Wikipedia

Hasil penelusuran

Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 April 2025

Perempuan di Gerbong Lima


Setiap hari pukul 09.30 di hari kerja, Nara, seorang pria dengan hidup dan karir yang biasa-biasa saja, selalu menyempatkan diri naik KRL dari rumahnya di sekitar Rawa Buntu menuju kantornya di Kebayoran. Dia selalu naik dari gerbong lima, bukan karena yang paling sepi atau paling nyaman tapi memang cuma gerbong itu yang paling dekat dengan tangga keluar saat tiba di stasiun, jadi lebih praktis.

Namun ada alasan lain kenapa dia selalu memilih gerbong lima. Di gerbong itu, pandangannya selalu terpaku pada

seorang perempuan kurus, berkulit kuning oriental dengan rambut panjang terurai dan mata tajam. Perempuan itu — yang namanya belum Nara ketahui — selalu memakai kaos oversize warna pastel dan syal putih bergambar kucing. Ekspresi wajahnya selalu cuek, dengan earphone yang selalu tertancap di kedua telinga.

Perempuan gerbong lima, seperti itu dia menyebutnya.

Nara memang pria cupu, mengajak kenalan atau sekedar senyum, caranya saja dia tidak tahu. Sebagai karyawan agency, menurutnya dia tidak punya “selling point”, selain satu hal: selera musik. Playlist musik Indonesia tahun 90an dan 2000an yang selalu dimainkan dari headphone bluetooth-nya setiap hari. Padahal di mata teman-temannya, selera musiknya gak banget – gak update dan sudah terlalu ketinggalan jaman. Katro!

*****

Hari ini jam 09.40, Nara datang buru-buru dengan memegang tumbler isi kopi yang belum sempat diminum. Sudah dipastikan dia akan telat datang ke kantor, akibat begadang karena deadline kerjaan. Kereta datang, dia langsung naik di gerbong lima.

Gerbong lima sedikit padat, membuat Nara tidak bisa merangsek ke posisi tengah. Dia berdiri tepat di depan pintu supaya cepat keluar guna mengejar waktu. Dia memakai headphone-nya, scroll playlist di ponsel berharap musiknya bisa memperbaiki pagi ini. Tapi dia tidak sadar, sedang berdiri berdampingan sejajar dengan perempuan itu.

Kereta berhenti di stasiun Pondok Ranji – satu stasiun sebelum stasiun Kebayoran. Beberapa penumpang masuk dengan tergesa, membuat posisinya bergeser karena bersenggolan. Tiba - tiba tak sengaja tumbler kopi terdorong tumpah mengenai pakaian Nara. Sepertinya Tuhan lagi menguji kesabarannya hari ini.

Ternyata orang yang membuat kopinya tumpah adalah perempuan gerbong lima.

“Ehh, maaf.. Maaf banget..” ucap perempuan itu sambil mengambil tutup tumbler yang jatuh.

Nara terpaku. Dia merasa ada sesuatu yang mengalir pelan tapi pasti. Tanpa kata, tanpa sebab. Getaran kencang KRL yang melewati rel di sekitar Tanah Kusir pun tak mampu membuatnya bergerak.

“I.. I.. iya gak apa apa,” jawab Nara dengan gagap, sambil mengambil tutup tumbler dari perempuan itu. Tapi karena tangannya gemetar, membuatnya fokusnya hilang hingga terus gagal menutup tumblernya.

“Sorry ya, mas. Maaf banget, gak sengaja..”

“Gapapa, gapapa kok,” jawab Nara yang akhirnya berhasil menutup tumblernya.

Kereta tiba di Kebayoran, dan Nara buru buru turun dengan tergesa. Mereka berpisah begitu saja.

Tapi pagi itu, Nara merasa hidupnya berubah sedikit — saat tiba tiba secara random playlist-nya memainkan lagu “Cantik” milik Kahitna: “Ooo cantik.. Ingin rasa hati berbisik..”

Lagu tersebut membuat otaknya yang cupu memproses apa yang baru saja terjadi. Apakah kopi yang tumpah merupakan puncak kesialannya hari ini atau justru jadi bukti kalau Tuhan akan segera mengubah jalan hidupnya.

*****

Esok harinya, Nara kembali naik gerbong lima. Dengan perasaan deg-degan, dia naik ke kereta. Kereta mulai berjalan pelan meninggalkan stasiun Rawa Buntu. Dia melihat perempuan itu sedang duduk memandangi layar ponsel. Dia berdiri tak jauh darinya tapi untuk mendekat sekedar basa-basi pun, masih tak bisa. Dia memilih pura-pura tidak melihat, memakai headphone dan memutar lagu.

Alunan piano mulai terdengar dari lagu “Negeri di Awan” dari Katon Bagaskara. Nara bersenandung pelan, tanpa sadar menyuarakan bait: “Kau datang padaku… Kau tawarkan hati nan lugu… Selalu mencoba mengerti…” — seolah menggambarkan harapannya untuk hari esok.

Tiba - tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang. Nara menoleh, ternyata perempuan gerbong lima.

“Negeri di Awan, ya?”

"Iya," jawab Nara kaget, sedikit kikuk.

Perempuan itu sudah beranjak dari tempat duduknya, sekarang mereka sedang berdiri berdampingan.

“Lagu Katon emang enak sih tapi liriknya terlalu puitis dan melankolis.”

“Lo tahu lagu ini? Dengerin juga?” Nara sedikit kaget.

“Ya tahu dong, itu lagunya enak sih. Tapi gue lebih suka Sheila on 7. Liriknya sederhana, simpel, gampang masuk ke hati,” ucap perempuan itu excited.

Perempuan yang selama ini dikira kaku dan cuek ternyata sangat cheerful ngobrol. Nara merasa garis batas yang membuatnya takut untuk memulai percakapan, mulai luntur menghilang.

“Ahh, jadi ternyata tim Eros ya? Bahasanya ringan kayak lagi cerita ke temen.”

“Ya kan. Lirik-liriknya kayak curhatan di diary.”

“Buset, diary banget tuh. Tahun 2025 nih.. Hahaha.”

“Hahaha, bisa aja. Gue selalu iri, gimana caranya Eros bisa nulis kayak gitu. Kalo lo tim Kla Project, ya?”

“Gak juga sih. Gue dengerin semua musik Indonesia tahun 90an dan 2000an gitu.”

“Ah, sama banget. Di era itu, semua musik itu simple tapi nancep.”

Mereka tertawa. Obrolan mereka mengalir tentang lagu-lagu lawas favorit masing-masing. Nara merasa seperti sudah mengenal perempuan ini sekian lama.

"Lagu - lagu jaman itu kayak jendela perasaan," kata perempuan itu. "Simpel, tapi bisa nusuk."

Tapi lagi - lagi, stasiun Kebayoran datang terlalu cepat.

“Eh, lo harus turun ya di sini?” Tanya perempuan itu.

“Iya, kantor gue dekat sini. Kalo lo turun dimana?”

“Gue abis ini turun, di Palmerah.”

Nara turun dari kereta tapi sebelum pintu tertutup, perempuan itu berkata sesuatu.

“Eh, maaf ya soal kopi yang kemarin.”

Pintu kereta tertutup. Nara tersenyum kepada perempuan itu, memberi kode bahwa kemarin bukanlah suatu masalah, melainkan berkah dari Tuhan.

*****

Hari-hari berikutnya mereka semakin sering bertegur sapa. Kadang hanya dengan anggukan, kadang dengan obrolan ringan. Suatu pagi, Nara menunjukkan playlist-nya, dan perempuan itu mencibir ketika melihat lagu "Roman Picisan" dari Dewa 19 masuk dalam daftar.

"Liriknya lebay, tapi gue akuin jujur banget," katanya sambil ngakak.

"Justru itu seninya. Kayak nulis puisi pakai kata-kata anak tongkrongan," bela Nara.

“Cintaku tak harus miliki dirimu..” – sambil berbisik perempuan itu menyanyikan reff lagu Roman Picisan.

“Kalo cinta ya harus memiliki dong. Walaupun harus dengan pengorbanan yang besar!” Lanjut perempuan itu.

Dia lalu membalas dengan memperdengarkan lagu "Antara Kita" dari girlband lawas Rida Sita Dewi, untuk pertama kalinya Nara merasa lagu itu terdengar lebih hangat dan liriknya masuk ke hati.

*****


Esok harinya, langit mendung sejak pagi. Nara ada meeting dengan klien yang mengharuskannya turun di stasiun Palmerah. Namun kepalanya sudah menyusun rencana untuk ngobrol sambil jalan dengan perempuan itu. Menurutnya, ini saatnya dia berkenalan lebih lanjut. Sekedar mengetahui nama, atau mungkin saling bertukar nomor telepon.

Nara masuk gerbong lima dan mendapati perempuan itu berdiri dekat pintu. Mereka tersenyum tanpa perlu kata pembuka. Hujan mulai turun, dari gerimis jadi deras. Kereta tiba di stasiun Palmerah. Mereka berdua turun berbarengan.

“Tumben lo turun di sini?” Tanya perempuan itu.”

“Iya, gue ada meeting sama klien di sekitaran sini. Tapi hujannya deres banget, pasti telat deh gue.”

Perempuan itu membuka payungnya bening transparan miliknya. "Bareng yuk, kali aja jalan kita searah," katanya.

Mereka berjalan berdampingan di bawah satu payung. Rintik hujan jatuh di sekitar mereka, memantul di genangan trotoar. Langkah mereka lambat, seolah tak ingin segera sampai.

"Gue suka aroma hujan di trotoar basah begini," ucap perempuan itu pelan.

Gemercik air hujan yang memantul di antara mereka seakan membuat suasana jadi makin syahdu. Nara coba cari topik untuk membalas ucapan perempuan itu.

"Kalo gue suka momen kayak gini. Jalan bareng orang asing yang nggak terasa asing," sahut Nara — entah pujangga mana yang tiba tiba merasuki otaknya. Sepersekian detik, dia mereka itu adalah kata - kata yang bodoh dan cheesy.

Perempuan itu tersenyum kecil. "Lo bukan orang asing kok."

Mereka berhenti sejenak di bawah pohon rindang, menunggu lampu hijau untuk menyeberang. Di bawah payung yang kecil itu, bahu mereka saling bersentuhan. Hening. Hanya suara hujan dan detak hati yang terasa.

"Dulu gue sempat pengen jadi penulis," katanya tiba-tiba. "Tapi ya, hidup bawa ke arah yang lain. Kadang gue iri sama orang-orang yang bisa menulis bebas tentang apa aja yang mereka rasain."

“Kenapa lo ngomong gitu?”

“Soalnya ujung - ujungnya perempuan memang harus ngalah dan cuma jadi supporting buat si pemeran utama,” – jawabnya pelan, getir.

Ekspresi wajahnya berubah jadi sendu. Tidak ada lagi senyum cheerful yang selalu ada di beberapa waktu kebelakang menghilang. Air hujan jadi terasa lebih dingin dan menusuk.

"Lo masih bisa jadi penulis. Momen hujan - hujanan kayak gini ini aja, udah cocok dibikin cerpen.. hehehe."

"Lo aja yang tulis tapi jangan pakai nama gue ya. Biar tetap jadi rahasia gerbong lima," ujarnya sambil tertawa pelan.

Mereka berhenti di halte Transjakarta, perempuan itu harus lanjut dengan bus Transjakarta ke destinasi tujuannya. Namun Nara harus jalan terus karena sebentar lagi dengan klien akan dimulai.

“Gapapa, lo bawa aja dulu payung gue. Kalo gue kan di halte, aman gak akan kena hujan.”

Perempuan itu menyerahkan payungnya lalu mereka berpisah menuju tujuan masing - masing. Nara memakai headphone-nya, memainkan lagu: Chrisye yang berjudul “Untukku”. Perlahan hujan berhenti, cahaya matahari mulai masuk menembus payung yang transparan.

*****

Keesokan harinya, Nara datang dengan membawa payung transparan milik perempuan gerbong lima. Di dalam gerbong, dia mencari keberadaan perempuan itu. Namun tidak ada. Hari - hari berikutnya terasa menggantung. Nara mulai mencarinya ke gerbong lain, mencoba menebak - nebak apa yang terjadi. Kali ini sepertinya Tuhan sudah mengembalikan hidupnya ke mode default.

Dua minggu berlalu, dan gerbong lima terasa hampa, sepi, seperti penyanyi yang lupa lirik di tengah konser. Pada suatu pagi, Nara berdiri sendiri di depan pintu kereta. Lagu "Dan" dari Sheila on 7 mengalun pelan di tengah hiruk-pikuk pagi. Saat itulah dia sadar: perempuan itu benar - benar tak datang lagi.

*****

Lewat satu setengah bulan, Nara naik kereta dari gerbong lima seperti biasa. Dia sudah tidak mencari lagi, tak berharap apa-apa. Dia memakai headphone lalu memilih lagu-lagu yang ada di playlist ponselnya. Tapi ketika kereta hampir penuh, ada yang menepuk pundaknya.

"Gue belum sempat ganti kopi lo yang tumpah waktu itu."

Perempuan itu kembali muncul dengan menyodorkan satu cup starbucks berisi kopi.

Nara terkejut tak menyangka tiba - tiba perempuan itu kembali dihadapannya. Dia mengambil kopi Starbucks pemberian perempuan itu. Wajah Nara berubah sumringah.

“Lo dari mana aja? Kok lama gak keliatan?”

Perempuan itu tertawa, "nyariin ya?” – Nara tersenyum kecut, salting karena perempuan itu bisa nebak perasaannya.

“Gue nikah, tiga minggu lalu. Terus ambil cuti kerjaan rada lama, sekalian ke Bali.”

Seperti petir, kata - kata itu menghentakan tubuhnya seraya manuver yang dilakukan masinis kereta. Kereta bergerak kencang, tapi bagi Nara, semuanya membeku. Dia tak berkata apa-apa. Nyalinya ciut, kembali cupu.

Di dalam kepalanya, seperti sedang mencari-cari lagu dalam playlist yang cocok dengan momen saat ini. Mencari sebuah bait lagu yang dulu terasa bermakna, kini justru menancap seperti busur panah. Banyak yang ingin diucapkan, tapi tak ada satu pun yang keluar. Karena semua itu tak akan mengubah apa-apa.

Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat dimiliki. Dan itu jauh lebih menyakitkan.

Perempuan itu tersenyum tipis, lalu berkata hampir seperti bisikan, "gue senang sempat kenal sama lo.”

Nara mengangguk. Matanya tak berani menatap langsung, bibirnya coba bergerak, tapi tetap tak ada suara yang keluar. Hanya sebuah helaan napas panjang.

“Hari ini terakhir gue di Jakarta..”

Dia menatap nanar ke arah jendela kereta. Kilau cahaya matahari menembus menyinarinya, seolah terlihat memberikan salam perpisahan.

“Gue harus pergi buat pindah ke Bali, ikut suami," lanjut perempuan itu.

Ada sesal, ada getir — kenapa Nara baru berani ngobrol dengannya belakangan ini. Tapi juga rasa syukur, karena perempuan itu pernah hadir di hidupnya walau hanya sebentar. Benar kata Ahmad Dhani di Roman Picisan, sepertinya cinta memang tak harus memiliki.

Sebelum penyesalan semakin besar, Nara memberanikan diri menanyakan satu pertanyaan terakhir.

"Nama lo siapa?" tanya Nara yang suaranya nyaris tenggelam oleh deru rel.

Perempuan itu tersenyum.

"Kirana."

“Kirana? Gue Nara.”

Mereka berjabat tangan untuk pertama kalinya, setelah hampir dua bulan obrolan tanpa ada momen perkenalan secara formal.

“Eh, sorry. Gue gak bawa payung lo, gimana nanti gue balikinnya kalo lo ke Bali?”

“Gak usah, buat lo aja. Anggap souvenir dari gue.”

Kereta tiba di stasiun Kebayoran. Nara turun perlahan lalu kembali membalikan badan. Mereka berdua saling melambaikan tangan, memberi perpisahan satu sama lain, sebelum menghilang di balik pintu gerbong.

Playlist Nara secara random memainkan lagu Kirana dari Dewa 19: “Hadir di muka bumi tak tersaji indah… Kuingin rasakan cinta…”

Besok pasti akan ada orang baru yang muncul, tapi tak akan ada lagi Kirana. Entah apa rencana Tuhan selanjutnya tapi yang pasti sejak hari itu, gerbong lima tak lagi sama.

*******

Sabtu, 30 Januari 2016

Si Cantik, Senja...


Sore ini tak berjalan seperti biasanya. Kulihat jam di tanganku sudah menunjukan waktu pukul lima, tapi si cantik itu belum juga muncul di tempat ia biasa berdiri di pojok kiri halte. Hampir satu jam aku di hatle ini hanya untuk melihat wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang dan berkacamata yang selalu aku temui sejak dua minggu terkahir, saat jam pulang kantor. Pertama kali aku melihat wanita ini tepat pukul lima lebih lima belas sore, di hari Rabu dua minggu lalu. Wanita itu memakai blus coklat dengan dalaman kemeja putih bergaris biru, yang membuatnya terlihat elegan. Selain itu, rambut panjangnya yang bergelombang ditambah kacamata berframe hitam membuat penampilannya begitu sensual dan menggemaskan. Aku juga ingat, saat itu ia memakai high heels yang membuat tingginya hampir menyamaiku. Namun kuperkiraankan ia memiliki tinggi sekitar 165 sentimeter, lebih pendek lima sentimeter dariku.

Di hari pertama aku menemuinya, tak ada yang bisa kuucapkan selain gumam dalam hati mengenai betapa cantiknya bidadari yang baru saja kutemui. Aku terus memperhatikannya tanpa memperdulikan sekelilingku, walaupun ia sama sekali tak menoleh kearahku. Seperti yang bisa diperkirakan, hari hari selanjutnya aku tak pernah absen memikirkan wanita misterius itu. Dari mata terbuka hingga terpejam, wajahnya selalui berputar di benakku hingga tanpa kusadari aku orgasme karna hal itu.

Hari ke delapan, aku akhirnya bisa berbicara dengannya walau hanya tiga kalimat saja. Sore itu, hujan turun dengan intensitas yang tidak terlalu deras, tapi untungnya aku sudah menyiapkan payung. Sesampai di halte, aku menunggu cukup lama kedatangan wanitaku sampai jam tanganku menunjukan pukul setengah enam sore. Tak lama ia akhirnya datang dengan keadaan yang membuatku cukup terkejut, karna ia benar benar sangat basah akibat hujan. Dari jarak lima meter aku terus memandanginya, rasa kasihan dan kagum tergabung menjadi satu dikepalaku. Karna terus menatapnya, akhirnya aku menyadari dua hal penting. Pertama, ternyata ia tak sama sekali tak membawa payung dan sepertinya ia memaksakan diri berjalan ke halte, maka tak heran jika ia sangat basah sekujur tubuh . Kedua, mataku tak bisa beranjak dari dua buah dada yang tercetak jelas karna kemejanya yang basah. Kedua buah dada yang sangat indah dan besar, perkiraanku ia mengenakan bra ukuran 34 dengan cup B.

Mataku masih saja tak berpaling darinya hingga kusadari tiba tiba saja ia  berjalan kearahku, terang saja itu membuatku salah tingkah. Aku pun langsung memasang wajah senormal mungkin seperti sedang tak terjadi apa apa sebelumnya. Dan benar saja, si cantik itu berhenti tepat disebelah kiri aku berdiri. Kuperkirakan saat itu jarak kami hanya sekitar sepuluh sentimeter saja, aku bisa dengan jelas mendengar gigi nya sedang menggigil menahan dingin.

“Kau punya korek?”, Wanita itu tiba tiba saja berbicara kepadaku.

“Apa?”, Cukup kaget aku mendengar wanita itu berkata kepadaku. Namun karna gugup, aku hanya kata “Apa” yang keluar dari mulutku.

“Kau punya korek?”, Ia kembali mengulangi kalimatnya.



“Korek? Sayang sekali aku tidak merokok.”

“Oh, oke terima kasih. Have a Nice Day.” Ujar wanita itu sambil melepaskan kacamatanya yang berembun karna percikan air hujan.

“Iya, sama sama.”

Kalimat ini menjadi kalimat terkahir dariku di hari itu, total aku hanya bisa ngobrol bersama wanita itu sebanyak tiga kalimat saja. Walaupun sebenarnya itu tak bisa disebut ngobrol tapi tetap saja aku tak bisa berhenti memikirkan itu. Wajahnya, buah dadanya dan suara merdunya menjadi bunga tidurku malam itu. Esoknya, aku pun tetap melakukan apa yang bisa kulakukan di hari sebelumnya, hanya memandanginya saja. Hari berlalu tanpa ada hasil apapun, nomor telfonnya aku tak tau bahkan namanya saja aku hanya menerka nerka.

Hari hari berlalu, aku makin tak bisa menutupi perasaanku. Aku benar benar ingin berbicara dengannya, setidaknya aku bisa mengetahui namanya. Maka kubulatkan tekat dan meyakinkan diri bahwa aku harus berbicara dengannya secepatnya.

Hari perkenalan itu pun tiba, hari ini aku harus mengetahui namanya. Namun kulihat jam di tangaku, 15 menit lagi waktu menunjukan tepat pukul enam sore tapi wanita itu belum juga juga datang ke halte. Aku mulai berpikiran aneh aneh, mungkin dia diculik dijalan atau mungkin dia pulang diantar kekasihnya, begitu banyak pikiran negatif muncul silih berganti di kepalaku.

Dan akhirnya pukul enam tepat, akhirnya si cantik muncul dengan wajahnya yang sangat lusuh penuh kelelahan. Terlihat dari wajahnya, sepertinya ia baru saja mengalami hal berat hari ini. Sejenak aku hampir saja mengurungkan niatku untuk berbicara dengannya tapi aku terus berpikir, “Jika bukan hari ini, kapan lagi?”

Perlahan aku menghampiri si cantik yang dari tadi hanya tertunduk tanpa semangat. Sejenak aku terdiam merangkai kata yang ingin aku ucapkan kepadanya.

“Hai, ada apa?” Ujarku dengan pelan.

Wanita itu menoleh kearahku. Dari tatapannya aku tau, bahwa ia masih mengenalku. Seorang yang sempat ia ajak bicara beberapa hari yang lalu.

“Oh, tak ada apa apa.”

“Apa kau yakin? Dari tadi aku melihatmu sepertinya ada yang tak beres.”

Wanita itu hanya diam saja mendengar ucapanku. Aku teringat bahwa di dalam tas aku menyimpan sebuah tissue, segera saja aku langsung mengambilnya dan kuberikan kepada wanita itu. Kusodorkan tissue tersebut tepat kearahnya. Dengan sedikit ragu dan perlahan ia mengambil tissue itu lalu mengusapkan ke sisi matanya yang terhalang kacamata.

“Senja...”

Wanita itu tiba tiba berkata yang membuatku sedikit bingung mendengar ucapan yang keluar darinya.

“Namaku Senja...” Ia melanjutkan ucapannya seraya mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan denganku. Sedikit tak percaya, aku pun segera membalas uluran tangannya. Aku bahkan tak menyangka sebelumnya jika bisa berjabat tangan dengannya.

“Siapa namamu?” Wanita itu kembali berkata padaku, yang terpaku hingga lupa untuk membalas tanda perkenalan darinya.

“Oh iya maaf, kau bisa memanggilku Kirana.” Dengan sedikit canggung aku menjawab jawaban dari si cantik, yang baru kuketahui bernama Senja.

“Kau kerja disekitar sini?” Tanya Senja kepadaku.

“Ya, begitu lah.”

“Kutebak, kau pasti bekerja di sebuah di gedung itu.”  Wajahnya yang tadi tertunduk tiba tiba saja terlihat sedikit sumringah, ia bahkan menebak profesi dan lokasi kantorku dengan sangat tepat. Aku sedikit terkejut dan sepertinya ia menyadari apa yang kurasakan.

“Ya, aku bisa menebak dari blus dan rok ketat yang biasa kau kenakan tiap sore, selain itu id card perusahaanmu juga sering terlihat nyelip di sela kemeja.”

Perkataan Senja barusan membuatku semakin terkejut, aku tak menyangka ternyata ia juga selama ini memperhatikanku bahkan sedetail itu. Ketelitiannya sangat berbanding terbalik denganku, yang selama dua minggu ini hanya memperhatikan wajah cantik dan dadanya yang besar.

“Sorry, sepertinya aku harus perggi duluan.” Tanpa terasa bus yang selalu ditumpangi Senja sudah tiba di halte. Ia Sambil menyalamiku ia, langsung bergegas beranjak untuk masuk kedalam bus.

“Sampai ketemu besok, Kirana.”

Ujar Senja sebagai perkataan terakhir sebelum akhirnya ia masuk kedalam bus. Hanya hitungan detik, Senja dan bus nya sudah menghilang dari hadapanku.

Sampai jumpa besok...” Dalam hati aku membalas ucapan terakhir Senja. Kurasa ini merupakan sebuah awal yang baik untukku dan Senja, aku harap besok aku masih bisa bertemu dengannya di halte ini.


                                                                *****






Kamis, 17 Oktober 2013

Guess, Who’s Coming to Dinner?




Dinda

         Nanti malam adalah malam yang paling indah dalam hidup dinda, sudah lama dia menantikan makan malam ini. Sebuah hal romantis yang jarang sekali dilakukan oleh kekasihnya dan dia pikir itu akan bertambah spesial jika malam nanti dipadukan dengan gaun hitam yang telah dia beli sebulan yang lalu.

Oh candle light dinner di restoran mewah pinggir pantai, tak pernah melakukan hal ini, aku penasaran batu apa yang baru saja menghantam kepala kekasihku. Tapi selain itu aku yakin pasti nanti malam dia akan memberikan surprise yang ter-sweet untukku, mungkin dia akan memberikanku kado atau mungkin juga tiket konser Pheonix, emm.. atau... pasti dia akan melamarku!! Ahhh Ya Tuhaaan!!” Gumam Dinda dalam hati dengan sangat semangat.

Hubungan Dinda dengan kekasihnya sedang sangat renggang setelah sebelumnya dia kepergok oleh teman kekasihnya sedang check ini di hotel dalam keadaan mabuk dengan pria asing yang baru dikenalnya. Setelah kurang lebih satu bulan menjalani hubungan dingin penuh rasa bersalah, akhirnya secara tiba tiba kekasihnya menghubunginya.

“Semoga saja masalah kemarin tidak membuatnya marah. Perselingkuhanku memang menyakitkan tapi aku yakin dia tak akan meninggalkanku, dia sayang padaku dan dia pasti memaafkanku. Jika memang dia memang masih marah padaku mustahil kan dia mengajakku candle light dinner malam ini.”
                
           Kriiiing... Kriiiiing... (Dering Handphone)
                
        Handphone berdering dengan kencangnya dan memecahkan semua lamunan Dinda yang dengan segera mengambil handphone yang tergeletak diatas kasur. Nama kekasihnya muncul dari layar telfon dan dengan cepat dia menekan layar handphone.
                
           Dinda    :               Halooo...?


Vito
                
         Hemm.. Ya ini mungkin benar tapi mungkin juga salah, kenapa aku harus memaafkan dia. Makan malam romantis di pinggir pantai, ah setan omong kosong macam apa itu?! Semuanya keluar dari mulutku tanpa berpikir panjang. Tak kupungkiri aku memang sayang dia tapi ini perselingkuhan, apa kasus perselingkuhan wanita dapat dikatakan wajar? Dasar wanita binal. Apa kekuranganku selama ini padanya? Minta ini itu kuberi, minta dijadikan prioritas kuturuti, minta anter jemput, ohh oke, “gue adalah babu lo.”

“Semuanya sudah kuberikan tapi dia masih saja selingkuh, cinta pada pandangan pertama katanya tapi dengan pria yang dikenal di klub malam, yang benar saja apakah kekasihku ini anak SMA?! Tai. Percuma rasanya sudah memaafkan dia tapi nyatanya logika dan akal sehatku sepertinya berperang satu sama lain tanpa ada yang mau mengalah, hanya membuang waktu dan membuatku terlihat seperti orang yang gampang naik pitam. Candle light dinner di pinggir pantai, benar benar lawakan hebat mengalahkan Raditya Dika.”
                
        Emosi Vito masih sangat labil setelah mengetahui bahwa kekasihnya telah berselingkuh. Sebagai pria yang umunya berpikir secara logika, kesalahan seperti itu sangat tidak bisa dimaafkan tapi dia pun tak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa dia sangat mencintai kekasihnya. Namun sekarang dia masih belum mengerti apa yang harus dia lakukan nanti malam, apakah harus bertindak tegas atau mungkin harus bertindak layaknya peri. Sedikitpun tak ada terlintas dalam benaknya untuk berdandan spesial demi dinner nanti, bergaya seperti biasa dengan kaos dan sepatu kets sudah sangat cukup baginya.
                
        Vito terdiam dalam lamunannya, pikirannya masih bergerak tak karuan. Dia mengambil handphone yang tergeletak diatas lantai, kemudian secara random dia tiba tiba saja ingin menelfon kekasihnya.
                
        “Teeett.... Teetttt...” (Suara telfon tersambung) selang beberapa detik terdengar suara dari sebrang gagang telfon.
                
           Vito        :               Aku cuma mau mastiin nanti malem jadi.
                
           Vito        :               Kita ketemuan aja di sana.
                
           Vito        :               Inget ya, jam 8 on time sudah di sana.
                
           Vito        :               Sampai jumpa.


Dinda

          “Tak masalah jika memang tidak bisa menjemput, wanita aku harus mandiri kan tak boleh bergantung pada orang lain. Jarak rumahku dan tempat dinner tak terlalu jauh, mungkin setengah jam lagi aku bisa berangkat ke sana.”
                
         Layaknya wanita pada umumnya Dinda masih saja mempadu padankan pakaian apa yang harus dipakai malam ini, padahal sebelumnya dia sudah menentukan gaun hitam terusan panjang adalah pilihan tepat. “Seperti Audrey Hepburn, malam ini aku harus terlihat anggun seperti Audrey Hepburn”, ucapnya dalam hati seperti motivasi. Pilih pilih baju memang sejam tapi tetap saja outfit yang dipilih adalah gaun hitam yang sebenarnya telah menjadi pilihan pertama sejak tadi siang.
                
         Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam, dengan sedikit terburu buru Dinda menjalankan mobilnya, dia sangat takut bila kekasihnya bete karna telat. Dengan sedikit ragu dia mengetik line, setidaknya ini antisipasi jika ternyata dia telat datang ke restoran.
                
         “Aku baru otw, tadi kelamaan dandan. Maaf yaa.”


Vito
                
      Jam sudah menunjukan pukul 7.30 tapi vito masih juga belum beranjak dari tempat tidurnya meskipun sudah berpakaian yang menurutnya sangat keren dengan padanan converse butut kesayangannya. Dia terlihat masih menatap nanar keatas lampu kamar, pikirannya masih kosong. Semuanya masih dipenuhi bagaimana sakit hatinya dia atas perbuatan kekasihnya yang sangat “tai” menurutnya. Tiba tiba saja dia menjadi ragu apakah harus datang ke sana atau tidak, ketegasan yang coba dia tunjukan akhir akhir ini seakan diuji oleh kuatnya rasa hati. Suasana hening selama dua sampai 3 menit sebelum akhirnya dia mengambil handphone kemudian mengetik pesan kepada kekasihnya.
                
         “Sudah jalan? Maaf telat, sebentar lagi aku jalan.”


Dinda
                
      Dinda sampai ke restoran dengan tepat waktu, jalanan lancar tak seperti biasanya sepertinya malam ini keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Dress hitam terusan panjang dengan heels hitam membuat penampilannya terlihat sangat anggun, make up natural yang menunjang betuk pipinya yang cantik membuatnya terlihat sangat sempurna malam ini. Penampilan sempurna untuk malam yang sangat spesial dipinggir pantai, “ohhh betapa beruntungnya aku memiliki semua ini.”
                
        Dengan anggun dia duduk di tempat yang telah dipesan oleh kekasihnya. Sebuah tempat romatis dengan pemandangan lampion yang menerangi pantai, cukup dingin tapi dengan semua perasaan berbunga, cuaca seperti ini tidak masalah baginya. Dengan tenang dia masih menunggu kekasihnya datang, mungkin pekerjaan di kantor membuatnya datang terlambat malam ini.
                
         20 menit kemudian...
                
      Tiupan angin serasa merasuk menembus gaun anggunnya, tak biasanya kekasihnya datang terlambat seperti ini. Perasaan Dinda makin tak menentu upaya untuk terus sumringah semakin luntur karna hempasan angin malam, rasa kecewa dan penasaran tiba tiba saja datang menyelimuti. Dengan perlahan dia mengambil handphone yang tersimpan dari dalam tas untuk menelpon kekasihnya tapi percuma, tiga kali sambungan tak ada jawaban. Perlahan dia mengetik line yang ditujukan untuk kekasihnya.
                
         Dinda    :               Kamu dimana?
                
         Dinda    :               Kok belum dateng?


Vito
                
        “Maceeet, maceeet dan macet. Tak biasanya jalan dari rumah ke restoran ini begitu macet separah itu. Telah deh 15 menit.” Gerutu Vito.
                
         Dengan santai dia berjalan memasuki restoran, apalagi gadis manis dengan gaun merah hati pasti sedang menunggu kedatangannya saat ini. Dia bertanya sebentar kepada waitress, yang langsung menunjukan tempat yang telah dia pesan. Sebuah tempat yang ternyata cukup romantis dengan lampion yang berjejer menerangi lautan malam, cuaca yang dingin dengan alunan musik jazz membuat suasana random seperti romantis campursari. Perlahan dia duduk di tempat yang telah dia pesan, memandangi laut sebentar kemudian mengecek jam yang teryata telah menunjukan pukul 8.30. 
                
       Suasana di restoran ini masih sangat sepi, hanya ada empat pasangan yang sedang candle light dinner yang rata umurnya mungkin sekitar 40 tahunan. Hampir telat 30 meit tapi nyatanya keasihnya juga belum terlihat batang hidungnya. Dengan cepat dia segera menghubungi kekasihnya.
                                                                                                

                                                                       *****

Vito        :               Kamu dimana?

Dinda    :               30 menit aku di sini, kamu kemana?

Vito        :               Jangan ngaret, sudah 30 menit ini.

Dinda    :               Telfon aku angkat doong.

Vito        :               Jalanan macet, cepetan ke sini aku sudah nungguin.

.............................

Dinda    :               Aku sendirian di sini.

Vito        :              Aku sendiri nih, kamu mau dateng apa ngga?

Dinda    :               Kamu maunya apa sih.

Vito        :              Jangan main main deh.

................................
                                                                                                
                                                                        *****

Dinda
                
              “Okee. Ini bukan akhirnya dari segala. Hidup berawal saat meninggalkan comfort zone kan?” Ucap Dinda dalam hati untuk menenangkan perasaannya yang tidak karuan.
                
           Kekasihnya tiba tiba saja berubah pikiran, dia tak ajdi datang menenuminya di tempat yang telah dijanjikan, dinner romantis berubah menjadi mengenaskan. Bukan hanya membatalkan tapi juga kekasihnya memutuskan hubungan melalui line, dengan alasan klasik “Aku bosan, kita putus aja.” Cukup menyakitkan tapi dia menyadari mungkin ini adalah balas dendam yang sangat spesial yang telah disiapkan oleh kekasihnya.
                
          Sakit terlanjur sakit, perasaan wanita tak bisa berbohong walau mencoba tegar, air mata pasti akan jatuh pula dari pelupuk mata. Hanya desiran angin, ombak dan sebatang rokok yang menemani malam hari ini. Dia menangis pelan kearah lautan yang luas dengan menghisap sebatang rokok yang terasa pahit.


Vito
                
           End of conversasion dan chat diakhiri dengan sedikit menyakitkan bagi Vito. Ternyata kekasihnya tak akan datang pada candle light dinner, cukup komplit keributan antara dia dan kekasihnya via line semua kata kata kasar dan ungkapan tak manusiawi keluar seperti kotoran pagi hari. Diluar dugaan, kekasihnya memutuskan hubungan dengan alasan, “bosan dengan rutinitas yang dilakukan bareng kamu.”
                
          “Hah, cewek brengsek!”
                
       Dia hanya bisa memandangi langit malam sembari menikmati cuaca dingin yang disajikan dengan suara debur ombak. Semua orang di sini memeliki pasangannya masing masing, berbeda dengannya yang duduk bengong sendirian.

Namun entah karna tak menyadari atau dari tadi hanya sibuk dengan urusannya, dia baru melihat seorang wanita yang persis duduk dihadapannya juga sedang sendiri. Wanita itu terus menyeka air matanya dengan tisu yang tersedia diatas meja sembari terus menghisap batang rokok. Wanita itu itu sepertinya terlihat sedang mengalami hal yang tidak mengenakan. Seorang wanita cantik sedang menangis dengan memandangi lautan, pasti sedang mengalami malam yang sangat berat, terka Vito.

“Padahal gaun hitam dan make up naturalnya pasti akan membuatnya terlihat tiga kali lebih cantik jika tersenyum.” Pikir Vito.

                                                                         *****
               
Vito dan Dinda adalah dua orang kebetulan berada di tempat yang sama, mereka tak mengenal satu sama lain namun menjalani kisah yang sama. Semoga ombak dan angin malam dapat merubah segalanya. Malam ini mungkin menjadi malam yang sangat indah bagi semua orang tapi dibalik itu ada juga segilintir orang yang tidak mengalami malam yang baik. Memang semua telah berakhir tapi jika ada sebuah akhir berarti kita harus siap memulai suatu yang baru. 

                                                              ******



Judul terinspirasi dari film Guess Who’s Coming to Dinner (1967)

Kamis, 29 Agustus 2013

On Seeing The 100% Perfect Girl One Beautiful April Morning



By Haruki murakami



           Iseng googling tentang penulis favorit gue satu ini, hingga akhirnya saya menemukan salah satu cerpennya yang sangat menarik. Kenapa cerpen ini menarik? Karna cerpen ini menceritakan tentang romance yang biasa terjadi, tentang lelaki yang tak mempunyai keberanian walaupun hanya untuk berkenalan. Kisah simple yang ditulis dengan gaya surealis khas Murakami. Dan gue mau share salah satu cerpen karya Murakami ini, ya sembari menyelesaikan suatu proyek- hehehee..



       
       Suatu pagi yang indah di bulan April, di jalan sempit di daerah fashion Harajuku di Tokyo, aku berpapasan dengan gadis yang 100 persen sempurna.

                                                                             *** 

          Sejujurnya, dia tidak begitu cantik. Dia tidak menonjol. Pakaian yang ia kenakan tidak istimewa. Bagian belakang rambutnya masih sedikit acak-acakan bekas bangun tidur. Dia sudah tidak muda lagi pula - mungkin mendekati 30 tahun, tidak bisa lagi dibilang sebagai seorang 'gadis'. Namun demikian, aku bisa tahu dari jarak 50 yard: dialah gadis yang 100 persen sempurna bagiku. Pada saat aku melihat dia, ada gemuruh di dalam dadaku dan mulutku terasa kering seperti padang pasir.
       
       Mungkin kau memliki tipe gadis tersendiri yang kau sukai - mungkin gadis dengan pergelangan kaki yang ramping, atau mata besar, atau jari lentik, atau bisa juga kau tertarik dengan alasan yang tak bisa kau jelaskan pada gadis yang menghabiskan waktu cukup lama memakan makanannya. Aku tentu saja juga punya ketertarikanku sendiri. Kadang-kadang di sebuah restoran, aku sering mendapati diriku tanpa sadar menatap seorang gadis di meja sebelahku hanya karena aku sangat menyukai bentuk hidungnya.

        Namun tidak satu pun yang bisa berkeras berkata bahwa gadis yang seratus persen sempurna bagi dirinya berasal dari satu tipe tertentu. Betapa pun aku suka hidung, misalnya, aku tidak bisa mengingat bentuk hidung gadis tersebut - atau bahkan apakah ia punya hidung sama sekali. Satu-satunya yang bisa kuingat dengan pasti adalah bahwa gadis itu tidaklah terlalu cantik. Itu sungguh aneh.

      "Kemarin di jalan aku berpapasan dengan gadis yang 100 persen sempurna," aku berkata pada seseorang.

           "Begitukah?" katanya. "Cantik?"

           "Tidak terlalu."

           "Tipe favoritmu, kalau begitu?"

       “Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat apa pun tentang dia - bentuk matanya ataupun bentuk dadanya."

           "Aneh."

           "Ya. Aneh."

        "Jadi," katanya, sudah mulai bosan, "apa yang kau lakukan? Bicara padanya? Mengikuti dia?"

          "Tidak melakukan apa-apa. Hanya berpasasan saja di jalan."

         
          Dia berjalan dari timur ke barat, dan aku dari barat ke timur. Saat itu benar-benar pagi bulan April yang indah.

       Aku harap aku bisa bicara dengannya. Setengah jam sudah cukup: hanya untuk menanyakannya tentang dirinya, menceritakan tentang diriku, dan - inilah yang benar-benar ingin kulakukan - menjelaskan kepadanya tentang kerumitan jalur nasib yang membawa kita berpapasaran satu sama lain di pinggir jalan di Harajuku pada sebuah pagi bulan April yang indah di 1981. Tentang sesuatu yang padat dengan berbagai rahasia yang hangat, seperti sebuah jam antik yang dibuat pada saat kedamaian masih memenuhi bumi.

         Setelah berbincang, kita akan makan siang bersama, mungkin menonton sebuah film Woody Allen, singgah sebentar di bar hotel untuk minum, dan dengan sedikit keberuntungan, pertemuan kita bisa berakhir di tempat tidur. 

          Kemungkinan itu mengetuk pintu hatiku.

          “Bagaimana aku bisa mendekati dia? Apa yang bisa kukatakan?”

      "Selamat pagi, nona. Bisakah menyediakan waktu barang setengah jam untuk satu percakapan pendek?"

         Menggelikan. Rasanya aku seperti sales asuransi.

       "Maaf mengganggu, tapi apakah anda tahu binatu yang buka sepanjang malam di sekitar sini?"

          Tidak. Ini akan sama menggelikan. Aku tidak membawa cucian kotor. Siapa yang akan percaya kalimat semacam itu?

       Mungkin kejujuran yang sederhanalah yang paling tepat. "Selamat pagi. Kamu adalah gadis yang 100 persen sempurna bagiku."

       Tidak, dia tidak akan percaya itu. Atau jika dia percaya, dia mungkin tetap tidak mau bicara padaku. Maaf, mungkin demikian katanya. Aku mungkin gadis yang 100 persen sempurna bagimu, namun kamu bukanlah lelaki yang seratus persen sempurna bagiku. Itu bisa saja terjadi. Dan jika aku harus menghadapi situasi tersebut, aku mungkin akan hancur berkeping-keping. Aku tidak akan pernah pulih dari hal seperti itu. Aku 32 tahun, dan demikianlah artinya menjadi tua.

     Kami berpapasan di depan sebuah toko bunga. Genangan udara kecil dan hangat menyentuh kulitku. Aspal jalanan terasa lembab, dan aku sedikit mencium aroma mawar. Aku mencoba berbicara dengan dia, tetapi tidak bisa. Dia mengenakan sweater putih, dan di tangan kanannya dia memegang sebuah amplop putih bersih yang belum ditempel perangko. Jadi: dia menulis surat kepada seseorang, mungkin menghabiskan seluruh malamnya untuk menulis surat itu, bila mengamati wajahnya yang terlihat masih mengantuk. Di dalam amplop itu mungkin tersimpan semua rahasia yang pernah ia miliki.


Aku berjalan beberapa langkah lagi dan kemudian berbalik: dia sudah hilang dalam kerumunan.


         ......



      Sekarang tentu saja, aku tahu dengan pasti apa yang perlu kukatakan padanya. Walaupun mungkin terlalu panjang, terlalu panjang untuk bisa kusampaikan dengan benar kepadanya. Ide-ideku memang tidak pernah praktis untuk diterapkan.

       Ah, biarlah. Kata-kataku akan dimulai dengan "Suatu ketika" dan berakhir dengan, "Suatu kisah yang sedih, bukan?"


........


        Suatu ketika, hiduplah seorang anak lelaki dan seorang anak gadis. Anak lelaki itu berusia 18 tahun dan sang anak gadis 16 tahun. Sang anak lelaki tidak terlalu tampan, dan sang anak gadis tidaklah terlalu cantik. Mereka berdua hanyalah anak lelaki dan perempuan kesepian biasa, seperti semua anak lainnya. Namun mereka percaya dengan seluruh hati mereka bahwa di suatu tempat di dunia ada anak lelaki yang 100 persen sempurna dan anak gadis yang 100 persen sempurna bagi mereka masing-masing. Ya, mereka percaya pada keajaiban. Dan bahwa keajaiban memang benar-benar terjadi.


Suatu hari, keduanya bertemu dengan satu sama lain di pojok sebuah jalan.


           "Ini luar biasa," kata sang anak lelaki. "Aku sudah mencarimu sepanjang hidupku. Kau mungkin tidak percaya, tapi kaulah gadis yang 100 persen sempurna bagiku."

        "Dan kau," kata sang anak gadis, "adalah lelaki yang 100% sempurna bagiku, persis seperti yang aku bayangkan dalam setiap detilnya. Ini seperti mimpi."

    Mereka kemudian duduk di sebuah bangku taman, berpegangan tangan, dan menceritakan kisah mereka masing-masing pada satu sama lain selama berjam-jam. Mereka tidak kesepian lagi. Mereka telah menemukan dan telah ditemukan oleh pasangan 100% sempurna mereka. Sungguh luar biasa untuk bisa menemukan dan ditemukan oleh pasangan 100% sempurnamu. Ini adalah keajaiban, suatu keajaiban kosmis.

          Namun, saat mereka duduk dan berbicara, sebersit mungil keraguan muncul dalam hati mereka: benarkah tidak apa-apa bahwa suatu mimpi bisa terwujud dengan demikian mudah?

         Jadi, begitu ada jeda dalam perbincangan mereka, sang anak lelaki berkata, "Mari uji diri kita - hanya sekali saja. Jika kita benar-benar kekasih yang seratus persen sempurna bagi satu sama lain, maka di suatu tempat, di suatu waktu, kita pasti akan bertemu lagi. Dan jika itu benar terjadi, sehingga kita tahu pasti bahwa kita adalah pasangan yang 100% sempurna, kita akan menikah di situ dan saat itu juga. Bagaimana menurutmu?"

          "Ya," kata sang gadis, "itulah yang harus kita lakukan."


Jadi mereka berpisah, sang gadis ke timur dan sang lelaki ke barat.

      Namun sebenarnya, ujian yang mereka sepakati bersama sama sekali tidak perlu. Mereka seharusnya tidak melakukan itu, karena mereka benar-benar dan sungguh-sungguh kekasih yang 100 persen sempurna bagi satu sama lain, dan bahwa adalah suatu keajaiban mereka bisa bertemu. Namun, mustahil bagi mereka untuk tahu tentang itu, demikian mudanya mereka. Gelombang nasib yang dingin dan tanpa perasaan pun mulai mempermainkan mereka berdua.

        Di satu musim dingin, sang lelaki dan sang perempuan terjangkit penyakit influenza musiman yang sangat parah, dan setelah berminggu-minggu berkelana di antara hidup dan mati, mereka kehilangan semua ingatan tentang kehidupan mereka sebelumnya. Saat mereka tersadar, kepala mereka sama kosongnya dengan celengan D.H. Lawrence muda.

         Walaupun demikian, mereka adalah dua anak muda yang cerdas dan bertekad kuat, dan melalui berbagai upaya keras, mereka akhirnya bisa mendapatkan kembali berbagai pengetahuan dan perasaan yang membuat mereka layak diterima kembali sebagai anggota masyarakat secara penuh. Puji Tuhan, mereka menjadi warga negara teladan yang paham bagaimana berpindah dari satu jalur kereta ke jalur lainnya, yang sangat paham bagaimana cara mengirimkan surat kilat khusus di kantor pos. Bahkan juga, mereka mengalami cinta kembali, beberapa kali dengan kadar 75% atau bahkan 85%.


Waktu berlalu dengan kecepatan yang mengejutkan, dan dengan segera sang anak lelaki menjadi 32 tahun, sedangkan sang gadis 30 tahun.


        Suatu pagi bulan April yang indah, dalam rangka mencari secangkir kopi untuk memulai hari, sang lelaki berjalan dari barat ke timur, sedangkan sang gadis yang bermaksud mengirimkan sebuah surat kilat khusus berjalan dari timur ke barat, keduanya melalui jalan sempit yang sama di kawasan Harajuku di Tokyo. Cahaya redup dari ingatan mereka yang hilang berkilau sesaat dalam hati mereka. Masing-masing merasakan gemuruh dalam dada mereka. Dan mereka tahu:

         Ia adalah gadis yang 100% sempurna bagiku.

         Ia adalah lelaki yang 100% sempurna bagiku.

       Namun kilauan ingatan mereka terlalu lemah, dan pikiran mereka tidak lagi sejelas 14 tahun sebelumnya. Tanpa kata apa pun, mereka melewati satu sama lain, menghilang dalam kerumunan. Selamanya.

Suatu kisah yang sedih, bukan?


......


Ya, begitu. Itulah yang harus aku katakan padanya.


                                                                            ******