Wikipedia

Hasil penelusuran

Tampilkan postingan dengan label thriller. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label thriller. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2020

Dukun Setan


Minggu lalu aku bersama tiga orang temanku, Rina dan Joni, berencana berlibur bertiga ke pantai Anyer. Kami bertiga adalah sahabat dekat sejak kuliah semester pertama, dan memang beberapa sebulan sebelumnya kami banyak sekali tugas kuliah. Jadi gak salah kan, kalo kami berencana liburan bertiga ke Anyer dengan mobil Joni.

Kami berangkat dari jam satu siang dari jakarta. Awalnya perjalanan berjalan lancar, selama perjalanan Joni terus menakuti kami kalau di jalan yang kami lalui, sering muncul kejadian mistis tentang dukun iblis. Aku dan Rina hanya tertawa saja menanggapi bualan Joni.

Sekitar jam setengah enam sore, tiba tiba mobil Joni mogok. Di sekitar kami hanya ada hutan, kami pun kebingungan karena sebenarnya bensin masih penuh ditambah kami tidak ada yang mengerti tentang mesin mobil. Disaat kebingungan, ada yang mengetuk jendela mobil. Joni yang duduk di bangku supir membuka jendela. Ada seorang pria paruh baya menanyakan keadaan kami dan menawarkan bantuan. Nama pria itu adalah Pak Rizal, dia menyuruh kami untuk mampir ke rumahnya yang ada di seberang jalan. Dia bilang kalau anaknya adalah montir yang mungkin bisa membantu kami. Kami bertiga pun setuju, karena memang tidak ada pilihan lain.

Hari mulai menjelang malam, tapi anak Pak Rizal belum juga mulai memperbaiki mobil kami. Pak Rizal bilang kalau anaknya kerja sebagai montir di kota dan biasanya baru sampai rumah setelah solat isya. Pak Rizal lalu menawarkan kami makan malam, Rina mencoba menolak karena tidak enak tapi karena aku sangat lapar, aku mengiyakan tawaran Pak Rizal.

Pak Rizal menyuruh kami duduk di meja makan, sambil menunggu istrinya mengantarkan makanan. Tak lama kami menunggu, muncul seorang nenek berwajah pucat dengan rambut putih seperut mengantarkan sebakul nasi. Nenek itu berjalan dengan sangat pelan sampai aku, Joni dan Rina saling pandang karena merasa aneh. Pak Rizal lalu memberitahukan kalau wanita itu adalah istrinya. Ketika Pak Rizal bilang kalau itu istrinya, aku makin merasa aneh karena secara fisik usia Pak Rizal mungkin masih sekitar 50 tahun, sedangkan nenek tadi mungkin usianya sudah 80 tahun.  Aku dan ketiga temanku hanya bisa saling pandang, aku tau kalau kami bertiga sedang memikirkan keanehan yang sama.

Setelah semua makanan datang, Pak Rizal yang sudah ditemani dengan istrinya mempersilahkan kami makan. Dengan perasaan sedikit takut, aku mulai makan lele goreng yang sudah disiapkan. Baru aku makan tiga gigit tiba tiba kepalaku terasa pusing, lalu Rina tiba tiba terjatuh pingsan, kemudian disusul oleh Joni, tak lama aku juga ikut pingsan.


Aku pelan pelan membuka mata, aku tak tau sudah berapa lama tak sadarkan diri. Aku masih berada di meja makan, di depanku masih ada Joni yang pingsan. “Joni.. Joni...” Aku membangunkan Joni dengan suara pelan. Joni akhirnya bangun dengan wajah bingung, lalu dia menanyakan Rina, Pak Rizal dan istrinya yang tidak ada di meja makan.

Kami berdua berinisiatif mencari Rina. Kami memasuki kamar yang ada di rumah tapi kami tidak ada seorang pun. “Jon, lo dengar gak ada suara di belakang rumah?” Sayup sayup aku mendengar suara dari belakang rumah. Joni terdiam dan memastikan sumber suara itu, lalu Joni langsung menarik aku ke belakang rumah.

Di belakang rumah, kami melihat sebuah kejadian aneh. Rina sedang tidur terlentang di atas tanah, disampingnya ada istri Pak Rizal sedang duduk jongkok, lalu Pak Rizal sendiri sedang berdiri mendongakan kepala keatas dengan mulut komat kamit. Aku sadar kalau Rina sedang dalam kesulitan, namun karena takut aku dan Joni seakan tidak bisa menggerakan badan kami.

Di depan mata kami, tiba tiba... istri Pak Rizal menggigit nadi tangan kanan Rina. Dan sepersekian detik muncul kejadian aneh yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Saat nadi Rina digigit, seperti ada perpindahan energi antara Rina dan istri Pak Rizal. Pelan pelan tubuh Rina mengering, dan tubuh istri Pak Rizal terlihat semakin muda. Se.. sepertinya.. darah Rina saat ini sedang disedot sampai habis.

Aku langsung membaca bacaan bacaan agama kepercayaanku sampai akhirnya tubuhku bisa bergerak lagi. “RINAAAAA!!!!” Saat tubuhku bisa bergerak, aku langsung berteriak menyebut nama Rina. Tapi ternyata tindakanku salah.

     Pak Rizal dan istrinya yang tampak lebih muda melihat kearahku dan Joni yang sedang bersembunyi, dan tampak di tanah tubuh Rina yang sudah kering kerontang. Bulu kuduk ku makin merinding melihat hal itu, ditambah istri Pak Rizal menyeringai lebar. Seringai dari bibirnya hampir menyentuh kedua telinga. Keadaan menjadi sunyi, dan pecah saat tiba tiba istrinya tertawa keras... hihihihii.. hihihiii..., Pak Rizal lalu berlari kearah kami bersembunyi.

Secepat mungkin aku lari menyelamatkan diri. Tanpa kusadari aku hanya lari sendirian, karena ternyata Joni masih kaku terdiam di tempat kami bersembunyi. Saat aku mencoba kembali, Pak Rizal muncul dan langsung menggigit telinga kiri Joni. Aku ingin menolongnya, tapi aku terlalu takut. Aku pun memutuskan untuk lari keluar rumah tanpa melihat kebelakang. Aku lari kencang, lalu terjatuh dan tak sadarkan diri.

Keesokan harinya aku terbangun di jok mobil yang jendelanya sudah terbuka lebar, dihadapanku ada beberapa penduduk desa sedang kebingungan melihatku. Aku melihat semua sudut mobil tapi tidak ada keberadaan Rina dan Joni. Aku langsung menceritakan kejadian yang aku alami semalam kepada penduduk desa. Diantara semua penduduk desa, ada satu nenek tua bicara padaku, dia bilang... “Dukun setan sudah menemukan tumbalnya untuk hidup abadi...”.

*******

Minggu, 23 Agustus 2015

AFTER MIDNIGHT: THE MEN WHO KNEW TOO MUCH



"All the ways you wish you could be, that's me. I look like you wanna look, I fuck like you wanna fuck, I am smart, capable, and most importantly, I am free in all the ways that you are not."

          “Bagaimana quotes favoritku? Kau pasti tau itu dari film apa?”

       Suara wanita bising yang penuh amarah dan keangkuhan terdengar nyaring keluar melalui speker kecil yang berada di pojok kiri ruangan. Ruangan 3x4 yang cukup sempit untuk dihuni satu orang. Cukup membuat gerah, karna dilapisi dengan dinding besi namun berpintu kayu oak yang kokoh dan tanpa daun jendela. Mara, seorang pria paruh baya terduduk lesu di pojok ruangan, dia sudah empat hari berada di ruangan aneh, tanpa makan dan minum. Dia tak mengerti apa alasan dia bisa berada di sini, kejadian terakhir yang dia ingat adalah dia sedang menelfon anaknya dari telfon umum di pinggir stasiun kota. Tiba tiba saja dia dipukul seseorang dari belakang, dan kemudian tersadar di ruangan sempit ini.

       “Fight Club, bangsat! Apa mau mu?”, jawab Mara dengan emosi.

     “Tidak.. Hanya bertanya saja...” Jawab suara yang keluar dari ujung speaker.

   Mara, adalah seorang wartawan senior disebuah surat kabar ternama di ibu kota. Dia juga seorang ayah dari satu orang putri yang masih berusia empat tahun, istrinya sudah meninggal setahun lalu karna bunuh diri. Dia merasa selama ini tak punya musuh sama sekali, dia hanya wartawan film bukan wartawan politik jadi tak mungkin ulasan atau kritikannya akan menyinggung orang lain. Hal yang dia alami sekarang berada diluar nalar akal sehatnya sebagai manusia. Bingung, kesal, marah dan lapar semuanya bergabung menjadi satu hingga tak cukup dengan satu kata untuk menjelaskan apa yang Mara rasakan saat ini.

      “Mara.. Mara... Mara... Kau pintar, aku tertarik denganmu. Kau selalu membuatku bergairah ketika berpura pura bodoh...” Kembali suara wanita keluar dari ujung speaker.
             
        “Cih! Aku tak mengerti maksudmu?!”
                
     “Wartawan berpengalaman dengan prestasi meliput banyak kasus yang menghebohkan, apakah menurutmu salah satu dari sekian banyak tulisanmu tak ada yang menyinggung orang lain?”, ujar wanita itu seraya tersenyum sinis yang terdengar menggema.
                
      Tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya yang hanya bisa terduduk disudut ruangan, Mara mencoba mengingat semua kasus yang ia tulis di surat kabarnya, mulai dari kasus korupsi yang melibatkan CIA dan MI6, pelacuran kelas atas yang melibatkan menteri luar negeri, hingga party orgy yang melibatkan anak para pejabat pemerintahan. Tentu dari semua kasus yang pernah ia beritakan, membuatnya mendapatkan banyak musuh yang bergerak secara tak kasat mata, bahkan bukan tak mungkin sebentar lagi namanya akan menghilang dari perederan.
                
     “Aku beri waktu 10 detik, jika benar sebentar 5 menit lagi akan ada seporsi ribeye steak datang untukmu.”
                
     Tanpa berkata apapun, Mara terus memutar otak menghubungkan semua kasus yang pernah ia beritakan. Sepiring steak bukanlah menjadi prioritasnya saat ini, melainkan nyawalah yang ia khawatirkan. Empat hari dikurung disebuah ruangan asing, bukan tak mungkin wanita ini malah memberinya racun pada steak itu nantinya. Keringat mengucur dari ubun ubun, karna ia terusa berusaha mengingat dan menghubungkan semua hal menjadi satu kesatuan tapi sepertinya itu semua hasilnya nihil.
                
   “JAWAAAAAB!!!!”, wanita itu berteriak kencang, nampaknya ia sangat emosi karna Mara tak bisa memberikan jawaban apapun.
                
        “A.... ada banyak kasus yang aku tulis, aku tak bisa mengenalmu”, sebuah kalimat keluar dari mulut Mara, bukan sebuah jawaban bagus tapi setidaknya itu cukup memberitahu semua yang ada dipikirannya.
                
    “Ayolahh buat permainan ini seru, kau sama sekali tak membuatku bergairah!”, jawab si wanita misterius.
                
         Mara mulai menyadari bahwa dirinya sedang berada di posisi yang sangat tak menguntungkan, ia tau bahwa sebuah masalah besar sedang menghampirinya.
                
          Dooor!! Door!! Door!!
                
         Terdengar tiga kali suara tembakan, persis diluar ruangan tempat Mara dikurung. Dengan penuh kebingungan bercampur rasa takut, ia mulai bergerilya di ruangan sempit itu mencari sebuah tempat untuk berlindung walaupun ia tau hal itu tak menghasilkan apapun. Namun ternyta sepertinya bukan ia saja yang panik, dari balik speaker sayup terdengar sedikit kepanikan dan amarah dari wanita misterius itu. Mara menyimpulkan sepertinya orang orang dibalik speaker, juga terkejut dengan suara tembakan itu namun menurutnya ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan apa yang terjadi dibalik speaker.
                
     Tiba tiba saja pintu oak yang menahan Mara ditembak dua kali secara beruntun, yang mengakibatkan pintu tersebut terbuka. Sosok pria dengan proporsi badan tinggi dan tegap, rambut hitam klimis, berkacamata hitam dengan sebatang rokok menempel di bibirnya memasuki ruangan. Mengenakan jas press body berwarna hitam dengan dalaman kemeja biru pastel, ditambah celana bahan model stright berwarna hitam dan sepatu pantofel, pria asing ini terlihat parlente seperti seorang excutive, tapi saat ini pria itu memegang sebuah handgun klasik tipe Walther P99 di tangan kanannya.
                
              “Mara Cornell?”, ujar pria itu seraya menunjuk wajah Mara dengan tangan kirinya.
                
         Mara yang terkejut tak bisa bekarta apapun, ia hanya mengangguk tanda menjawab atas pertanyaan dari pria tersebut. Pria itu langsung menghampiri dan menarik lengan kirinya, ia memaksa untuk mengikutinya keluar dari kurungan itu. Dengan kedua kaki yang bergetar hebat, Mara mencoba mengikuti pria itu, entah kenapa ia meyakini bahwa pria itu datang untuk menyelamatkannya.
                
       “TANGKAP PENGACAU ITU!!!!!!!” kembali terdengar teriakan wanita misterius dari balik speaker, sepertinya ia sangat marah dengan keadaan yang terjadi.
                
             Mendengar teriakan itu, pria itu membuang rokoknya dan langsung saja menarik Mara untuk mempercepat jalannya. Mara terkejut melihat keadaan diluar ruangannya disekap sudah dipenuhi tiga mayat dengan kepala berlubang akibat tertembak. Namun ternyata sepertinya usaha mereka untuk keluar tak semudah itu, ruangan tempat mara disekap ternyata terhubung dengan sebuah jalan menyerupai labirin panjang dan gelap. Mara menyimpulkan sepertinya ini sebuah ruangan bawah tanah khusus yang dirancang khusus sebagai tempat persembunyian.
                



       Mara hanya mengikuti arahan dari si pria misterius, yang memberi intruksi agar Mara mengkikuti pergerakannya secara perlahan dari belakang. Dengan mengacungkan senjatanya, pria itu bergerak pelan menyusuri jalan berdinding baja seperti sedang menghindari sesuatu yang tak diharapkan.
                
              Door!! Dooor!!!

Hampir berjalan selama 10 menit tiba tiba saja terdengar suara tembakan dari arah belakang, beruntung tembakan itu meleset tanpa mengenai mereka berdua. Mendengar suara tembakan, pria itu langsung menarik Mara untuk segera berlari menyelamatkan diri. Saat ini kira kira mereka sedang dikejar oleh lebih dari sepuluh orang yang semuanya memegang senjata. Pria tersebut berlari dengan sangat kencang menarik Mara hingga mereka menemukan sebuah jalan persimpangan yang sepertinya dapat membuat mereka bersembunyi untuk semenatara waktu.

Dengan bersembunyi dibalik sebuah tembok, pria tersebut memasang posisi siap menembak dan Mara yang ketakutan hanya bisa bersembunyi dibelakang pria itu. Melihat mereka berdua yang bersembunyi, kesepuluh orang pengejar itu pun bersiap melakukan serangan dengan menodongkan semua senjata mereka. Adu tembak pun tak bisa dihindarkan, Dooor! Dooor! Dooor! Doooor!! Semua pengejar tadi menembakan amunisinya kearah persebembunyian mara dan pria itu. Pria itu tak membalas satu pun tembakan yang dialamatkan padanya, ia hanya terlihat mengeluarkan sebuah peluru berwarna biru yang ia masukan kedalam handgun miliknya, sepertinya tembakan bertubi tubi ini membuatnya tak memiliki kesempatan untuk membalas tembakan.

Namun sepersekian detik saat serangan terdengar melengah karna para pengejar mulai kehabisan peluru, pria itu langsung keluar lalu menembakan handgunnya tepat diatas dinding batu tempat para pengejar itu berdiri. Hanya dengan satu kali tembakan saja, dinding batu itu runtuh menimpa seluruh pengejar itu. Pria itu tersenyum kecil seakan bangga dengan apa yang telah ia lakukan, melihat hal itu mara menyimpulkan sesuatu bahwa pria ini bukanlah orang biasa.

Pria itu kembali menarik lengan mara untuk kembali bergerak, kali ini mereka berdua berlari dengan kecepatan penuh karna sayup sayup dari kejauhan terdengar suara langkah kaki bergerak kearah mereka, kali ini mereka dikejar oleh lebih banyak orang dari sebelumnya. Pria itu menarik mara bergerak kearah kanan dan kiri, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah tangga yang menuntun mereka keatas. Benar dugaan mara, bahwa saat ini ia memang disekap disebuah ruang bawah tanah yang dirancang khusus.

“Cepat, kau naik keatas, biar aku yang tangani ini.” Ujar pria itu.

Tanpa keraguan karna dikalahkan oleh rasa takut teramat sangat, ia mengikuti perintah pria itu. Mara menaiki tangga yang menuntunnya ke dunia atas, pria itu pun mengikutinya dari belakang.

“Cepat! Cepat!” ujar pria itu, yang membuat mara otomatis mempercepat gerakannya. Tak lama kemudian para pengejar tiba ditangga tempat mereka mencoba naik keatas, mengetahui hal itu, mara makin mempercepat gerekannya hingga akhirnya ia berhasil terlebih dulu keluar. Dilain waktu, dengan kedua tangan memegang tangga, pria itu sibuk menendang satu persatu wajah para pengejar yang mencoba menaiki tangga untuk menangkapnya. Pria itu sepertinya memang memiliki kekuatan yang besar sehingga para penjaga yang mengganggunya menaikin anak tangga, terlihat seperti bukan lawan sepadan.

Tak lama, akhirnya pria itu pun bisa keluar dengan melalui lubang got tepat dipinggir kota. Tepat pukul 00.00 dibawah terang cahaya bulan, pria itu melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi ia kenakan lalu menyimpannya dibalik kantong jas. Ia kemudian mengeluarkan sebuah bolpoin hitam klasik, kemudian memutarnya kearah kiri sehingga memunculkan sebuah angka 10 berbentuk digital dari gagang bolpoin tersebut. Angka 10 itu tiba tiba countdown ketika ia menekan gagang bolpoin, di detik kelima pria itu membuang bolpoin kedalam lubang got.

“DAAAARRRRR!!!”

Bolpoin itu meledak memunculkan sebuah asap orange yang keluar dari dalam lubang got tersebut. Pria itu tersenyum kecil, mengetahui keberhasilannya mengalahkan semua orang yang mengejar dirinya. Namun senyuman itu tak berlangsung lama, setelah ia menyadari harus mencari keberadaan Mara namun ketika ia membalik badan... Ia melihat tubuh Mara sudah terbujur kaku di aspal dengan kepala hacur akibat tembakan.  

Disamping mayat Mara berdiri seorang wanita muda berusia sekitar 30 tahun dengan mengenakan mantel penghangat tubuh, blue jeans, boots coklat berbulu ditambah dengan sebuah topi baseball menutupi rambut blondenya. Wanita yang memiliki hidung mancung, mata tajam dan bibir tipis tersebut terlihat sangat marah ketika berhadapan dengan pria itu. Disisi lain, pria itu tau bahwa wanita tersebutlah yang menembak mati Mara dengan pistol yang ia genggam erat di tangan kanannya. Wanita tersebut menembakan pistolnya kesisi jalan disebelah kanan pria itu, ia membuat gertakan sebelum akhirnya menodongkan senjata kearah si pria. Kini jarak antara pria itu dan wanita tersebut tak lebih dari 15 meter saja.

“Angkat tanganmu!!!” Gertak wanita tersebut.

Dengan tetap tenang, pria itu langsung mengangkat tangannya mengikuti perintah wanita tersebut. Dari intonasi suara dan tingkat emosi yang ditunjukan, pria itu berasumsi bahwa wanita tersbut ialah wanita yang suaranya muncul dari balik speaker ruang tahanan Mara.

“Apa maumu?!!” Teriak wanita itu.

“Menyelamatkan dia”, jawab pria itu seraya menggerakan telunjuk kirinya yang menunjuk mayat Mara.

Wanita itu makin geram melihat gestur dan ekspresi si pria misterius itu. Dari genggaman kencang pistol yang ia arahkan, sangat terlihat jelas bahwa ia serius akan menembak pria itu.

“Siapa kau?!”

“Aku? Aku Vasper Jansen.” Jawab pria itu sambil tersenyum, yang malah makin membuat wanita itu makin tersulut amarah.

“jangan main main denganku!!!” Teriak wanita itu dengan kembali menembakan pistolnya 2 meter disamping kiri pria itu berdiri.

“Hahahaa oke aku bercanda. Kau Vasper Jansen, anak dari Bruce Jansen, pemimpin komplotan mafia terbesar di negeri ini. Justru aku yang harus bertanya, apa masalahmu dengan Mara Cornell?”

“Bukan urusanmu!! Bukan urusanmu!!! Balas wanita yang bernama Vasper Jansen tersebut.

“Kau ingin balas dendam pada Mara karna telah membantu penyelidikan polisi untuk menghukum mati ayahmu?” Tanya pria itu.

Vasper terdiam mendengar ucapan pria itu, ia terkejut mengetahui pria itu mengetahui semua hal tentang dirinya.

“Pria ini membahayakan organisasi kami!!” ujar vasper dengan tiga kali kembali menembakan pistolnya ke mayat Mara yang telah terbujur kaku.

Mendengar ucapan Vasper, pria itu menurunkan kedua tangannya lalu menyilangkannya. Tanpa menunjukan rasa takut atau terintimidasi, ia tersenyum kearah wanita yang terus mengarahkan pistolnya itu.

“Sayang sekali Vasper, padahal dengan kecantikan yang kau miliki aku tak ragu untuk mengajakmu dinner atau mentraktirmu dua gelas martini.” Ujar pria itu dengan kata kata lembut yang menggoda. “Vasper Jansen, adalah nama terindah yang pernah kudengar.” Terang pria itu, melanjutkan kata katanya.

Ucapan pria itu ternyata membuat Vasper makin marah besar, ia tak terima dengan perkataan itu yang baginya terdengar seperti melecehkan harkat dan martabatnya.

“Siapa kau?!!!!” Teriak Vasper yang tak ragu menarik pelatuk pistolnya.

“Kau tau siapa namaku,” ujar pria itu, “aku agen MI6 dengan kode Tiger.” Lanjutnya, seraya menyentuh jam tangan yang terpasang di tangan kirinya.  

Mendengar ucapan pria itu, Vasper terlihat langsung menyadari sesuatu hal yang berhubungan dengan MI6 dan kode Tiger, hal itu seketika membuatnya ingin langsung menarik pelatuk pistol. Namun ternyata pria itu ternyata telah memperhitungkan apa yang akan dilakukan oleh Vasper. Pria itu menekan dengan kencang jam tangannya, yang seketika membuat malam menjadi terang benderang.


Tiba tiba saja sebuah mobil marcedes benz hitam yang berada dibelakang Vasper menyalakan lampu. Hal itu membuat konsentrasi Vasper terganggu dan membuatnya segera melihat kearah mobil yang berada dibelakangnya itu. Lalu hanya dalam hitungan detik, mobil itu memunculkan senjata dari kap depannya yang membuat Vasper menjadi sangat terkejut.

Melihat hal tersebut, si pria misterius langsung bergerak cepat kearah Vasper kemudian memukul tengkuknya dari belakang yang seketika membuatnya pingsan. Lalu dengan santai, pria itu berjalan kearah mobil marcedes benz dengan meninggalkan Vasper yang pingsan tergeletak disamping mayat Mara.

                                             *****

Pria itu menyetir mobil melewati kota dengan sangat santai, ia melepaskan jas, membuka bagian atas kancing kemeja, juga meletakan Walther P99 dan kacamata hitam di kursi penumpang yang ada disebelahnya. Ia kemudian menekan sebuah tombol berwarna merah menyala yang berada dibagian monitor mobil tersebut, kemudian seketika saja muncul sebuah gelombang berwarna biru.

“Password?” muncul suara digital yang membuat gelombang pada monitor menjadi bergerak.

“Kode: Tiger.”

“Report status?”

“Report status: Misi gagal, target tewas tertembak.” Jawab pria itu dengan sedikit kegetiran, karna kegagalannya menyelesaikan misi untuk menyelamatkan Mara.

“Say your name if your report done”

Pria itu menghela nafas dengan kegagalannya menyelesaikan misi tadi karna menurutnya misi itu akan berhasil jika saja ia lebih berhati hati dalam menentukan tindakan, sebuah kegagalan yang cukup disayangkan untuk seorang agen rahasia sekaliber dirinya. Namun disisi lain, ia juga cukup menyimpan sebuah kebahagiaan tersendiri karna dapat bertemu langsung dengan Vasper Jansen, walaupun wanita itu hampir saja membunuhnya.

“Namaku Malaka, Andre Malaka. Laporanku selesai dan dalam perjalanan kembali”, jawab pria itu menyelesaikan laporannya.  
     
               





Jumat, 21 Juni 2013

Love Will be Carried Away




          Hemm.. kurasa padang rumput bekas peternakan pinggir kota Den Haag adalah terindah di dunia. Tempat ini sangat pas untuk melepaskan penat sehabis bekerja seharian penuh, sekedar duduk ataupun tiduran sambil melihat awan dan diiringi suara angin yang bertiup dinamis adalah surga dunia. Pekerjaan sebagai tukang pos bersepeda di kota Den Haag memang menyenangkan tapi juga sangat merepotkan dan melelahkan. Dalam sehari aku bisa hilir mudik dari satu tempat ketempat lain, bertemu dan berinteraksi dengan berbagai macam orang ataupun mengalami kecelakaan kecil di jalanan, sudah seperti makan siangku sehari hari. Dan rasa lelah itu semua hanya dapat diobati dengan rumput peternakan ini, surga, inilah surga.

         Sebenarnya ada sebab lain yang membuatku sangat betah berada di sini, hanya dari sini aku dapat melihat masa laluku yang sangat bahagia. Dari sini aku dapat melihat dengan jelas rumah masa kecilku, ya setidaknya dulu keluargaku hidup bahagia di rumah yang berada di sebrang peternakan ini. Dulu aku hidup bahagia dan sangat berkecukupan sebelum ibuku menjadi gila dan membakar seisi rumah yang menyisakan aku sendiri yang selamat. Ayah, kakak perempuanku dan ibuku sendiri terjabak hangus di dalam rumah, sedangkan aku berhasil selamat entah bagaimana. Aku tak mengerti bagaimana saat itu aku bisa selamat, tiba tiba saja aku terbangun dan sudah berada di rumput peternakan ini dengan keadaan rumahku yang sudah tersisa bekas kayu terbakar. Orang orang bilang aku beruntung tapi tak butuh keberuntungan, aku hanya ingin hidup bersama keluargaku.
                
         Saat pertama kali mengetahui hanya aku sendiri yang selamat dari kejadian itu, membuatku sangat shock dan stres selama berbulan bulan. Aku tinggal di sebuah panti asuhan tanpa seorang teman, aku mulai suka menyendiri dan emosional, kenyataan bahwa keluargaku telah tiada adalah cobaan yang sangat berat pada usiaku saat itu. Dan disaat seperti itu lah aku mulai bisa melihat sesuatu yang aneh, sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain. Aku dapat melihat orang mati. Orang mati itu datang menghampiriku, hampir setiap hari. Mereka datang dengan berbagai keadaan, tanpa kepala, wajah terbakar dan juga ada yang masih berperawakan sempurna layaknya seorang manusia. Sampai sekarang hal ini sangat membuatku takut, aku menjadi makin dikucilkan dipergaulan karna tiba tiba sering menangis dan menjerit. Padahal aku melakukan itu bukan untuk cari perhatian, itu karna aku takut, aku merasa diteror, hidupku sangat tidak tenang.

Berkali kali aku mencoba bunuh diri tapi selalu saja gagal, ada saja kejadian yang membuatku tak jadi mati. Dan kegagalan yang kualami untuk bunuh diri membuatku menjadi terobsesi dengan itu. Aku berlomba dengan diriku sendiri untuk mati. Bunuh diri adalah list teratas dalam hidupku yang harus aku lakukan. Walaupun perkerjaanku yang mengharuskan bertemu orang baru tiap harinya ditambah padang rumput ini memberi arti bahwa hidupku sangat berharga dan aku suka kehidupan itu. Tapi semua hal bahagia itu kembali berganti kesedihan dan amarah ketika aku kembali melihat orang orang mati yang terus menggangguku, khususnya Carrie. Dari semua kemungkinan, cuma satu yang aku pikirkan jika Carrie muncul dan kembali menggangguku. Ya, mati. Bunuh diri adalah cara yang indah untuk mengakhiri hidupku yang sangat menyedihkan ini.


****


Hari ini adalah hari yang tepat untuk mati, aku yakin itu. Aku sudah membeli sebuah pistol revolver dengan harga yang cukup murah, walaupun pistol tersebut cukup menguras gaji bulananku. Bagiku cukup indah untuk mengakhiri hidup dengan sebuah tembakan yang diarahkan ke mulutku sendiri, aku dapat langsung tewas tanpa mati secara perlahan sangat cepat dan singkat untuk mengakhiri kehidupanku yang tak berarti ini. Aku mengambil pistol yang kusimpan di dalam tas kemudian memasukannya ke dalam mulutku. Ternyata hal ini tak semudah yang aku pikirkan, keringat bercucuran dari kepalaku, rasa takut mulai memakan keangkuhanku. Aku langsung menarik pistol tersebut dari mulutku karna tiba tiba saja aku kehilangan keberanian untuk menarik platuk. Aku tadi teringat dengan Carrie, seorang hantu wanita yang selalu mengikutiku. Dia sangat cantik walaupun dengan tubuh penuh darah bekas bacokan kapak. Carrie selalu memanggil namaku, menampakkan diri seenaknya dan terus membuatku tidak nyaman dalam melakukan kegiatanku.

Dan tadi saat aku mencoba menarik pelatuk pistolku, aku mendengar Carrie memanggil namaku. Dan benar saja, ternyata saat ini dia telah berdiri tepat dihadapanku dengan senyumannya yang lebar dan penuh penderitaan.

Kau tak bisa melakukan itu, John. Kau lemah.”

Ujar Carrie dengan suara liciknya yang meragukan keberanianku untuk menarik pelatuk guna mengakhiri hidupku.
                
          Aku tak akan menghiraukan ucapan Carrie, kali ini aku harus melakukannya. Mati di padang rumput ini mungkin adalah hal terbaik dalam hidupku, setidaknya lokasi aku mati dekat dengan lokasi keluargaku saat mati terbakar. Di sini aku dapat merasakan kehadiran seluruh anggota keluargaku, aku dapat mati dengan tenang di sini. Namun Carrie terus menerus meragukan keberanianku, dia yakin pekerjaanku sebagai tukang pos membuatku lemah. Ekspresi kebahagiaan orang yang kutemui ketika menggu pesan dari orang yang disayangi membuatku berpikir bahwa hidup bukan sekedar apa yang kita inginkan tapi tentang apa yang kita butuhkan. Argghhh, aku tak boleh lemah. Aku harus bunuh diri, ini waktu yang tepat. Aku tak boleh plin plan di depan hantu yang terus menerus mengganggku. Aku harus mengakhiri hidupku saat ini juga.
                
       Aku kembali menaruh pistol kedalam mulutku lalu kembali melepaskan. Entah mengapa saat ini aku mulai berpikiran jernih. Aku berpikir, jika nanti seseorang menemukan tubuhku yang mati dengan kepala hancur maka aku pasti dianggap gila. “Seorang pria gila mati bunuh diri”, pasti headline koran koran akan seperti ini. Aku tidak gila tapi jika aku mati seperti ini maka aku akan dianggap gila. Apalagi ibuku adalah orang gila yang membunuh seluruh keluarganya sebelum akhirnya membakar diri di dalam rumahnya sendiri. Anak orang gila, akhirnya menjadi gila dengan membunuh dirinya sendiri. Ohh – logika ini seketika kembali membuatku ragu untuk menarik pelatuk pistolku. Tiba tiba saja aku menjadi takut, aku tak sanggup melihat wajah menyeramkan Carrie dengan tawa kemenangan yang menjadi miliknya. Egoku berkata bahwa ini saatnya aku yang tertawa penuh kemenangan walaupun kenyataannya aku harus mati. Dan aku harus merelakan padang rumput, pekerjaan dan semua hal yang kusenangi pergi menjauh.
                
       Kenapa lagi John? Takut mati?, suara lirih Carrie terdengar makin seperti hinaan di telingaku.
                
       “Kau terus menggangguku Carrie, pergilah!”, emosiku mulai tersulut mendengar ocehan Carrie terus menerus.
                
     “Kau berani mengusirku? Aku temanmu John, lebih tepatnya aku satu satunya temanmu! Hahahaa!, Carrie menyelesaikan ucapan lirihnya dengan tawa lantang yang makin membuatku muak.
                
        Ucapan Carrie ada benarnya, hanya dia yang selalu muncul dalam hidupku. Aku sering bertemu dengan hantu lain namun tak ada yang selalu intens mendatangiku selain Carrie. Dulu aku sempat ngobrol dengannya tentang kematian. Sebuah obrolan aneh karna obsesiku akan bunuh diri dan secara kebetulan aku dipertemukan dengan hantu yang pastinya telah menerima kematian, walaupun dia mati karna dibunuh. Itu sama saja untukku, seorang yang mati tetap saja mati hanya penyebabnya saja yang berbeda. Tapi jika Carrie menganggap dirinya sebagai temanku, tentu saja dengan tegas aku menolaknya. Dia terus menerus menggangguku dengan suaranya yang lirih dan terus menerus mengajakku bermain sebuah game bodoh yang bisa saja telah membunuhku sejak lama. Jika saja hantu dapat mati dua kali maka aku telah membunuh Carrie sebanyak sepuluh kali.
                
        Bagaimana jika game terakhir?”, Carrie berkata kali ini dengan ekspresi serius terdengar dari suara yang keluar dari mulutnya.
                 
         “Terakhir? Apa maksudmu?



                
     Sebuah taruhan kecil, jika kau menang aku akan pergi selamanya dari hadapanmu. Tertarik?”, sebuah tantangan yang cukup menarik perhatianku keluar dari bibir Carrie.
                
        Aku tak bisa percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan Carrie, bagaimana mungkin aku tau bahwa dia tak menipuku. Lagipula apa keuntungan yang dia dapatkan dari game seperti ini. Hantu wanita ini tak henti hentinya berhenti mempermainkanku. Tapi ini sebuah kesempatan bagiku, aku penasaran apa yang ada di pikiran Carrie hingga berani bertaruh seperti itu.
                
    Lanjutkan, apa yang kau mau?”, aku menyuruh Carrie melanjutkan perkataannya.
                
          Kau masih ingin mati kan..?

Carrie membalikan pertanyaan kepadaku, yang kubalas dengan anggukan tanda mengiyakan pertanyaan Carrie tersebut. Apapun tantangan yang diajukan Carrie, aku akan tetap berusaha untuk mati di sini, dekat dengan keluargaku yang kucintai.

Peternakan ini tempat favoritmu dan kau pasti tau tapat jam enam sore lampu jalan di sini akan menyala. Dan lima belas menit lagi tepat jam enam.”, senyum licik Carrie makin melebar mungkin saat ini selebar bibir angsa.

Dan ini permainannya, jika lampu jalan tidak menyala tepat waktu seperti biasanya, maka kau menang dan aku dengan sukarela akan meninggalkanmu. Hiduplah sebagaimana layaknya pengantar pos yang menyedihkan..., ekspresi wajah Carrie menjadi lebih serius dari sebelumnya, dia diam sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.

Tapi - jika lampu itu menyala tepat jam enam seperti seharusnya. Maka segera kau ambil pistolmu, letakan di mulutmu, tarik pelatuknya dan semua akan terjadi sesuai maumu. Bagimana? Menarik bukan?

Sebuah tantangan yang membuat dadaku sesak. Aku mulai ragu dengan keputusanku untuk bunuh diri, keberanianku ciut dengan tantangan gila yang diajukan oleh Carrie. Jika tadi nyawaku berada diujung pistol maka sekarang nyawaku berada pada lampu jalan. Tapi jika aku tak menerima tantangan Carrie maka dia akan terus menerus menggangku hidupku dan aku hanya akan tetap hidup dengan kerinduan akan bayang bayang keluargaku. Hampa. Keyakinanku untuk mati dan bertemu dengan keluargaku jauh membumbung lebih tinggi. Untuk apa aku tetap hidup di dunia tanpa arti dan hanya ditemani oleh hantu yang membuatku gila.

Aku terima!”, aku menjawab tantangan Carrie dengan tegas namun dengan ekspresi wajah yang kurang meyakinkan. Entah kenapa kehidupanku sebagai tukang pos mulai mempengaruhi keputusanku.

Tapi jika aku mati di tengah padang rumput peternakan seperti ini maka orang orang hanya menganggapku gila, Carrie!”, rasa takut membuatku terus melakukan pembenaran walaupun aku sendiri tak tau apa gunanya aku melakukannya.

Anak dari orang gila pun takut dibilang gila? Apa kau tak sadar dari dulu kau memang sudah dianggap gila?”

Aku terdiam mendengar ucapan Carrie. Memang benar sejak selamat dari kebakaran orang orang menganggapku gila. Apalagi dengan kemampuanku bicara dengan hantu, yang membuat orang orang merlihatku seperti selalu bicara sendirian. Tak ada yang mau berteman dengan orang yang terlihat gila sepertiku.

Kau lihat diarah utara ada pohon besar. Kau bisa berdiri di sana dan menenunggu apakah lampu jalan akan menyala tepat waktu. Jika kau mau bunuh diri dibawah pohon besar maka itu akan terlihat biasa. Bunuh diri dibawah pohon adalah hal umum – hahaha!”

Aku berjalan pelan kearah pohon yang ditunjuk oleh Carrie. Langkahku sedikit berat untuk meninggalkan pekerjaan yang kucintai, meinggalkan rumput peternakan yang dapat membuatku tenang. Namun jika terus hidup, aku selalu berada dibawah tekanan kerinduan akan sosok keluarga. Aku yakin keluargaku di dunia sana sudah menunggu kedatanganku dan jika sudah berada di dunia sana aku tidak dipusingkan lagi dengan ocehan Carrie. Aku berjalan dengan penuh keraguan dan dilema yang bergemuruh di dalam otakku.

Pohon besar ini akan menjadi saksi hidupku selajutnya. Hidup dan matiku ditentukan oleh lampu jalan yang akan menyala satu menit lagi. Ya satu menit lagi. Sambil berdiri diiringi lembut angin dari rerumputan, aku menangis untuk diriku sendiri. Ternyata aku sendiri juga takut akan kematian, lubuk hatiku mengharapkan lampu jalan tak menyala tepat waktu.

Santai, John. Semua akan berjalan lancar sesuai keinginanmu. Sekarang masukan pistol itu kedalam mulutmu dan mulailah menghitung mundur..

Aku mengikuti perintah Carrie untuk langsung memasukan pistol kedalam mulutku dan mulai menghitung mundur dari detik 60 di dalam hati. Aku melihat kearah tanah kosong bekas rumahku kemudian kearah atas untuk melihat lampu jalan yang menjadi penentukan nasibku.

Tak usah takut, John. Ini permainan terakhir kita. Anggap ini adalah malam pergantian tahun baru yang biasa dirayakan oleh semua orang di dunia. Kita akan berpesta jika waktu telah dimulai. Maka sekarang kita harus menghitung mundur bersama sama..

“Tiga belas...”

“Dua belas...”

“Sebelas..”

“Sepuluh...”

“Sembilan......”


...............................



Rabu, 12 Juni 2013

Black Cat



Jika kalian membaca tulisan ini, aku yakin kalian akan berpikir aku tidak waras. Terserah dan masa bodoh dengan pendapat kalian, tapi kejadian ini memang sangat nyata bagiku. Aku tau mustahil bagiku untuk meminta kalian mempercayainya, sesuatu yang bahkan sebenarnya tak dapat diterima akal sehat. Aku bukan orang gila yang suka meracau tentang khayalan,  aku yakin ini bukan mimpi, ini nyata. Kalian tau, aku sekarat, jantungku mulai membeku dan aku yakin 1 jam lagi aku akan mati, ya 1 jam lagi, maka dari itu aku berharap dapat mengurangi sedikit sampah dalam beban hidupku sampai kematianku datang. Aku menulis ini bukan untuk meminta simpati kalian, tujuanku menceritakan ini saya untuk menceritakan apa yang sedang kualami di sini, di rumah ini. Ini semua aku tulis apa adanya, tanpa ada embel embel penyedap rasa ataupun tambahan kiri kanan dramatisasi cerita. 

Kejadian ini sangat menyiksaku, bahkan terus menghantui dan menyiksaku sejak lama. Aku harap setelah aku menceritakan kejadian yang kualami ini, kalian yang masih berpikiran tenang dan logis dapat memahami apa yang kurasakan, rasa takut yang menyeruak hingga ubun ubun kepala. Rasa waspada yang selalu menyiksaku dari belakang kepala. Sekarang pun, saat aku sedang menulis ini tanganku benar benar terasa sangat berat tiap menggerakan ujung pena, kepalaku bergetar merinding, dan aku yakin saat ini diawasi oleh banyak pasang mata yang ada di seluruh sudut ruangan kecil ini. Ini benar, aku tidak bohong. Aku tidak gila.

Sejak kecil, tepatnya saat aku masih sekolah dasar aku sudah ditampung di panti asuhan lokal di daerahku, Karlsruhe. Ayah dan ibuku mati karna tertangkap tangan telah membantu keluarga Yahudi untuk bersembunyi dari kejaran tentara Nazi. Kedua orang tuaku ditembak ditempat (tepat di kepala) di depan kedua mataku. Kejadian itu masih sangat membekas dalam pikiranku, aku masih sanggup mengingat dengan detail bagaimana darah dan serpihan otak keluar dari kepala orang tuaku.

Menyedihkan memang, mungkin karna itulah aku jadi dikenal orang sebagai seorang pendiam dan penurut. Sangat jarang bahkan hampir tidak pernah aku berdebat dan mencari masalah dengan orang lain tapi semua itu tak ada guna nya, sampai saat ini aku tidak punya teman. Semua orang mengganggap aku aneh karna aku tak mampu berkata tidak, banyak dari mereka berburuk sangka padaku apalagi aku hanya anak yatim piatu yang sangat miskin. Tapi aku tak butuh belas kasihan.

Rasa kesepianku hanya dapat kulimpahkan dalam bentuk sebuah tulisan, dalam sebuah tulisan aku dapat merancang skenario apapun yang aku inginkan sesuai dengan keinginanku. Aku dapat membuat kalian mati dalam tulisanku. Pada awalnya menulis hanya jadi sekedar hobi bagiku namun seiring waktu, dari tulisanku sudah dapat membeli rumah tua sederhana, hasil dari jerih payahku menulis cerpen untuk koran lokal. Ya walaupun sebenarnya bangunan rumah ini hanya dikelilingi batu bata yang tinggi dan tebal, dengan atap yang terbuat dari kayu oak. Dan secara jujur kukatakan sebenarnya tempat ini lebih terlihat seperti penjara dibanding rumah. Oh ya, aku lupa memperkenalkan diri. Kalian bisa panggil aku Oliver, Oliver Malaka. Tentu saja ini bukan nama asliku, jika kalian sering membaca koran pagi Karlsruhe kalian pasti sudah tau aku ini siapa.

Cukup sudah basa basi busukku. Beginilah cerita yang membuatku sangat ketakutan. Sekali lagi kuingatkan, aku tidak butuh pendapat kalian yang membaca tulisanku ini, aku hanya ingin bercerita.

Tiga tahun yang lalu, saat aku berusia 30 tahun aku menikah dengan seorang wanita muda yang mengaku sebagai penggemarku, dia selalu berkata bahwa dia sangat menyukai caraku menulis misteri yang menurutnya tulisanku sangat nyata. Dia mengajakku menikah dan langsung kuiyakan karna tak kupungkiri bahwa saat itu aku butuh teman berbagi cerita dan hasrat seksualku harus dilampiaskan, walaupun sebenarnya dia gendut dan sangat cerewet. Sudah dua tahun, dan pernikahan kami baik baik saja walaupun belum dikaruniai anak. Aku masih sibuk dengan pekerjaanku sebagai penulis, sedangkan istriku memang lebih fokus mengurus rumah dan berkebun menanam bunga matahari di taman kecil 3x3 meter milik kami yang berada disebelah kiri rumah. Suasana rumah tangga kami yang harmonis tiba tiba berubah setelah dia memelihara kucing yang dia temukan sedang menggali tanah di taman kami. Aku sangat tidak suka dengan hewan namun istriku ngotot ingin memelihara dengan alasan kesepian karna sering kutinggal kerja, aku tak dapat menolaknya dan akhirnya kuizinkan kucing itu menjadi salah satu dari anggota keluarga kami.

Kucing hitam bertubuh besar dan berbulu hitam pekat itu sangat pintar, sangat sering aku mendengar pujian yang diberikan istriku kepada kucing yang dia beri nama Bruxa. Dalam bahasa Portugis, Bruxa dapat diartikan penyihir. Sebenarnya nama Bruxa sendiri merupakan nama salah satu tokoh cerita yang pernah kubuat dalam salah satu cerpenku, yang berkisah tentang penyihir yang dapat berubah wujud menjadi seekor kucing. Istriku berujar kucing ini sangat pintar seperti Yahudi yang berusaha kabur dari kejaran Nazi dan dia berkata bahwa kucing tersebut pasti jelmaan penyihir. Isriku mempunyai rasa humor yang sangat bagus, bukan?

Lambat laun aku mulai terganggu dengan kehadiran Bruxa, seringkali dia mengeong keras saat aku sedang konsentrasi mengerjakan tulisanku. Bahkan kuhitung sudah tujuh kali dia secara terang terangan menghampiriku dengan tatapan yang menantang. Kucing ini memang bangsat, dia tau bagaimana cara membuatku kesal. Hingga akhirnya, atau tepatnya 3 hari yang lalu aku mendapat kabar, bahwa teman lamaku, Oliver Malaka –yang asli- datang berkunjung ke rumahku dan dia ingin menginap selama tiga hari sebelum melanjutkan perjalanannya ke India.

Sudah 10 tahun aku tak bertemu dengan Oliver, bahkan dari kabar terakhir yang kudengar dia sudah mati di medan perang saat menjadi tentara sukarela Nazi. Dia datang tak sendiri, dia membawa kucing peliharaannya yang sangat mirip dengan Bruxa. Dari bulu yang berwarna hitam pekat dan tubuh yang besar sangat mencerminkan Bruxa, benar benar kembar yang otentik.

Di sinilah keanehan mulai terjadi di rumah ini. Semenjak kedatangan Oliver, Bruxa hilang entah kemana. Aku sudah tak pernah lagi mendengar suara bahkan melihat tatapan bengisnya. Istrikupun beberapa kali memintaku untuk mencari Bruxa ke hutan, tapi dengan halus kutolak permintaannya dengan alasan tidak enak meninggalkan Oliver di rumah. Sebenarnya aku sangat senang tak bertemu lagi dengan kucing berisik itu. Namun semalam pada saat aku sedang tidur lelap, tiba tiba aku mendengar suara kucing mengeong, tepat disebelah telinga kananku. Aku membuka mataku ternyata ada seekor kucing berdiri diujung ranjangku. Aku tak yakin apakah kucing itu Bruxa atau kucing Oliver. Sontak aku membangunkan istriku, namun dia tak bergeming. Dia masih terlelap dengan dunia mimpinya, atau mungkin badannya yang gendut membuat senggolanku tak berarti apa apa.

Kucing itu berjalan mendekat kearahku bak seorang jagoan. Dia menantangku dengan tatapan matanya yang terus tertuju padaku. Aku takut. Aku bingung. Tak tau harus berbuat apa. Tiba tiba dengan cepat kucing setan itu melompat kearahku, dan terjadilah pertempuran antara aku dan kucing itu. Dia mengeluarkan kukunya yang tajam dan mengarahkannya ke wajahku, aku dapat merasakan wajahku tercabik terkena cakar tersebut. Aku sangat marah. Aku hanya berpikir, kucing ini harus mati! Harus mati!

Kucing besar ini bukanlah makhluk yang mudah dikalahkan, tubuhnya yang besar membuatku seperti melawan seorang pria dengan kekuatan penuh. Dengan kekuatan penuh akhirnya aku berhasil mendorong kucing tersebut ke lantai dan dengan cepat aku mengambil pisau yang memang sengaja kusimpan di meja kecil disebelah ranjang. Aku ambil pisau itu dan langsung kurajam lehernya hingga nyaris putus! Kucungkil mata kanannya lalu kucabik cabik tubuhnya yang besar! Seketika aku dapat merasakan jantungku memompa darah lebih cepat, tubuhku bergetar, wajahku memerah, aku sangat menikmati hal ini tiap darah yang keluar dari kucing ini membuatku makin bersemangat!

Hahahaa! Aku tertawa dengan lantang. Badanku bergetar hebat, aku merasa sangat gagah. Ini lah rasanya menang! Ini lah bau kemenangan, ini lah rasa nya berhasil mengalahkan kucing iblis yang terus menerus menggangguku.

Istriku! Istriku! Aku mencoba membangunkan istriku untuk memperlihatkan padanya kemanangan yang telah kudapatkan dari kucing tersebut. Cukup lama aku menggoyang goyangkan tubuh istriku namun sama sekali tak ada tanggapan darinya. Aku mulai cemas dan langsung membuka selimut untuk memastikan keadaan istriku. Oh Tuhan – ada apa ini?! Aku melihat darah merah keluar dari tubuh istriku. Warnanya merah pekat menyimbolkan sebuah red rum dan bau nya, bau nya seperti tempe basi yang siap disajikan untuk makan malam ratu tikus.

Astaga apa yang terjadi pada istriku? Darah bercucuran dari tubuhnya, lehernya nyaris putus dan matanya.. mata kanannya hilang, persis seperti kucing tadi. Eh tunggu dulu, aku seperti melupakan sesuatu. Bagaimana mungkin keadaan istriku tiba tiba persis keadaan kucing tadi? Bagaimana bisa? Aku langsung mengecek jasad kucing tadi, tapi jasad itu sudah hilang bagai ditelan bumi. Hah? Apa mungkin yang kubunuh tadi adalah istriku?

Suasana malam menjadi sangat mencekam, bulan bagaikan mendekat kearahku untuk menakutiku. Aku mencoba tenang, aku mencoba untuk tidak takut. Tapi semakin aku mengelak, makin juga aku membohongi diriku sendiri. Dalam lubuk hatiku yang jauh di dalam, entah mengapa aku meyakini bahwa aku yang telah melakukan ini pada istriku tapi kenyataannya tidak! Aku membunuh kucing itu – bukan istriku!

Kau membunuhnya – terdengar suara Oliver, ternyata dia telah berdiri tepat dihadapanku entah sejak kapan. Apa maksudmu? Kucing itu yang kubunuh! Oliver tersenyum mendengar ucapanku. Sebuah senyuman kotor yang pertama kali kulihat seumur hidupku, senyuman licik dari seorang teman lama yang misterius. Tiba tiba dia mengangkat tangan kanannya yang ternyata sudah memegang pisau yang tadi kugunakan untuk membunuh kucing besar tadi.

Pisau itu?! Bagaimana bisa? Aku ingat jelas bahwa pisau itu tadi masih tertancap di tubuh gendut istriku. Oliver menyeringai penuh kepuasan dan tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia tersenyum dengan saat puas sebelum akhirnya menghunuskan pisau tersebut tepat ke dadanya sendiri. Aku terkejut dengan apa yang kulihat ini, apakah Oliver sudah mulai gila. Keadaan di sini sudah mulai tak terkontrol, otakku sudah mulai kacau untuk menelaah kejadian ini dengan akal sehat.

Tapi anehnya Oliver sama sekali tak menunjukan ekspresi sakit karna terhunus pisau, dia masih tersenyum bahkan kali ini menyeringai dengan sangat lebar hingga memperlihatkan semua giginya. Argghh- ada apa ini? Dadaku tiba tiba saja sakit. Ternyata ada sebuah pisau menancap di dadaku, pisau apa ini? Pikirku dalam hati dengan penuh rasa terkejut. Dengan penuh kesadaran bahwa pisau ini adalah pisau yang sama dengan yang dipegang Oliver tadi dan juga pisau yang sama kugunakan untuk mencongkel mata kucing tadi.

Kali ini yang berdiri dengan penuh rasa kemenangan adalah Oliver. Dia merentangkan kedua tangannya layaknya seorang pesulap yang berhasil menunjukan trik masterpiece kepada penonton. Dan di sisi lain aku sudah mulai merasakan kehilangangan banyak darah, darah mengalir keluar dari dadaku tiada henti. Oliver mendekatiku yang sudah tak dapat bergerak, aku merasakan jantungku mulai membeku. Dia berkata sesuatu, aku mendengarnya dengan sangat jelas tapi aku tak mengerti apa yang dia maksud. Saat ini aku hanya dapat memejamkan mata menahan rasa sakit yang teramat sangat dari dadaku, otakku tak bisa diajak untuk berpikir rumit saat ini. Ditengah menahan sakit aku masih berusaha mencari kertas dan pena untuk menulis pesan ini dan sosok Oliver sudah menghilang entah kemana. Kita adalah cermin – ujar Oliver padaku tadi.


Enatah ini ilusiku atau ini kenyataan aku melihat sosok Bruxa sedang memperhatikanku. Dia menatapku dengan sangat tajam penuh dengan emosi sebelum akhirnya meninggalkanku santai tanpa ada perasaan berdosa...