Wikipedia

Hasil penelusuran

Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label romance. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 April 2025

Perempuan di Gerbong Lima


Setiap hari pukul 09.30 di hari kerja, Nara, seorang pria dengan hidup dan karir yang biasa-biasa saja, selalu menyempatkan diri naik KRL dari rumahnya di sekitar Rawa Buntu menuju kantornya di Kebayoran. Dia selalu naik dari gerbong lima, bukan karena yang paling sepi atau paling nyaman tapi memang cuma gerbong itu yang paling dekat dengan tangga keluar saat tiba di stasiun, jadi lebih praktis.

Namun ada alasan lain kenapa dia selalu memilih gerbong lima. Di gerbong itu, pandangannya selalu terpaku pada

seorang perempuan kurus, berkulit kuning oriental dengan rambut panjang terurai dan mata tajam. Perempuan itu — yang namanya belum Nara ketahui — selalu memakai kaos oversize warna pastel dan syal putih bergambar kucing. Ekspresi wajahnya selalu cuek, dengan earphone yang selalu tertancap di kedua telinga.

Perempuan gerbong lima, seperti itu dia menyebutnya.

Nara memang pria cupu, mengajak kenalan atau sekedar senyum, caranya saja dia tidak tahu. Sebagai karyawan agency, menurutnya dia tidak punya “selling point”, selain satu hal: selera musik. Playlist musik Indonesia tahun 90an dan 2000an yang selalu dimainkan dari headphone bluetooth-nya setiap hari. Padahal di mata teman-temannya, selera musiknya gak banget – gak update dan sudah terlalu ketinggalan jaman. Katro!

*****

Hari ini jam 09.40, Nara datang buru-buru dengan memegang tumbler isi kopi yang belum sempat diminum. Sudah dipastikan dia akan telat datang ke kantor, akibat begadang karena deadline kerjaan. Kereta datang, dia langsung naik di gerbong lima.

Gerbong lima sedikit padat, membuat Nara tidak bisa merangsek ke posisi tengah. Dia berdiri tepat di depan pintu supaya cepat keluar guna mengejar waktu. Dia memakai headphone-nya, scroll playlist di ponsel berharap musiknya bisa memperbaiki pagi ini. Tapi dia tidak sadar, sedang berdiri berdampingan sejajar dengan perempuan itu.

Kereta berhenti di stasiun Pondok Ranji – satu stasiun sebelum stasiun Kebayoran. Beberapa penumpang masuk dengan tergesa, membuat posisinya bergeser karena bersenggolan. Tiba - tiba tak sengaja tumbler kopi terdorong tumpah mengenai pakaian Nara. Sepertinya Tuhan lagi menguji kesabarannya hari ini.

Ternyata orang yang membuat kopinya tumpah adalah perempuan gerbong lima.

“Ehh, maaf.. Maaf banget..” ucap perempuan itu sambil mengambil tutup tumbler yang jatuh.

Nara terpaku. Dia merasa ada sesuatu yang mengalir pelan tapi pasti. Tanpa kata, tanpa sebab. Getaran kencang KRL yang melewati rel di sekitar Tanah Kusir pun tak mampu membuatnya bergerak.

“I.. I.. iya gak apa apa,” jawab Nara dengan gagap, sambil mengambil tutup tumbler dari perempuan itu. Tapi karena tangannya gemetar, membuatnya fokusnya hilang hingga terus gagal menutup tumblernya.

“Sorry ya, mas. Maaf banget, gak sengaja..”

“Gapapa, gapapa kok,” jawab Nara yang akhirnya berhasil menutup tumblernya.

Kereta tiba di Kebayoran, dan Nara buru buru turun dengan tergesa. Mereka berpisah begitu saja.

Tapi pagi itu, Nara merasa hidupnya berubah sedikit — saat tiba tiba secara random playlist-nya memainkan lagu “Cantik” milik Kahitna: “Ooo cantik.. Ingin rasa hati berbisik..”

Lagu tersebut membuat otaknya yang cupu memproses apa yang baru saja terjadi. Apakah kopi yang tumpah merupakan puncak kesialannya hari ini atau justru jadi bukti kalau Tuhan akan segera mengubah jalan hidupnya.

*****

Esok harinya, Nara kembali naik gerbong lima. Dengan perasaan deg-degan, dia naik ke kereta. Kereta mulai berjalan pelan meninggalkan stasiun Rawa Buntu. Dia melihat perempuan itu sedang duduk memandangi layar ponsel. Dia berdiri tak jauh darinya tapi untuk mendekat sekedar basa-basi pun, masih tak bisa. Dia memilih pura-pura tidak melihat, memakai headphone dan memutar lagu.

Alunan piano mulai terdengar dari lagu “Negeri di Awan” dari Katon Bagaskara. Nara bersenandung pelan, tanpa sadar menyuarakan bait: “Kau datang padaku… Kau tawarkan hati nan lugu… Selalu mencoba mengerti…” — seolah menggambarkan harapannya untuk hari esok.

Tiba - tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang. Nara menoleh, ternyata perempuan gerbong lima.

“Negeri di Awan, ya?”

"Iya," jawab Nara kaget, sedikit kikuk.

Perempuan itu sudah beranjak dari tempat duduknya, sekarang mereka sedang berdiri berdampingan.

“Lagu Katon emang enak sih tapi liriknya terlalu puitis dan melankolis.”

“Lo tahu lagu ini? Dengerin juga?” Nara sedikit kaget.

“Ya tahu dong, itu lagunya enak sih. Tapi gue lebih suka Sheila on 7. Liriknya sederhana, simpel, gampang masuk ke hati,” ucap perempuan itu excited.

Perempuan yang selama ini dikira kaku dan cuek ternyata sangat cheerful ngobrol. Nara merasa garis batas yang membuatnya takut untuk memulai percakapan, mulai luntur menghilang.

“Ahh, jadi ternyata tim Eros ya? Bahasanya ringan kayak lagi cerita ke temen.”

“Ya kan. Lirik-liriknya kayak curhatan di diary.”

“Buset, diary banget tuh. Tahun 2025 nih.. Hahaha.”

“Hahaha, bisa aja. Gue selalu iri, gimana caranya Eros bisa nulis kayak gitu. Kalo lo tim Kla Project, ya?”

“Gak juga sih. Gue dengerin semua musik Indonesia tahun 90an dan 2000an gitu.”

“Ah, sama banget. Di era itu, semua musik itu simple tapi nancep.”

Mereka tertawa. Obrolan mereka mengalir tentang lagu-lagu lawas favorit masing-masing. Nara merasa seperti sudah mengenal perempuan ini sekian lama.

"Lagu - lagu jaman itu kayak jendela perasaan," kata perempuan itu. "Simpel, tapi bisa nusuk."

Tapi lagi - lagi, stasiun Kebayoran datang terlalu cepat.

“Eh, lo harus turun ya di sini?” Tanya perempuan itu.

“Iya, kantor gue dekat sini. Kalo lo turun dimana?”

“Gue abis ini turun, di Palmerah.”

Nara turun dari kereta tapi sebelum pintu tertutup, perempuan itu berkata sesuatu.

“Eh, maaf ya soal kopi yang kemarin.”

Pintu kereta tertutup. Nara tersenyum kepada perempuan itu, memberi kode bahwa kemarin bukanlah suatu masalah, melainkan berkah dari Tuhan.

*****

Hari-hari berikutnya mereka semakin sering bertegur sapa. Kadang hanya dengan anggukan, kadang dengan obrolan ringan. Suatu pagi, Nara menunjukkan playlist-nya, dan perempuan itu mencibir ketika melihat lagu "Roman Picisan" dari Dewa 19 masuk dalam daftar.

"Liriknya lebay, tapi gue akuin jujur banget," katanya sambil ngakak.

"Justru itu seninya. Kayak nulis puisi pakai kata-kata anak tongkrongan," bela Nara.

“Cintaku tak harus miliki dirimu..” – sambil berbisik perempuan itu menyanyikan reff lagu Roman Picisan.

“Kalo cinta ya harus memiliki dong. Walaupun harus dengan pengorbanan yang besar!” Lanjut perempuan itu.

Dia lalu membalas dengan memperdengarkan lagu "Antara Kita" dari girlband lawas Rida Sita Dewi, untuk pertama kalinya Nara merasa lagu itu terdengar lebih hangat dan liriknya masuk ke hati.

*****


Esok harinya, langit mendung sejak pagi. Nara ada meeting dengan klien yang mengharuskannya turun di stasiun Palmerah. Namun kepalanya sudah menyusun rencana untuk ngobrol sambil jalan dengan perempuan itu. Menurutnya, ini saatnya dia berkenalan lebih lanjut. Sekedar mengetahui nama, atau mungkin saling bertukar nomor telepon.

Nara masuk gerbong lima dan mendapati perempuan itu berdiri dekat pintu. Mereka tersenyum tanpa perlu kata pembuka. Hujan mulai turun, dari gerimis jadi deras. Kereta tiba di stasiun Palmerah. Mereka berdua turun berbarengan.

“Tumben lo turun di sini?” Tanya perempuan itu.”

“Iya, gue ada meeting sama klien di sekitaran sini. Tapi hujannya deres banget, pasti telat deh gue.”

Perempuan itu membuka payungnya bening transparan miliknya. "Bareng yuk, kali aja jalan kita searah," katanya.

Mereka berjalan berdampingan di bawah satu payung. Rintik hujan jatuh di sekitar mereka, memantul di genangan trotoar. Langkah mereka lambat, seolah tak ingin segera sampai.

"Gue suka aroma hujan di trotoar basah begini," ucap perempuan itu pelan.

Gemercik air hujan yang memantul di antara mereka seakan membuat suasana jadi makin syahdu. Nara coba cari topik untuk membalas ucapan perempuan itu.

"Kalo gue suka momen kayak gini. Jalan bareng orang asing yang nggak terasa asing," sahut Nara — entah pujangga mana yang tiba tiba merasuki otaknya. Sepersekian detik, dia mereka itu adalah kata - kata yang bodoh dan cheesy.

Perempuan itu tersenyum kecil. "Lo bukan orang asing kok."

Mereka berhenti sejenak di bawah pohon rindang, menunggu lampu hijau untuk menyeberang. Di bawah payung yang kecil itu, bahu mereka saling bersentuhan. Hening. Hanya suara hujan dan detak hati yang terasa.

"Dulu gue sempat pengen jadi penulis," katanya tiba-tiba. "Tapi ya, hidup bawa ke arah yang lain. Kadang gue iri sama orang-orang yang bisa menulis bebas tentang apa aja yang mereka rasain."

“Kenapa lo ngomong gitu?”

“Soalnya ujung - ujungnya perempuan memang harus ngalah dan cuma jadi supporting buat si pemeran utama,” – jawabnya pelan, getir.

Ekspresi wajahnya berubah jadi sendu. Tidak ada lagi senyum cheerful yang selalu ada di beberapa waktu kebelakang menghilang. Air hujan jadi terasa lebih dingin dan menusuk.

"Lo masih bisa jadi penulis. Momen hujan - hujanan kayak gini ini aja, udah cocok dibikin cerpen.. hehehe."

"Lo aja yang tulis tapi jangan pakai nama gue ya. Biar tetap jadi rahasia gerbong lima," ujarnya sambil tertawa pelan.

Mereka berhenti di halte Transjakarta, perempuan itu harus lanjut dengan bus Transjakarta ke destinasi tujuannya. Namun Nara harus jalan terus karena sebentar lagi dengan klien akan dimulai.

“Gapapa, lo bawa aja dulu payung gue. Kalo gue kan di halte, aman gak akan kena hujan.”

Perempuan itu menyerahkan payungnya lalu mereka berpisah menuju tujuan masing - masing. Nara memakai headphone-nya, memainkan lagu: Chrisye yang berjudul “Untukku”. Perlahan hujan berhenti, cahaya matahari mulai masuk menembus payung yang transparan.

*****

Keesokan harinya, Nara datang dengan membawa payung transparan milik perempuan gerbong lima. Di dalam gerbong, dia mencari keberadaan perempuan itu. Namun tidak ada. Hari - hari berikutnya terasa menggantung. Nara mulai mencarinya ke gerbong lain, mencoba menebak - nebak apa yang terjadi. Kali ini sepertinya Tuhan sudah mengembalikan hidupnya ke mode default.

Dua minggu berlalu, dan gerbong lima terasa hampa, sepi, seperti penyanyi yang lupa lirik di tengah konser. Pada suatu pagi, Nara berdiri sendiri di depan pintu kereta. Lagu "Dan" dari Sheila on 7 mengalun pelan di tengah hiruk-pikuk pagi. Saat itulah dia sadar: perempuan itu benar - benar tak datang lagi.

*****

Lewat satu setengah bulan, Nara naik kereta dari gerbong lima seperti biasa. Dia sudah tidak mencari lagi, tak berharap apa-apa. Dia memakai headphone lalu memilih lagu-lagu yang ada di playlist ponselnya. Tapi ketika kereta hampir penuh, ada yang menepuk pundaknya.

"Gue belum sempat ganti kopi lo yang tumpah waktu itu."

Perempuan itu kembali muncul dengan menyodorkan satu cup starbucks berisi kopi.

Nara terkejut tak menyangka tiba - tiba perempuan itu kembali dihadapannya. Dia mengambil kopi Starbucks pemberian perempuan itu. Wajah Nara berubah sumringah.

“Lo dari mana aja? Kok lama gak keliatan?”

Perempuan itu tertawa, "nyariin ya?” – Nara tersenyum kecut, salting karena perempuan itu bisa nebak perasaannya.

“Gue nikah, tiga minggu lalu. Terus ambil cuti kerjaan rada lama, sekalian ke Bali.”

Seperti petir, kata - kata itu menghentakan tubuhnya seraya manuver yang dilakukan masinis kereta. Kereta bergerak kencang, tapi bagi Nara, semuanya membeku. Dia tak berkata apa-apa. Nyalinya ciut, kembali cupu.

Di dalam kepalanya, seperti sedang mencari-cari lagu dalam playlist yang cocok dengan momen saat ini. Mencari sebuah bait lagu yang dulu terasa bermakna, kini justru menancap seperti busur panah. Banyak yang ingin diucapkan, tapi tak ada satu pun yang keluar. Karena semua itu tak akan mengubah apa-apa.

Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat dimiliki. Dan itu jauh lebih menyakitkan.

Perempuan itu tersenyum tipis, lalu berkata hampir seperti bisikan, "gue senang sempat kenal sama lo.”

Nara mengangguk. Matanya tak berani menatap langsung, bibirnya coba bergerak, tapi tetap tak ada suara yang keluar. Hanya sebuah helaan napas panjang.

“Hari ini terakhir gue di Jakarta..”

Dia menatap nanar ke arah jendela kereta. Kilau cahaya matahari menembus menyinarinya, seolah terlihat memberikan salam perpisahan.

“Gue harus pergi buat pindah ke Bali, ikut suami," lanjut perempuan itu.

Ada sesal, ada getir — kenapa Nara baru berani ngobrol dengannya belakangan ini. Tapi juga rasa syukur, karena perempuan itu pernah hadir di hidupnya walau hanya sebentar. Benar kata Ahmad Dhani di Roman Picisan, sepertinya cinta memang tak harus memiliki.

Sebelum penyesalan semakin besar, Nara memberanikan diri menanyakan satu pertanyaan terakhir.

"Nama lo siapa?" tanya Nara yang suaranya nyaris tenggelam oleh deru rel.

Perempuan itu tersenyum.

"Kirana."

“Kirana? Gue Nara.”

Mereka berjabat tangan untuk pertama kalinya, setelah hampir dua bulan obrolan tanpa ada momen perkenalan secara formal.

“Eh, sorry. Gue gak bawa payung lo, gimana nanti gue balikinnya kalo lo ke Bali?”

“Gak usah, buat lo aja. Anggap souvenir dari gue.”

Kereta tiba di stasiun Kebayoran. Nara turun perlahan lalu kembali membalikan badan. Mereka berdua saling melambaikan tangan, memberi perpisahan satu sama lain, sebelum menghilang di balik pintu gerbong.

Playlist Nara secara random memainkan lagu Kirana dari Dewa 19: “Hadir di muka bumi tak tersaji indah… Kuingin rasakan cinta…”

Besok pasti akan ada orang baru yang muncul, tapi tak akan ada lagi Kirana. Entah apa rencana Tuhan selanjutnya tapi yang pasti sejak hari itu, gerbong lima tak lagi sama.

*******

Sabtu, 30 Januari 2016

Si Cantik, Senja...


Sore ini tak berjalan seperti biasanya. Kulihat jam di tanganku sudah menunjukan waktu pukul lima, tapi si cantik itu belum juga muncul di tempat ia biasa berdiri di pojok kiri halte. Hampir satu jam aku di hatle ini hanya untuk melihat wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang dan berkacamata yang selalu aku temui sejak dua minggu terkahir, saat jam pulang kantor. Pertama kali aku melihat wanita ini tepat pukul lima lebih lima belas sore, di hari Rabu dua minggu lalu. Wanita itu memakai blus coklat dengan dalaman kemeja putih bergaris biru, yang membuatnya terlihat elegan. Selain itu, rambut panjangnya yang bergelombang ditambah kacamata berframe hitam membuat penampilannya begitu sensual dan menggemaskan. Aku juga ingat, saat itu ia memakai high heels yang membuat tingginya hampir menyamaiku. Namun kuperkiraankan ia memiliki tinggi sekitar 165 sentimeter, lebih pendek lima sentimeter dariku.

Di hari pertama aku menemuinya, tak ada yang bisa kuucapkan selain gumam dalam hati mengenai betapa cantiknya bidadari yang baru saja kutemui. Aku terus memperhatikannya tanpa memperdulikan sekelilingku, walaupun ia sama sekali tak menoleh kearahku. Seperti yang bisa diperkirakan, hari hari selanjutnya aku tak pernah absen memikirkan wanita misterius itu. Dari mata terbuka hingga terpejam, wajahnya selalui berputar di benakku hingga tanpa kusadari aku orgasme karna hal itu.

Hari ke delapan, aku akhirnya bisa berbicara dengannya walau hanya tiga kalimat saja. Sore itu, hujan turun dengan intensitas yang tidak terlalu deras, tapi untungnya aku sudah menyiapkan payung. Sesampai di halte, aku menunggu cukup lama kedatangan wanitaku sampai jam tanganku menunjukan pukul setengah enam sore. Tak lama ia akhirnya datang dengan keadaan yang membuatku cukup terkejut, karna ia benar benar sangat basah akibat hujan. Dari jarak lima meter aku terus memandanginya, rasa kasihan dan kagum tergabung menjadi satu dikepalaku. Karna terus menatapnya, akhirnya aku menyadari dua hal penting. Pertama, ternyata ia tak sama sekali tak membawa payung dan sepertinya ia memaksakan diri berjalan ke halte, maka tak heran jika ia sangat basah sekujur tubuh . Kedua, mataku tak bisa beranjak dari dua buah dada yang tercetak jelas karna kemejanya yang basah. Kedua buah dada yang sangat indah dan besar, perkiraanku ia mengenakan bra ukuran 34 dengan cup B.

Mataku masih saja tak berpaling darinya hingga kusadari tiba tiba saja ia  berjalan kearahku, terang saja itu membuatku salah tingkah. Aku pun langsung memasang wajah senormal mungkin seperti sedang tak terjadi apa apa sebelumnya. Dan benar saja, si cantik itu berhenti tepat disebelah kiri aku berdiri. Kuperkirakan saat itu jarak kami hanya sekitar sepuluh sentimeter saja, aku bisa dengan jelas mendengar gigi nya sedang menggigil menahan dingin.

“Kau punya korek?”, Wanita itu tiba tiba saja berbicara kepadaku.

“Apa?”, Cukup kaget aku mendengar wanita itu berkata kepadaku. Namun karna gugup, aku hanya kata “Apa” yang keluar dari mulutku.

“Kau punya korek?”, Ia kembali mengulangi kalimatnya.



“Korek? Sayang sekali aku tidak merokok.”

“Oh, oke terima kasih. Have a Nice Day.” Ujar wanita itu sambil melepaskan kacamatanya yang berembun karna percikan air hujan.

“Iya, sama sama.”

Kalimat ini menjadi kalimat terkahir dariku di hari itu, total aku hanya bisa ngobrol bersama wanita itu sebanyak tiga kalimat saja. Walaupun sebenarnya itu tak bisa disebut ngobrol tapi tetap saja aku tak bisa berhenti memikirkan itu. Wajahnya, buah dadanya dan suara merdunya menjadi bunga tidurku malam itu. Esoknya, aku pun tetap melakukan apa yang bisa kulakukan di hari sebelumnya, hanya memandanginya saja. Hari berlalu tanpa ada hasil apapun, nomor telfonnya aku tak tau bahkan namanya saja aku hanya menerka nerka.

Hari hari berlalu, aku makin tak bisa menutupi perasaanku. Aku benar benar ingin berbicara dengannya, setidaknya aku bisa mengetahui namanya. Maka kubulatkan tekat dan meyakinkan diri bahwa aku harus berbicara dengannya secepatnya.

Hari perkenalan itu pun tiba, hari ini aku harus mengetahui namanya. Namun kulihat jam di tangaku, 15 menit lagi waktu menunjukan tepat pukul enam sore tapi wanita itu belum juga juga datang ke halte. Aku mulai berpikiran aneh aneh, mungkin dia diculik dijalan atau mungkin dia pulang diantar kekasihnya, begitu banyak pikiran negatif muncul silih berganti di kepalaku.

Dan akhirnya pukul enam tepat, akhirnya si cantik muncul dengan wajahnya yang sangat lusuh penuh kelelahan. Terlihat dari wajahnya, sepertinya ia baru saja mengalami hal berat hari ini. Sejenak aku hampir saja mengurungkan niatku untuk berbicara dengannya tapi aku terus berpikir, “Jika bukan hari ini, kapan lagi?”

Perlahan aku menghampiri si cantik yang dari tadi hanya tertunduk tanpa semangat. Sejenak aku terdiam merangkai kata yang ingin aku ucapkan kepadanya.

“Hai, ada apa?” Ujarku dengan pelan.

Wanita itu menoleh kearahku. Dari tatapannya aku tau, bahwa ia masih mengenalku. Seorang yang sempat ia ajak bicara beberapa hari yang lalu.

“Oh, tak ada apa apa.”

“Apa kau yakin? Dari tadi aku melihatmu sepertinya ada yang tak beres.”

Wanita itu hanya diam saja mendengar ucapanku. Aku teringat bahwa di dalam tas aku menyimpan sebuah tissue, segera saja aku langsung mengambilnya dan kuberikan kepada wanita itu. Kusodorkan tissue tersebut tepat kearahnya. Dengan sedikit ragu dan perlahan ia mengambil tissue itu lalu mengusapkan ke sisi matanya yang terhalang kacamata.

“Senja...”

Wanita itu tiba tiba berkata yang membuatku sedikit bingung mendengar ucapan yang keluar darinya.

“Namaku Senja...” Ia melanjutkan ucapannya seraya mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan denganku. Sedikit tak percaya, aku pun segera membalas uluran tangannya. Aku bahkan tak menyangka sebelumnya jika bisa berjabat tangan dengannya.

“Siapa namamu?” Wanita itu kembali berkata padaku, yang terpaku hingga lupa untuk membalas tanda perkenalan darinya.

“Oh iya maaf, kau bisa memanggilku Kirana.” Dengan sedikit canggung aku menjawab jawaban dari si cantik, yang baru kuketahui bernama Senja.

“Kau kerja disekitar sini?” Tanya Senja kepadaku.

“Ya, begitu lah.”

“Kutebak, kau pasti bekerja di sebuah di gedung itu.”  Wajahnya yang tadi tertunduk tiba tiba saja terlihat sedikit sumringah, ia bahkan menebak profesi dan lokasi kantorku dengan sangat tepat. Aku sedikit terkejut dan sepertinya ia menyadari apa yang kurasakan.

“Ya, aku bisa menebak dari blus dan rok ketat yang biasa kau kenakan tiap sore, selain itu id card perusahaanmu juga sering terlihat nyelip di sela kemeja.”

Perkataan Senja barusan membuatku semakin terkejut, aku tak menyangka ternyata ia juga selama ini memperhatikanku bahkan sedetail itu. Ketelitiannya sangat berbanding terbalik denganku, yang selama dua minggu ini hanya memperhatikan wajah cantik dan dadanya yang besar.

“Sorry, sepertinya aku harus perggi duluan.” Tanpa terasa bus yang selalu ditumpangi Senja sudah tiba di halte. Ia Sambil menyalamiku ia, langsung bergegas beranjak untuk masuk kedalam bus.

“Sampai ketemu besok, Kirana.”

Ujar Senja sebagai perkataan terakhir sebelum akhirnya ia masuk kedalam bus. Hanya hitungan detik, Senja dan bus nya sudah menghilang dari hadapanku.

“Sampai jumpa besok...” Dalam hati aku membalas ucapan terakhir Senja. Kurasa ini merupakan sebuah awal yang baik untukku dan Senja, aku harap besok aku masih bisa bertemu dengannya di halte ini.


                                                                *****






Minggu, 23 Agustus 2015

AFTER MIDNIGHT: THE MEN WHO KNEW TOO MUCH



"All the ways you wish you could be, that's me. I look like you wanna look, I fuck like you wanna fuck, I am smart, capable, and most importantly, I am free in all the ways that you are not."

          “Bagaimana quotes favoritku? Kau pasti tau itu dari film apa?”

       Suara wanita bising yang penuh amarah dan keangkuhan terdengar nyaring keluar melalui speker kecil yang berada di pojok kiri ruangan. Ruangan 3x4 yang cukup sempit untuk dihuni satu orang. Cukup membuat gerah, karna dilapisi dengan dinding besi namun berpintu kayu oak yang kokoh dan tanpa daun jendela. Mara, seorang pria paruh baya terduduk lesu di pojok ruangan, dia sudah empat hari berada di ruangan aneh, tanpa makan dan minum. Dia tak mengerti apa alasan dia bisa berada di sini, kejadian terakhir yang dia ingat adalah dia sedang menelfon anaknya dari telfon umum di pinggir stasiun kota. Tiba tiba saja dia dipukul seseorang dari belakang, dan kemudian tersadar di ruangan sempit ini.

       “Fight Club, bangsat! Apa mau mu?”, jawab Mara dengan emosi.

     “Tidak.. Hanya bertanya saja...” Jawab suara yang keluar dari ujung speaker.

   Mara, adalah seorang wartawan senior disebuah surat kabar ternama di ibu kota. Dia juga seorang ayah dari satu orang putri yang masih berusia empat tahun, istrinya sudah meninggal setahun lalu karna bunuh diri. Dia merasa selama ini tak punya musuh sama sekali, dia hanya wartawan film bukan wartawan politik jadi tak mungkin ulasan atau kritikannya akan menyinggung orang lain. Hal yang dia alami sekarang berada diluar nalar akal sehatnya sebagai manusia. Bingung, kesal, marah dan lapar semuanya bergabung menjadi satu hingga tak cukup dengan satu kata untuk menjelaskan apa yang Mara rasakan saat ini.

      “Mara.. Mara... Mara... Kau pintar, aku tertarik denganmu. Kau selalu membuatku bergairah ketika berpura pura bodoh...” Kembali suara wanita keluar dari ujung speaker.
             
        “Cih! Aku tak mengerti maksudmu?!”
                
     “Wartawan berpengalaman dengan prestasi meliput banyak kasus yang menghebohkan, apakah menurutmu salah satu dari sekian banyak tulisanmu tak ada yang menyinggung orang lain?”, ujar wanita itu seraya tersenyum sinis yang terdengar menggema.
                
      Tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya yang hanya bisa terduduk disudut ruangan, Mara mencoba mengingat semua kasus yang ia tulis di surat kabarnya, mulai dari kasus korupsi yang melibatkan CIA dan MI6, pelacuran kelas atas yang melibatkan menteri luar negeri, hingga party orgy yang melibatkan anak para pejabat pemerintahan. Tentu dari semua kasus yang pernah ia beritakan, membuatnya mendapatkan banyak musuh yang bergerak secara tak kasat mata, bahkan bukan tak mungkin sebentar lagi namanya akan menghilang dari perederan.
                
     “Aku beri waktu 10 detik, jika benar sebentar 5 menit lagi akan ada seporsi ribeye steak datang untukmu.”
                
     Tanpa berkata apapun, Mara terus memutar otak menghubungkan semua kasus yang pernah ia beritakan. Sepiring steak bukanlah menjadi prioritasnya saat ini, melainkan nyawalah yang ia khawatirkan. Empat hari dikurung disebuah ruangan asing, bukan tak mungkin wanita ini malah memberinya racun pada steak itu nantinya. Keringat mengucur dari ubun ubun, karna ia terusa berusaha mengingat dan menghubungkan semua hal menjadi satu kesatuan tapi sepertinya itu semua hasilnya nihil.
                
   “JAWAAAAAB!!!!”, wanita itu berteriak kencang, nampaknya ia sangat emosi karna Mara tak bisa memberikan jawaban apapun.
                
        “A.... ada banyak kasus yang aku tulis, aku tak bisa mengenalmu”, sebuah kalimat keluar dari mulut Mara, bukan sebuah jawaban bagus tapi setidaknya itu cukup memberitahu semua yang ada dipikirannya.
                
    “Ayolahh buat permainan ini seru, kau sama sekali tak membuatku bergairah!”, jawab si wanita misterius.
                
         Mara mulai menyadari bahwa dirinya sedang berada di posisi yang sangat tak menguntungkan, ia tau bahwa sebuah masalah besar sedang menghampirinya.
                
          Dooor!! Door!! Door!!
                
         Terdengar tiga kali suara tembakan, persis diluar ruangan tempat Mara dikurung. Dengan penuh kebingungan bercampur rasa takut, ia mulai bergerilya di ruangan sempit itu mencari sebuah tempat untuk berlindung walaupun ia tau hal itu tak menghasilkan apapun. Namun ternyta sepertinya bukan ia saja yang panik, dari balik speaker sayup terdengar sedikit kepanikan dan amarah dari wanita misterius itu. Mara menyimpulkan sepertinya orang orang dibalik speaker, juga terkejut dengan suara tembakan itu namun menurutnya ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan apa yang terjadi dibalik speaker.
                
     Tiba tiba saja pintu oak yang menahan Mara ditembak dua kali secara beruntun, yang mengakibatkan pintu tersebut terbuka. Sosok pria dengan proporsi badan tinggi dan tegap, rambut hitam klimis, berkacamata hitam dengan sebatang rokok menempel di bibirnya memasuki ruangan. Mengenakan jas press body berwarna hitam dengan dalaman kemeja biru pastel, ditambah celana bahan model stright berwarna hitam dan sepatu pantofel, pria asing ini terlihat parlente seperti seorang excutive, tapi saat ini pria itu memegang sebuah handgun klasik tipe Walther P99 di tangan kanannya.
                
              “Mara Cornell?”, ujar pria itu seraya menunjuk wajah Mara dengan tangan kirinya.
                
         Mara yang terkejut tak bisa bekarta apapun, ia hanya mengangguk tanda menjawab atas pertanyaan dari pria tersebut. Pria itu langsung menghampiri dan menarik lengan kirinya, ia memaksa untuk mengikutinya keluar dari kurungan itu. Dengan kedua kaki yang bergetar hebat, Mara mencoba mengikuti pria itu, entah kenapa ia meyakini bahwa pria itu datang untuk menyelamatkannya.
                
       “TANGKAP PENGACAU ITU!!!!!!!” kembali terdengar teriakan wanita misterius dari balik speaker, sepertinya ia sangat marah dengan keadaan yang terjadi.
                
             Mendengar teriakan itu, pria itu membuang rokoknya dan langsung saja menarik Mara untuk mempercepat jalannya. Mara terkejut melihat keadaan diluar ruangannya disekap sudah dipenuhi tiga mayat dengan kepala berlubang akibat tertembak. Namun ternyata sepertinya usaha mereka untuk keluar tak semudah itu, ruangan tempat mara disekap ternyata terhubung dengan sebuah jalan menyerupai labirin panjang dan gelap. Mara menyimpulkan sepertinya ini sebuah ruangan bawah tanah khusus yang dirancang khusus sebagai tempat persembunyian.
                



       Mara hanya mengikuti arahan dari si pria misterius, yang memberi intruksi agar Mara mengkikuti pergerakannya secara perlahan dari belakang. Dengan mengacungkan senjatanya, pria itu bergerak pelan menyusuri jalan berdinding baja seperti sedang menghindari sesuatu yang tak diharapkan.
                
              Door!! Dooor!!!

Hampir berjalan selama 10 menit tiba tiba saja terdengar suara tembakan dari arah belakang, beruntung tembakan itu meleset tanpa mengenai mereka berdua. Mendengar suara tembakan, pria itu langsung menarik Mara untuk segera berlari menyelamatkan diri. Saat ini kira kira mereka sedang dikejar oleh lebih dari sepuluh orang yang semuanya memegang senjata. Pria tersebut berlari dengan sangat kencang menarik Mara hingga mereka menemukan sebuah jalan persimpangan yang sepertinya dapat membuat mereka bersembunyi untuk semenatara waktu.

Dengan bersembunyi dibalik sebuah tembok, pria tersebut memasang posisi siap menembak dan Mara yang ketakutan hanya bisa bersembunyi dibelakang pria itu. Melihat mereka berdua yang bersembunyi, kesepuluh orang pengejar itu pun bersiap melakukan serangan dengan menodongkan semua senjata mereka. Adu tembak pun tak bisa dihindarkan, Dooor! Dooor! Dooor! Doooor!! Semua pengejar tadi menembakan amunisinya kearah persebembunyian mara dan pria itu. Pria itu tak membalas satu pun tembakan yang dialamatkan padanya, ia hanya terlihat mengeluarkan sebuah peluru berwarna biru yang ia masukan kedalam handgun miliknya, sepertinya tembakan bertubi tubi ini membuatnya tak memiliki kesempatan untuk membalas tembakan.

Namun sepersekian detik saat serangan terdengar melengah karna para pengejar mulai kehabisan peluru, pria itu langsung keluar lalu menembakan handgunnya tepat diatas dinding batu tempat para pengejar itu berdiri. Hanya dengan satu kali tembakan saja, dinding batu itu runtuh menimpa seluruh pengejar itu. Pria itu tersenyum kecil seakan bangga dengan apa yang telah ia lakukan, melihat hal itu mara menyimpulkan sesuatu bahwa pria ini bukanlah orang biasa.

Pria itu kembali menarik lengan mara untuk kembali bergerak, kali ini mereka berdua berlari dengan kecepatan penuh karna sayup sayup dari kejauhan terdengar suara langkah kaki bergerak kearah mereka, kali ini mereka dikejar oleh lebih banyak orang dari sebelumnya. Pria itu menarik mara bergerak kearah kanan dan kiri, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah tangga yang menuntun mereka keatas. Benar dugaan mara, bahwa saat ini ia memang disekap disebuah ruang bawah tanah yang dirancang khusus.

“Cepat, kau naik keatas, biar aku yang tangani ini.” Ujar pria itu.

Tanpa keraguan karna dikalahkan oleh rasa takut teramat sangat, ia mengikuti perintah pria itu. Mara menaiki tangga yang menuntunnya ke dunia atas, pria itu pun mengikutinya dari belakang.

“Cepat! Cepat!” ujar pria itu, yang membuat mara otomatis mempercepat gerakannya. Tak lama kemudian para pengejar tiba ditangga tempat mereka mencoba naik keatas, mengetahui hal itu, mara makin mempercepat gerekannya hingga akhirnya ia berhasil terlebih dulu keluar. Dilain waktu, dengan kedua tangan memegang tangga, pria itu sibuk menendang satu persatu wajah para pengejar yang mencoba menaiki tangga untuk menangkapnya. Pria itu sepertinya memang memiliki kekuatan yang besar sehingga para penjaga yang mengganggunya menaikin anak tangga, terlihat seperti bukan lawan sepadan.

Tak lama, akhirnya pria itu pun bisa keluar dengan melalui lubang got tepat dipinggir kota. Tepat pukul 00.00 dibawah terang cahaya bulan, pria itu melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi ia kenakan lalu menyimpannya dibalik kantong jas. Ia kemudian mengeluarkan sebuah bolpoin hitam klasik, kemudian memutarnya kearah kiri sehingga memunculkan sebuah angka 10 berbentuk digital dari gagang bolpoin tersebut. Angka 10 itu tiba tiba countdown ketika ia menekan gagang bolpoin, di detik kelima pria itu membuang bolpoin kedalam lubang got.

“DAAAARRRRR!!!”

Bolpoin itu meledak memunculkan sebuah asap orange yang keluar dari dalam lubang got tersebut. Pria itu tersenyum kecil, mengetahui keberhasilannya mengalahkan semua orang yang mengejar dirinya. Namun senyuman itu tak berlangsung lama, setelah ia menyadari harus mencari keberadaan Mara namun ketika ia membalik badan... Ia melihat tubuh Mara sudah terbujur kaku di aspal dengan kepala hacur akibat tembakan.  

Disamping mayat Mara berdiri seorang wanita muda berusia sekitar 30 tahun dengan mengenakan mantel penghangat tubuh, blue jeans, boots coklat berbulu ditambah dengan sebuah topi baseball menutupi rambut blondenya. Wanita yang memiliki hidung mancung, mata tajam dan bibir tipis tersebut terlihat sangat marah ketika berhadapan dengan pria itu. Disisi lain, pria itu tau bahwa wanita tersebutlah yang menembak mati Mara dengan pistol yang ia genggam erat di tangan kanannya. Wanita tersebut menembakan pistolnya kesisi jalan disebelah kanan pria itu, ia membuat gertakan sebelum akhirnya menodongkan senjata kearah si pria. Kini jarak antara pria itu dan wanita tersebut tak lebih dari 15 meter saja.

“Angkat tanganmu!!!” Gertak wanita tersebut.

Dengan tetap tenang, pria itu langsung mengangkat tangannya mengikuti perintah wanita tersebut. Dari intonasi suara dan tingkat emosi yang ditunjukan, pria itu berasumsi bahwa wanita tersbut ialah wanita yang suaranya muncul dari balik speaker ruang tahanan Mara.

“Apa maumu?!!” Teriak wanita itu.

“Menyelamatkan dia”, jawab pria itu seraya menggerakan telunjuk kirinya yang menunjuk mayat Mara.

Wanita itu makin geram melihat gestur dan ekspresi si pria misterius itu. Dari genggaman kencang pistol yang ia arahkan, sangat terlihat jelas bahwa ia serius akan menembak pria itu.

“Siapa kau?!”

“Aku? Aku Vasper Jansen.” Jawab pria itu sambil tersenyum, yang malah makin membuat wanita itu makin tersulut amarah.

“jangan main main denganku!!!” Teriak wanita itu dengan kembali menembakan pistolnya 2 meter disamping kiri pria itu berdiri.

“Hahahaa oke aku bercanda. Kau Vasper Jansen, anak dari Bruce Jansen, pemimpin komplotan mafia terbesar di negeri ini. Justru aku yang harus bertanya, apa masalahmu dengan Mara Cornell?”

“Bukan urusanmu!! Bukan urusanmu!!! Balas wanita yang bernama Vasper Jansen tersebut.

“Kau ingin balas dendam pada Mara karna telah membantu penyelidikan polisi untuk menghukum mati ayahmu?” Tanya pria itu.

Vasper terdiam mendengar ucapan pria itu, ia terkejut mengetahui pria itu mengetahui semua hal tentang dirinya.

“Pria ini membahayakan organisasi kami!!” ujar vasper dengan tiga kali kembali menembakan pistolnya ke mayat Mara yang telah terbujur kaku.

Mendengar ucapan Vasper, pria itu menurunkan kedua tangannya lalu menyilangkannya. Tanpa menunjukan rasa takut atau terintimidasi, ia tersenyum kearah wanita yang terus mengarahkan pistolnya itu.

“Sayang sekali Vasper, padahal dengan kecantikan yang kau miliki aku tak ragu untuk mengajakmu dinner atau mentraktirmu dua gelas martini.” Ujar pria itu dengan kata kata lembut yang menggoda. “Vasper Jansen, adalah nama terindah yang pernah kudengar.” Terang pria itu, melanjutkan kata katanya.

Ucapan pria itu ternyata membuat Vasper makin marah besar, ia tak terima dengan perkataan itu yang baginya terdengar seperti melecehkan harkat dan martabatnya.

“Siapa kau?!!!!” Teriak Vasper yang tak ragu menarik pelatuk pistolnya.

“Kau tau siapa namaku,” ujar pria itu, “aku agen MI6 dengan kode Tiger.” Lanjutnya, seraya menyentuh jam tangan yang terpasang di tangan kirinya.  

Mendengar ucapan pria itu, Vasper terlihat langsung menyadari sesuatu hal yang berhubungan dengan MI6 dan kode Tiger, hal itu seketika membuatnya ingin langsung menarik pelatuk pistol. Namun ternyata pria itu ternyata telah memperhitungkan apa yang akan dilakukan oleh Vasper. Pria itu menekan dengan kencang jam tangannya, yang seketika membuat malam menjadi terang benderang.


Tiba tiba saja sebuah mobil marcedes benz hitam yang berada dibelakang Vasper menyalakan lampu. Hal itu membuat konsentrasi Vasper terganggu dan membuatnya segera melihat kearah mobil yang berada dibelakangnya itu. Lalu hanya dalam hitungan detik, mobil itu memunculkan senjata dari kap depannya yang membuat Vasper menjadi sangat terkejut.

Melihat hal tersebut, si pria misterius langsung bergerak cepat kearah Vasper kemudian memukul tengkuknya dari belakang yang seketika membuatnya pingsan. Lalu dengan santai, pria itu berjalan kearah mobil marcedes benz dengan meninggalkan Vasper yang pingsan tergeletak disamping mayat Mara.

                                             *****

Pria itu menyetir mobil melewati kota dengan sangat santai, ia melepaskan jas, membuka bagian atas kancing kemeja, juga meletakan Walther P99 dan kacamata hitam di kursi penumpang yang ada disebelahnya. Ia kemudian menekan sebuah tombol berwarna merah menyala yang berada dibagian monitor mobil tersebut, kemudian seketika saja muncul sebuah gelombang berwarna biru.

“Password?” muncul suara digital yang membuat gelombang pada monitor menjadi bergerak.

“Kode: Tiger.”

“Report status?”

“Report status: Misi gagal, target tewas tertembak.” Jawab pria itu dengan sedikit kegetiran, karna kegagalannya menyelesaikan misi untuk menyelamatkan Mara.

“Say your name if your report done”

Pria itu menghela nafas dengan kegagalannya menyelesaikan misi tadi karna menurutnya misi itu akan berhasil jika saja ia lebih berhati hati dalam menentukan tindakan, sebuah kegagalan yang cukup disayangkan untuk seorang agen rahasia sekaliber dirinya. Namun disisi lain, ia juga cukup menyimpan sebuah kebahagiaan tersendiri karna dapat bertemu langsung dengan Vasper Jansen, walaupun wanita itu hampir saja membunuhnya.

“Namaku Malaka, Andre Malaka. Laporanku selesai dan dalam perjalanan kembali”, jawab pria itu menyelesaikan laporannya.