola mataku, lalu... BRAAAAAAK!
           
Sebuah papan reklame jatuh menimpa dirinya lalu seketika cairan kental berwarna merah muncrat segala arah. Semua hilang sepersekian detik, semua yang terlihat bergradasi menjadi buram dan hanya meninggalkan potongan kaki penuh darah yang mendarat tepat di sejengkal di hadapanku.

***
           
Sudah sebulan setelah kejadian menyeramkan itu dan aku sama sekali tak dapat memalingkan ingatanku ke hal lain. Hampir tiap malam aku bermimpi Andra mendatangiku untuk meminta tolong mencarikan bagian tubuhnya yang sebenarnya sudah berserakan entah kemana. Alhasil belakangan ini badanku drop hingga aku harus beristirahat di rumah dan kuliahku menjadi berantakan.
           
Beberapa kali juga aku mencoba untuk menghubungi Marta hanya untuk menanyakan kabarnya. Dari kabar yang kuterima teman teman kampus, Marta juga sering tidak masuk kampus stelah kejadian itu. Aku yakin dia pasti mengalami depresi sama seperti yang sedang kualami saat ini. Sebuah perasaan tidak tenang yang terdengar dari lubuk hati, seperti suara wanita yang sedang bersenandung, ya bersenandung, di saat kau sedang duduk terdiam sendiri di dalam kamar.
           
Mungkin ini sudah kali ke-20 aku menelfon Marta dan sampai sekarang belum ada jawaban yang aku terima. Padahal aku sangat ingin tahu apa yang dia lakukan dan bagaimana keadaannya saat ini. Rasa penasaranku ini membuatku memberanikan diri untuk mengunjungi Marta di rumahnya. Kebetulan rumahku dan Marta tidak terlalu jauh, hanya 15 menit waktu perjalanan normal menggunakan mobil.
           
Tak disangka jalanan nampak sepi, sehingga aku dapat lebih cepat 5 menit tiba di depan rumah Marta. Nampaknya alam benar benar mengizinkanku untuk bertemu dengan Marta kali ini. Namun tak biasanya rumah Marta sangat sepi, "aneh", biasanya jam 7 malam seperti sekarang rumah besar ini masih sangat terang benderang walaupun penghuninya tidak ada di rumah. Tapi apa yang kulihat saat ini sangat tidak biasa. Suasana rumah sangat gelap hanya remang cahaya lampu taman yang berdiri kokoh menyinari seisi rumah yang halamannya yang cukup besar.
           
Aku takut. Pikiranku mulai bercabang tak karuan. Namun, rasa penasaran yang teramat besar membuatku ingin mencari tau bagaimana keadaan di dalam rumah bulat bergaya art deco ini. Aku memalingkan pandangan sejenak dari rumah Marta untuk mengambil tas jinjing milikku yang kuletakan di kursi sebelah. Tiba tiba saat aku membalikan badanku untuk melihat keadaan rumah. Aku terkejut seketika tubuhku merinding, suara suara aneh mulai bermunculan dari dalam otaku.

Aku melihat sesosok Andra berdiri di sebelah kaca mobilku, dia masih sangat terlihat sangat cantik dan stylist walaupun dengan kepala gepeng yang sudah setengah hancur itu. Aku terpaku, aku merasa terpesona melihat senyumnya yang masih tergambar dengan sangat indah. Senyuman dari bibir mungil yang mampu menyamarkan bahwa bagian atas kepalanya hanya meninggalkan otak yang berceceran. Aku menggelengkan kepalaku untuk memastikan apakah yang kulihat ini nyata atau masih bagian dari mimpiku. Dan benar saja, sesaat kulihat keadaan sekitar yang ada hanya sunyi. Aku sedikit kecewa namun aku juga lega karna itu hanya halusinasiku semata. Lalu dengan segera aku turun dari mobil untuk memuaskan rasa penasarnku akan rumah Marta.  

Bersambung...

Rabu, 27 Februari 2013

Who Should I Shoot?




Suasana di gedung sanggar tari Jaipong benar benar sangat berantakan. Alat tari, kursi dan meja semua tergelatak tak beraturan. Semua murid tari baik pria maupun wanita memperlihatkan wajah ketakutan mereka, tak ada cerah bahagia hanya ada rasa takut. Hari ini bukan hari yang menyenangkan bagi semua orang yang berada di dalam gedung sanggar tari ini. Semangat yang ada ketika latihan tadi seketika hilang saat dua orang membawa senjata tiba tiba masuk kedalam sanggar dan langsung mengancam para murid tari. Sepertinya kedua orang itu sedang dikejar oleh sesorang yang berbahaya.
            Lima menit setelah itu dua orang dengan jaket kulit tebal masuk kedalam sanggar dengan terburu buru. Salah satu dari mereka yang bernama Henry memegang sebuah pistol dengan wajah yang sangat masam. Seluruh wajahnya menjadi berwarna merah menahan amarah yang sudah diambang puncak membuat usia 32 tahunnya terlihat sangat jelas. Berbanding terbalik dengan temannya yang sangat ketakutan, keringat dingin mengucur dari kepalanya. Sangat terlihat jika dia sangat tak siap untuk menghadapi hal yang sangat tidak diinginkan.
            Henry terdiam dia terlihat sangat bingung dengan apa yang terjadi. Wajahnya tadi yang menunjukan amarah seketika hilang begitu saja berganti dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya mengapa saat ini ia berada di hadapan tujuh orang murid sanggar tari yang sangat ketakutan ketika melihat wajahnya.
            “Dimana ini?”, ucap Henry dengan nada heran. Dia lalu mengambil sebuah catatan kecil yang ia simpan di kantong belakang celan jeansnya. Dengan sangat terburu buru dia membuka lembar per lembar catatan sampai akhirnya menemukan sebuah kata dihalaman pertama.
            “Kevin, dia sangat penting.”
            Ketika membaca kata dari tulisan tersebut, Henry segera menyadari bahwa dia datang kemari untuk suatu hal yang termat penting.
            “Kevin! Dimana yang namanya Kevin!”, dengan kencang teriakan Henry seakan memecah kesunyian yang ada dalam ruangan sanggar ini.
            “I... Itu sa... saya Hen”, rekan Henry yang ketakutan menjawab pertanyaan tadi. Rekan Henry ini adalah Kevin. Dia adalah seorang penjahat kecil yang biasanya mencuri dari para gelandangan dan pengemis. Henry dan Kevin baru bertemu sekitar 1 bulan yang lalu di kota Bandung ini.
            Henry merupakan orang yang sangat rumit. Dia menderita penyakit anterograde amnesia, sebuah penyakit amnesia mengacu pada ketidakmampuan sesorang untuk menciptakan kenangan baru karena kerusakan otak. Telah tiga bulan lamanya Henry seperti hidup di dunia mimpi, dia tidak dapat mengingat hal yang baru saja dia alami. Kenangan baru hanya mampir 10 menit dalam otaknya lalu kenangan itu segera hilang tanpa jejak, itu lah sebabnya Henry sangat tergantung pada note kecilnya untuk dia membantu mengingat secara instan.
            Penyakit yang diderita Henry ini tak datang begitu saja. Sebelumnya dia adalah seorang pengacara flamboyan ibukota yang berasal Palembang. Dia sangat disegani karna berhasil memasukan gembong mafia kedalam jeruji besi. Hingga pada pada suatu malam ketika dia datang rumah pacarnya dalam keadaan mabuk, dia mendapati bahwa kekasihnya Lisa telah dalam kondisi yang tak bernyawa. Ditengah kepanikan dan rasa mabuk yang benar benar membuat kepalanya pusing, tanpa disadari dia menerima pukulan keras dari belakang kepalanya yang seketika membuatnya pingsan. Sejak saat itulah kematian Lisa menjadi kenangan akhir yang hinggap permanen di dalam otaknya, sebuah kenangan buruk yang membuatnya ingin membalas dendam pada sebuah ketidaktahuan. Dan sekarang hanya sebuah catatan kecil yang menjadi fakta baginya, sebuah benda penting hingga pada bagian cover pun tertulis “jangan serahkan pada siapapun”.
            “Henry kau kemari karna mengejar pembunuh pacarmu..”, dengan sedikit ketakutan Kevin berbicara. Seketika amarah kembali muncul dalam benak Henry.
            “Oke.. Oke! Apa kau tau siapa penjahatnya?!”, ucap Henry dengan mengacungkan pistolnya ke kepala Kevin. Seketika semua orang di dalam sanggar menjadi sangat ketakutan karna bisa saja pikiran liar Henry makin memperkeruh keadaan.
            “Aku tak tahu Hen, tadi kau kemari dengan sangat terburu buru dan aku hanya mengikutimu dari belakang.”
            “Catatanku!!”, geram Henry dan langsung mencari catatannya dengan sangat terburu buru. Disaat tengah sibuk mencari catatannya, Henry menyadari bahwa salah seorang penari mencoba untuk melarikan diri dari kelompok.
            Doooor! Henry melepaskan tembakan kearah atas yang sontak saja membuat seluruh orang dalam gedung ini kaget bukan kepalang.
            “Mau kemana kau?”, ucap Henry seraya mendekat kearah anggota sanggar yang mencoba kebur tadi.
            “A... Aku takut.. Jangan bunuh...”, ucap penari yang ternyata seorang wanita ini dengan berurai air mata. Namun air mata tersebut tak berguna di hadapan Henry yang sudah begitu emosi. Dengan perlahan Henry menarik pistol dan mengarahkannya kearah wanita tersebut.
            “Henry.. Jangan bodoh!”, teriak Kevin melihat Henry yang kehilangan akal sehatnya.
            “Apa pedulimu?!”
            Henry yang tadinya sudah akan menarik pelatuknya kearah wanita tersebut tiba tiba menurunkan senjatanya. Dia terkejut dengan apa yang dia lakukan, dia mundur perlahan kemudian mengambil catatannya yang ada di saku belakang. Dia membuka lembar catatannya secara perlahan hingga menemukan tulisan, “Kevin, dia sangat penting”.
            “Hei kau Kevin?”, Henry bertanya dengan volume suara tinggi dan langsung disambut anggukan kepala oleh Kevin.
            “Singkat saja! Kenapa aku di sini?!”, Henry kembali mengarahkan pistolnya kepada Kevin.
            “O... Oke Henry. Kau kemari untuk mencari pembunuh pacarmu. Dan baru saja kau akan menembak seorang wanita, dia bukan pembunuhnya. Yang kau cari dua orang lelaki komplotan Medan. Kau harus tenang Man”, dengan tenang Kevin berbicara untuk mencairkan suasana dan meredakan amarah Henry.
            “Semuanya berbaris sekarang”, dengan tenang Henry menyuruh semua murid tari untuk berbaris di hadapannya.
            “Enam orang wanita dan empat orang lelaki, kalau begitu pelakunya ada diantara kalian berempat.”, ujar Henry diiringi tatapan mata menujukan kebencian dia bergeak lalu menatapi keempat pria tersebut bergantian.
            Tiba tiba Henry berhenti pada pria botak yang terlihat berusia sekitar 30 tahun yang berdiri pada sisi kiri. Dia menyadari suatu hal bahwa tak ada pria yang menari Jaipong, apalagi para pria dewasa yang menggunakan kaos oblong putih, celana hitam pendek sedengkul serta riasan wajah menor seperti ini.
            “Kau siapa?”, Henry bicara seraya mengangkat pistolnya kepada pria tersebut.
            “Ja... Jangan bang... Aku OB di si.. sini..”, dengan logat sunda yang medok dan muka yang terus mengeluarkan keringat dingin pria tersebut berbicara dengan terbata bata. Namun terlihat dari wajah Henry dia sangat tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh pria itu.
            “Kenapa berpakaian seperti ini?”
            “Aku di an.. ancam bang...”, Henry menatap tajam kepada pria berambut botak tersebut kemudian dia beranjak pergi, yang disambut dengan helaan nafas panjang oleh pria botak itu. Tapi belum sempat pria tersebut lepas dari ketegangan tiba tiba Henry kembali lagi kepadanya.
            “DOOOORRR!!!”, suara tembakan bergema diseluruh ruangan yang disambut dengan suara histeris para penari wanita yang seraya menutup mata. Darah dan serpihan otak mengucur keluar karna tembakan yang tepat diarahkan ke dahi. Kevin dengan sigap langsung menarik tubuh Henry yang memerah karna terkena percikan darah.
            “Hei apa yang kau lakukan? Siapa kau?”, ujar Henry melihat Kevin menarik tubuhnya.  
            “Siapa aku?! Ayolah Henry! Kau baru saja membunuh orang yang salah! Aku ini Kevin, penyakitmu ini sangat merepotkan!”
            “Siapa pembunuh pacarku?!”, dengan penuh amarah Henry berteriak kepada Kevin.
            “Dua orang komplotan Medan!”, Kevin membalas pertanyaan Henry, kemudian dia dengan cepat menggotong mayat yang baru saja ditembak mati oleh Henry. Suasana di dalam gedung benar benar menjadi sangat mencekam.
            “Oke, kita lupakan itu. Aku tidak sengaja menembaknya. Dan kalian para wanita, berhenti berteriak dan menangis kalau tak ingin seperti itu”, ujar Henry dengan ekpresi datar.
            Henry mendekat kearah pria yang berdiri disebelah pria botak tadi. Pria muda berambut gondrong ini hanya merunduk sambil menutup matanya, dia benar benar sangat ketakutan. Perlahan Henry mulai mendekat kepada pria itu dan perlahan pula lah pria tersebut mulai meneteskan air mata.
            “Bu.. Bukan aku bang...”,  belum sepat Henry berbicara pria tersebut langsung merunduk berlutut untuk meminta ampunan kepada Henry yang membuatnya sedikit terkejut.
            Henry sedikit tersentak karna perbuatan pria ini tapi sudah tak ada lagi belas kasihan dalam matanya. Keadaan ini membuat Henry menjadi sedikit canggung dan bingung, namun lama kelamaan dia mulai menyadari keanehan. Seorang penari Jaipong pria saja sudah menunjukan gejala tak beres, ini ditambah lagi dengan logat Sumatra yang khas. Seorang penari Jaipong dengan logat Sumatra yang terdengar jelas. Benar benar sangat aneh. Naluri alamiah Henry langsung bekerja dan otak Henry segera memerintahkan tangannya untuk kembali mengacungkan pistol kearah pria tersebut.
            “Dimana teman kau yang satu lagi?”, Henry berbicara dengan volume pelan sepelan jari telunjuknya menarik pelatuk pistol.
Pria tersebut hanya diam tak menjawab pertanyaannya walaupun sebenarnya dia memang tak menginginkan jawaban dari pria tersebut. Henry sadar bahwa orang Medan adalah orang yang setia kawan, mereka pasti tak akan membiarkan temannya kesusahan dalam keadaan sesulit apapun.
“Kalau tak mau bilang, jangan salahkan aku.”, semua penari wanita serentak kembali menutup mata karna tak ingin melihat kejadian mengerikan seperti tadi. Kevin pun kali ini tak terlihat seperti ingin melakukan pencegahan, karna dia pun yakin bahwa orang ini sadalah salah satu dari komplotan tersebut.
Henry masih menunggu salah satu teman pria ini untuk keluar, tapi jika tak juga menunjukan batang hidungnya dia pun tak ragu untuk menghabisi orang yang sedang memohon ampun padanya ini. Lagipula jika pria ini mati hanya tinggal dua orang lagi yang menjadi tersangka, bukan menjadi hal yang sulit untuknya.
“Belum juga mau bilang?”, pelatuk mulai ditarik Henry secara perlahan. Tiba tiba pria yang berdiri di barisan paling kanan segera berjalan maju kedepan.
“Itu aku.. Itu aku!!, pria yang terlihat berusia 40 tahun, berambut ikal dan bertubuh kurus ini berbicara logat Sumatra dan dengan sedikit kehati hatian kepada Henry.
“Oh, keluar juga kau!”, teriak Henry seraya menarik tubuh komplotan yang tadi bersujud memohon ampun padanya. Dengan kencang Henry mencengkram pria tersebut lalu mencungkan pistol kearah kepala. Lalu dengan tenang Henry menggerakan kepalanya memberikan kode kepada penari yang disandera untuk segera kabur meninggalkan gedung ini. Dan dalam sekejap semua orang berlari meninggalkan ruangan hingga yang tersisa hanya Henry, Kevin, dua orang penjahat dan satu mayat di ruangan tersebut.
“Tenang Henry, aku Tom... Bukan kami pembunuhnya.. Kamu hanya disuruh..”, ujar penjahat bernama Tom ini.
“Apa maksudmu?”
“Kami hanya pembunuh bayaran.. yang menyuruh kami.. Sandman.”
“Sandman?”, seketika pikiran diotak Henry segera mengakses nama tersebut. Nama yang tak asing baginya, sebuah nama yang menunjukan pemimpin mafia yang dulu sempat akan dia masukan kedalam penjara. Seorang bos mafia yang mempunyai banyak anak buah di seluruh negri. Dan seorang bos mafia yang penuh misteri karna tak ada seorang pun yang pernah melihat wajahnya. Keberadaan Sandman seperti urban legend, tak ada seorang pun pernah melihatnya namun kejahatannya nyata senyata gajah yang berdiri diantara semut. Dia seperti peri yang membuat orang tertidur, tertidur lalu mendapatkan mimpi yang buruk.
“Jelaskan padaku?!! Singkat saja!”, Henry mulai merasakan bahwa ingatan ini akan segera hilang dari kepalanya. Tak ada yang lain dipikarannya selain kata “cepat”.
“Sandman menelfon kami, la.. lalu menyuruh kami..”, dengan penuh ketakutan Tom berbicara kepada Henry meskipun dia tau ini tak akan berdampak apa pun.
“Arrrgggh!” Doooorr!!”, Henry mengerang lalu tanpa sadar dia menarik pelatuk hingga menewaskan salah satu komplotan tersebut. Dia terkejut lalu menjatuhkan mayat yang dipegangnya.
Melihat hal ini Tom memanfaatkan keadaan untuk berlari keluar gedung. Henry terlihat masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Dia melihat Tom berlari dengan sangat ketakutan. Intuisi Henry bekerja karna merespon Tom yang tiba tiba berlari. Dia dengan cepat menarik pelatuknya yang tepat mengenai dada Tom dari arah belakang. Tom roboh dan seketika kehilangan nyawa  dengan banyak darah yang mengucur keluar.
Hanya kebingungan yang terlihat dari wajah Henry, dia langsung menoleh kearah Kevin yang tercengang dan masih terduduk memegangi mayat. Dia masih tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi, namun dia mengetahui bahwa baru saja terjadi hal yang besar. Suatu hal yang dia cari selama ini. Henry dapat merasakannya walaupun dia tak dapat mengingatnya.
***
Dibawah terang bulan purnama Henry dan Kevin berjalan beriringan. Mereka berjalan tanpa arah dan tujuan dibawah pepohonan rindang, sebuah tempat sunyi yang menjadi saksi bisu kekacauan yang baru saja terjadi.
“Apa aku berdosa?”, Henry bertanya kepada Kevin yang hanya dibalas dengan gelengan kepala yang bermakna ambigu. Suasana sangat hening, hingga suara perut Henry yang keroncongan terdengar sangat jelas.
“Apa penyakitmu separah itu?”, tanya Kevin.
“Ya... Yang kuingat hanya kematian Lisa..”, perasaan sedih masih menyelimuti Henry setiap mengingat Lisa.
“Berarti kau tidak ingat bagaimana kita bertemu?”, ucap Kevin.
Henry menggelengkan kepala dengan tetap fokus berjalan dan dia baru saja lupa bahwa tadinya dia benar benar sangat lapar. Dia segera membuka buku catatannya untuk mengetahui apa yang akan dia lakukan saat ini.
“Oiya, kau Kevin?”, sebuah pertanyaan yang sangat sering diajukan oleh Henry setelah melihat buku catatannya.
“Ya. Ehm.. bisa kulihat buku catatanmu?”, Henry menyerahkan buku catatannya kepada Kevin setelah membaca tulisan “dendam terbalas” di bagian akhir note nya.
“Kau lihat ini Henry”, ujar Kevin sambil menunjuk tulisan “Kevin, dia sangat penting” yang dibalas dengan ekspresi bingung oleh Henry.
“Tulisan ini sangat berbeda dengan tulisanmu yang lain, apa kau tak menyadarinya?”, Kevin berkata yang dibalas Henry dengan langsung menarik catatannya dan segera memeriksanya, akhirnya dia menyadari bahwa tulisan tersebut memang sangat berbeda dari tulisan tangannya.
“Kau pasti lupa, kita pernah bertemu lima hari setelah kematian Lisa.”, ujar Kevin diiringi senyum lebar yang tergambar dari wajah tirusnya.
“Apa maksudmu?”
“Tidak, aku hanya ingin beri tahu bahwa aku yang memberimu catatan itu dan aku yang menulis kata kata itu di halaman pertama.”
Henry sangat bingung dengan apa yang diucapkan oleh Kevin. Dia mencoba mencerna kata kata tersebut namun gagal karna dia sama sekali tak mampu mengingat kejadian tersebut.
“Bermain denganmu sangat menyenangkan tapi sekarang sudah tak ada serunya lagi. Aku mau cari permainan baru, komplotan tadi komplotan keempat yang kau bunuh dan sekarang aku merasa bosan.”
Henry menelaah perkataan Kevin hingga tanpa disadari dia telah berjalan lima langkah meninggalkan Kevin dibelakang. Keringat keluar dari sela sela kepala Henry, dia memaksa otaknya untuk mengakses maksud dari yang Kevin ucapkan saat ini.
“Apa sebenarnya maksudmu?”, Henry berhenti berjalan kemudian bertanya dengan penuh kebingungan.
“Aku jelaskan, sebenarnya kita sudah bersama setahun. Dan dalam waktu selama itu, tadi adalah komplotan keempat yang kau bunuh dengan alasan yang sama. Dan itu adalah buku catatan keempat yang aku beri padamu. Penjahat seperti itu demi uang bisa melakukan apa saja termasuk mengakui kejahatan yang bukan dia lakukan.. Hahahaa!”, tawa kemengan keluar dari mulut Kevin.
 “Kau tahu Sandman? Dia yang memukul kepalamu dan dia yang membunuh... Lisa!”, Kevin kembali berkata kali ini dengan nada sedikit mengejek.
Henry terdiam, dia segera menyadari sesuatu. Dia mulai mengerti apa yang Kevin ucapkan dan dia menyadari bahwa selama ini telah dipermainkan. Dia menjadi sangat marah dan langsung menerkam Kevin dengan sangat buas.
“Kau Sandman?!”, teriak Henry dengan penuh amarah. Kemudian ia langsung menoleh kebelakang setelah mendengar ucapan tersebut, sebuah ucapan yang sebenarnya sangat tidak ingin dia dengar. Namun betapa terkejutnya dia karna melihat Kevin dengan senyum lebarnya sudah siap dengan pistol yang mengarah kearah kepalanya.
“Ya benar kau benar Henry dan terima kasih atas permainannya.”
Keadaan Henry benar benar sangat terdesak, dia tau saat ini dia yang harus dia lakukan hanya lari tapi tiba tiba dia mulai melupakan apa yang harus dia lakukan. Sekarang yang ada hanya rasa kaget melihat senjata yang diacungkan kepadanya, dia tak tau harus berbuat apa, kedua kakinya seperti kaku tak dapat digerakan. DOOORR!!