Wikipedia

Hasil penelusuran

Tampilkan postingan dengan label shortstory. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label shortstory. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Maret 2020

Dukun Setan


Minggu lalu aku bersama tiga orang temanku, Rina dan Joni, berencana berlibur bertiga ke pantai Anyer. Kami bertiga adalah sahabat dekat sejak kuliah semester pertama, dan memang beberapa sebulan sebelumnya kami banyak sekali tugas kuliah. Jadi gak salah kan, kalo kami berencana liburan bertiga ke Anyer dengan mobil Joni.

Kami berangkat dari jam satu siang dari jakarta. Awalnya perjalanan berjalan lancar, selama perjalanan Joni terus menakuti kami kalau di jalan yang kami lalui, sering muncul kejadian mistis tentang dukun iblis. Aku dan Rina hanya tertawa saja menanggapi bualan Joni.

Sekitar jam setengah enam sore, tiba tiba mobil Joni mogok. Di sekitar kami hanya ada hutan, kami pun kebingungan karena sebenarnya bensin masih penuh ditambah kami tidak ada yang mengerti tentang mesin mobil. Disaat kebingungan, ada yang mengetuk jendela mobil. Joni yang duduk di bangku supir membuka jendela. Ada seorang pria paruh baya menanyakan keadaan kami dan menawarkan bantuan. Nama pria itu adalah Pak Rizal, dia menyuruh kami untuk mampir ke rumahnya yang ada di seberang jalan. Dia bilang kalau anaknya adalah montir yang mungkin bisa membantu kami. Kami bertiga pun setuju, karena memang tidak ada pilihan lain.

Hari mulai menjelang malam, tapi anak Pak Rizal belum juga mulai memperbaiki mobil kami. Pak Rizal bilang kalau anaknya kerja sebagai montir di kota dan biasanya baru sampai rumah setelah solat isya. Pak Rizal lalu menawarkan kami makan malam, Rina mencoba menolak karena tidak enak tapi karena aku sangat lapar, aku mengiyakan tawaran Pak Rizal.

Pak Rizal menyuruh kami duduk di meja makan, sambil menunggu istrinya mengantarkan makanan. Tak lama kami menunggu, muncul seorang nenek berwajah pucat dengan rambut putih seperut mengantarkan sebakul nasi. Nenek itu berjalan dengan sangat pelan sampai aku, Joni dan Rina saling pandang karena merasa aneh. Pak Rizal lalu memberitahukan kalau wanita itu adalah istrinya. Ketika Pak Rizal bilang kalau itu istrinya, aku makin merasa aneh karena secara fisik usia Pak Rizal mungkin masih sekitar 50 tahun, sedangkan nenek tadi mungkin usianya sudah 80 tahun.  Aku dan ketiga temanku hanya bisa saling pandang, aku tau kalau kami bertiga sedang memikirkan keanehan yang sama.

Setelah semua makanan datang, Pak Rizal yang sudah ditemani dengan istrinya mempersilahkan kami makan. Dengan perasaan sedikit takut, aku mulai makan lele goreng yang sudah disiapkan. Baru aku makan tiga gigit tiba tiba kepalaku terasa pusing, lalu Rina tiba tiba terjatuh pingsan, kemudian disusul oleh Joni, tak lama aku juga ikut pingsan.


Aku pelan pelan membuka mata, aku tak tau sudah berapa lama tak sadarkan diri. Aku masih berada di meja makan, di depanku masih ada Joni yang pingsan. “Joni.. Joni...” Aku membangunkan Joni dengan suara pelan. Joni akhirnya bangun dengan wajah bingung, lalu dia menanyakan Rina, Pak Rizal dan istrinya yang tidak ada di meja makan.

Kami berdua berinisiatif mencari Rina. Kami memasuki kamar yang ada di rumah tapi kami tidak ada seorang pun. “Jon, lo dengar gak ada suara di belakang rumah?” Sayup sayup aku mendengar suara dari belakang rumah. Joni terdiam dan memastikan sumber suara itu, lalu Joni langsung menarik aku ke belakang rumah.

Di belakang rumah, kami melihat sebuah kejadian aneh. Rina sedang tidur terlentang di atas tanah, disampingnya ada istri Pak Rizal sedang duduk jongkok, lalu Pak Rizal sendiri sedang berdiri mendongakan kepala keatas dengan mulut komat kamit. Aku sadar kalau Rina sedang dalam kesulitan, namun karena takut aku dan Joni seakan tidak bisa menggerakan badan kami.

Di depan mata kami, tiba tiba... istri Pak Rizal menggigit nadi tangan kanan Rina. Dan sepersekian detik muncul kejadian aneh yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Saat nadi Rina digigit, seperti ada perpindahan energi antara Rina dan istri Pak Rizal. Pelan pelan tubuh Rina mengering, dan tubuh istri Pak Rizal terlihat semakin muda. Se.. sepertinya.. darah Rina saat ini sedang disedot sampai habis.

Aku langsung membaca bacaan bacaan agama kepercayaanku sampai akhirnya tubuhku bisa bergerak lagi. “RINAAAAA!!!!” Saat tubuhku bisa bergerak, aku langsung berteriak menyebut nama Rina. Tapi ternyata tindakanku salah.

     Pak Rizal dan istrinya yang tampak lebih muda melihat kearahku dan Joni yang sedang bersembunyi, dan tampak di tanah tubuh Rina yang sudah kering kerontang. Bulu kuduk ku makin merinding melihat hal itu, ditambah istri Pak Rizal menyeringai lebar. Seringai dari bibirnya hampir menyentuh kedua telinga. Keadaan menjadi sunyi, dan pecah saat tiba tiba istrinya tertawa keras... hihihihii.. hihihiii..., Pak Rizal lalu berlari kearah kami bersembunyi.

Secepat mungkin aku lari menyelamatkan diri. Tanpa kusadari aku hanya lari sendirian, karena ternyata Joni masih kaku terdiam di tempat kami bersembunyi. Saat aku mencoba kembali, Pak Rizal muncul dan langsung menggigit telinga kiri Joni. Aku ingin menolongnya, tapi aku terlalu takut. Aku pun memutuskan untuk lari keluar rumah tanpa melihat kebelakang. Aku lari kencang, lalu terjatuh dan tak sadarkan diri.

Keesokan harinya aku terbangun di jok mobil yang jendelanya sudah terbuka lebar, dihadapanku ada beberapa penduduk desa sedang kebingungan melihatku. Aku melihat semua sudut mobil tapi tidak ada keberadaan Rina dan Joni. Aku langsung menceritakan kejadian yang aku alami semalam kepada penduduk desa. Diantara semua penduduk desa, ada satu nenek tua bicara padaku, dia bilang... “Dukun setan sudah menemukan tumbalnya untuk hidup abadi...”.

*******

Sabtu, 30 Januari 2016

Si Cantik, Senja...


Sore ini tak berjalan seperti biasanya. Kulihat jam di tanganku sudah menunjukan waktu pukul lima, tapi si cantik itu belum juga muncul di tempat ia biasa berdiri di pojok kiri halte. Hampir satu jam aku di hatle ini hanya untuk melihat wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang dan berkacamata yang selalu aku temui sejak dua minggu terkahir, saat jam pulang kantor. Pertama kali aku melihat wanita ini tepat pukul lima lebih lima belas sore, di hari Rabu dua minggu lalu. Wanita itu memakai blus coklat dengan dalaman kemeja putih bergaris biru, yang membuatnya terlihat elegan. Selain itu, rambut panjangnya yang bergelombang ditambah kacamata berframe hitam membuat penampilannya begitu sensual dan menggemaskan. Aku juga ingat, saat itu ia memakai high heels yang membuat tingginya hampir menyamaiku. Namun kuperkiraankan ia memiliki tinggi sekitar 165 sentimeter, lebih pendek lima sentimeter dariku.

Di hari pertama aku menemuinya, tak ada yang bisa kuucapkan selain gumam dalam hati mengenai betapa cantiknya bidadari yang baru saja kutemui. Aku terus memperhatikannya tanpa memperdulikan sekelilingku, walaupun ia sama sekali tak menoleh kearahku. Seperti yang bisa diperkirakan, hari hari selanjutnya aku tak pernah absen memikirkan wanita misterius itu. Dari mata terbuka hingga terpejam, wajahnya selalui berputar di benakku hingga tanpa kusadari aku orgasme karna hal itu.

Hari ke delapan, aku akhirnya bisa berbicara dengannya walau hanya tiga kalimat saja. Sore itu, hujan turun dengan intensitas yang tidak terlalu deras, tapi untungnya aku sudah menyiapkan payung. Sesampai di halte, aku menunggu cukup lama kedatangan wanitaku sampai jam tanganku menunjukan pukul setengah enam sore. Tak lama ia akhirnya datang dengan keadaan yang membuatku cukup terkejut, karna ia benar benar sangat basah akibat hujan. Dari jarak lima meter aku terus memandanginya, rasa kasihan dan kagum tergabung menjadi satu dikepalaku. Karna terus menatapnya, akhirnya aku menyadari dua hal penting. Pertama, ternyata ia tak sama sekali tak membawa payung dan sepertinya ia memaksakan diri berjalan ke halte, maka tak heran jika ia sangat basah sekujur tubuh . Kedua, mataku tak bisa beranjak dari dua buah dada yang tercetak jelas karna kemejanya yang basah. Kedua buah dada yang sangat indah dan besar, perkiraanku ia mengenakan bra ukuran 34 dengan cup B.

Mataku masih saja tak berpaling darinya hingga kusadari tiba tiba saja ia  berjalan kearahku, terang saja itu membuatku salah tingkah. Aku pun langsung memasang wajah senormal mungkin seperti sedang tak terjadi apa apa sebelumnya. Dan benar saja, si cantik itu berhenti tepat disebelah kiri aku berdiri. Kuperkirakan saat itu jarak kami hanya sekitar sepuluh sentimeter saja, aku bisa dengan jelas mendengar gigi nya sedang menggigil menahan dingin.

“Kau punya korek?”, Wanita itu tiba tiba saja berbicara kepadaku.

“Apa?”, Cukup kaget aku mendengar wanita itu berkata kepadaku. Namun karna gugup, aku hanya kata “Apa” yang keluar dari mulutku.

“Kau punya korek?”, Ia kembali mengulangi kalimatnya.



“Korek? Sayang sekali aku tidak merokok.”

“Oh, oke terima kasih. Have a Nice Day.” Ujar wanita itu sambil melepaskan kacamatanya yang berembun karna percikan air hujan.

“Iya, sama sama.”

Kalimat ini menjadi kalimat terkahir dariku di hari itu, total aku hanya bisa ngobrol bersama wanita itu sebanyak tiga kalimat saja. Walaupun sebenarnya itu tak bisa disebut ngobrol tapi tetap saja aku tak bisa berhenti memikirkan itu. Wajahnya, buah dadanya dan suara merdunya menjadi bunga tidurku malam itu. Esoknya, aku pun tetap melakukan apa yang bisa kulakukan di hari sebelumnya, hanya memandanginya saja. Hari berlalu tanpa ada hasil apapun, nomor telfonnya aku tak tau bahkan namanya saja aku hanya menerka nerka.

Hari hari berlalu, aku makin tak bisa menutupi perasaanku. Aku benar benar ingin berbicara dengannya, setidaknya aku bisa mengetahui namanya. Maka kubulatkan tekat dan meyakinkan diri bahwa aku harus berbicara dengannya secepatnya.

Hari perkenalan itu pun tiba, hari ini aku harus mengetahui namanya. Namun kulihat jam di tangaku, 15 menit lagi waktu menunjukan tepat pukul enam sore tapi wanita itu belum juga juga datang ke halte. Aku mulai berpikiran aneh aneh, mungkin dia diculik dijalan atau mungkin dia pulang diantar kekasihnya, begitu banyak pikiran negatif muncul silih berganti di kepalaku.

Dan akhirnya pukul enam tepat, akhirnya si cantik muncul dengan wajahnya yang sangat lusuh penuh kelelahan. Terlihat dari wajahnya, sepertinya ia baru saja mengalami hal berat hari ini. Sejenak aku hampir saja mengurungkan niatku untuk berbicara dengannya tapi aku terus berpikir, “Jika bukan hari ini, kapan lagi?”

Perlahan aku menghampiri si cantik yang dari tadi hanya tertunduk tanpa semangat. Sejenak aku terdiam merangkai kata yang ingin aku ucapkan kepadanya.

“Hai, ada apa?” Ujarku dengan pelan.

Wanita itu menoleh kearahku. Dari tatapannya aku tau, bahwa ia masih mengenalku. Seorang yang sempat ia ajak bicara beberapa hari yang lalu.

“Oh, tak ada apa apa.”

“Apa kau yakin? Dari tadi aku melihatmu sepertinya ada yang tak beres.”

Wanita itu hanya diam saja mendengar ucapanku. Aku teringat bahwa di dalam tas aku menyimpan sebuah tissue, segera saja aku langsung mengambilnya dan kuberikan kepada wanita itu. Kusodorkan tissue tersebut tepat kearahnya. Dengan sedikit ragu dan perlahan ia mengambil tissue itu lalu mengusapkan ke sisi matanya yang terhalang kacamata.

“Senja...”

Wanita itu tiba tiba berkata yang membuatku sedikit bingung mendengar ucapan yang keluar darinya.

“Namaku Senja...” Ia melanjutkan ucapannya seraya mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan denganku. Sedikit tak percaya, aku pun segera membalas uluran tangannya. Aku bahkan tak menyangka sebelumnya jika bisa berjabat tangan dengannya.

“Siapa namamu?” Wanita itu kembali berkata padaku, yang terpaku hingga lupa untuk membalas tanda perkenalan darinya.

“Oh iya maaf, kau bisa memanggilku Kirana.” Dengan sedikit canggung aku menjawab jawaban dari si cantik, yang baru kuketahui bernama Senja.

“Kau kerja disekitar sini?” Tanya Senja kepadaku.

“Ya, begitu lah.”

“Kutebak, kau pasti bekerja di sebuah di gedung itu.”  Wajahnya yang tadi tertunduk tiba tiba saja terlihat sedikit sumringah, ia bahkan menebak profesi dan lokasi kantorku dengan sangat tepat. Aku sedikit terkejut dan sepertinya ia menyadari apa yang kurasakan.

“Ya, aku bisa menebak dari blus dan rok ketat yang biasa kau kenakan tiap sore, selain itu id card perusahaanmu juga sering terlihat nyelip di sela kemeja.”

Perkataan Senja barusan membuatku semakin terkejut, aku tak menyangka ternyata ia juga selama ini memperhatikanku bahkan sedetail itu. Ketelitiannya sangat berbanding terbalik denganku, yang selama dua minggu ini hanya memperhatikan wajah cantik dan dadanya yang besar.

“Sorry, sepertinya aku harus perggi duluan.” Tanpa terasa bus yang selalu ditumpangi Senja sudah tiba di halte. Ia Sambil menyalamiku ia, langsung bergegas beranjak untuk masuk kedalam bus.

“Sampai ketemu besok, Kirana.”

Ujar Senja sebagai perkataan terakhir sebelum akhirnya ia masuk kedalam bus. Hanya hitungan detik, Senja dan bus nya sudah menghilang dari hadapanku.

Sampai jumpa besok...” Dalam hati aku membalas ucapan terakhir Senja. Kurasa ini merupakan sebuah awal yang baik untukku dan Senja, aku harap besok aku masih bisa bertemu dengannya di halte ini.


                                                                *****






Kamis, 03 September 2015

Dear Laras...



London, 17 Juni 1994

Dear Laras,

Hai sayang, apa kabar? Gimana hadiah yang terakhir yang aku kirim? Aku yakin pasti scraft itu bikin  kamu keliatan cantik banget.

Maaf, kalo hampir dua bulan ini aku gak kirim surat, kamu pasti tau, kerjaan aku disini sangat menyita waktu. Ditambah lagi, Anthony, dosen mata kuliah teknik reportase yang resek itu, ngasih tugas yang “impossible”, bayangin aja, dua minggu belakangan aku harus bolak balik stasiun Paddington. Aku dikasih tugas untuk bikin laporan tentang gelandangan yang sering menyelinap masuk kesitu, biasanya itu gelandangan numpang tidur disana. Padahal menurut aku tugas seperti ini, itu untuk wartawan beneran bukan tugas buat mahasiswa. Tapi gapapa sih, yang penting tiap malam aku masih bisa liat bulan yang ingetin aku sama kamu. 

Loh kenapa bulan ya? hehehe.. Jadi gini, walaupun kita di tempat yang beda, di rentang waktu yang beda juga, tapi kita tetep pandangin bulan yang sama kan? Itu udah cukup bikin aku ngerasa deket terus sama kamu.

By the way, kalo aku hitung mungkin sudah hampir setahun ya kita gak ketemu? Aku gak nyangka loh kalo emang udah selama itu, perasaan baru kemarin aku dengerin kamu nyanyi diacara perpisahan SMA kita. Emm, aku masih inget kamu nyanyi lagu apa, Mr. Big – To Be With You, lirik depannya gini kan

Hold on little girl
Show me what he's done to you
Stand up little girl
A broken heart can't be that bad
When it's through, it's through
Fate will twist the both of you
So come on baby come on over
Let me be the one to show you

Nah, litlle girlnya itu kamuu!! Hahahaha maaf ya jayus bercandaannya.

Tapi kalo ini beneran, aku kangen banget sama kamu. Aku tulis surat ini tanggal 17 Juni, aku gabisa pastiin kira kira sampe Jakarta tanggal berapa. Yang pasti 10 hari lagi itu tanggal 27, it means kita udah jalan pacaran 3 tahun looh, 3 tahun! Aku excited banget, ga nyangka bisa selama itu. Kamu pasti seneng banget kan nyambut tanggal 27 nanti? Aku janji, aku akan siapin hadiah spesial buat kamu.

Tahun depan setelah aku lulus kuliah, aku mau pulang ke Jakarta untuk ketemu sama orang tua kamu. Aku mau nikahin kamu, din. Aku Janji. Segini dulu ya yang bisa aku tulis, kamu baik baik ya disana, aku tunggu balesan surat dari kamu.




Your love, Albar.
***********



                                                                       London, 3 September 1996
Dear Laras,

Hai dear, gimana keadaan kamu di Jakarta? Aku selalu yakin kamu baik baik aja di sana. Maaf sekali lagi kalo belakangan ini aku sibuk, sampe 2 bulan ga nyuratin kamu. Aku lagi giat giatnya kerja buat kumpulin modal, biar bisa nikahin kamu tahun depan! Hehehe..

Dua bulan lalu aku sibuk banget ngeliput liga Inggris yang emang disini lagi happening banget. Walaupun yang juara itu Manchester United, tapi euphorianya berasa banget sampe ke London, jadi di bulan Juni itu Fulham road bener bener dipenuhi sama suporter yang pake jersey merah. Sumpah beda banget loh sama di Indonesia, kalo disini perayaan juara gitu aja bisa lama banget. Aku gak kebayang deh, kalo Arsenal atau Chelsea juara liga Inggris pasti London makin rame aja.

Maaf intermezzo ya ras, soalnya berkesan sih buat aku jarang banget aku bisa liat keadaan kayak gitu, apalagi liat secara langsung - hehehe..

Aku mau cerita sama kamu, jadi kemarin lusa di kampus aku ketemu sama cewe gitu. Awalnya aku ngeliatnya dari belakang aja, jadi dia punya rambut panjang dengan warna hitam pekat, tinggi badannya mungkin sekitar 170 sentimeter, terus dia pake coat warna coklat gitu, pake angkle boots warna coklat juga. Aku sempet salting gitu, soalnya kalo diliat dari belakang persis banget kayak style yang biasa kamu pake gitu ras. Jadi karna penasaran, aku samperin kan tapi pas aku liat, ternyata beda banget soalnya jelas kamu jauh lebih cantik. Cewek itu namanya April Riquelme, dia orang Paraguay, pantes aja rambutnya bisa item gitu.

Karna ketemu sama si April tiba tiba aja aku jadi makin kangen kamu, mungkin karna sekilas kalian emang keliatan mirip sih. Cuma kamu jangan mikir aneh aneh ya, aku tetep into you ras, ga akan pernah ada tempat untuk cewek lain. Tahun depan aku pasti pulang untuk nikahin kamu, dan aku udah gak sabar nungguin itu.

Aku ini kangen bangeeet dan pengen ketemu sama kamu. Aku juga mau minta maaf kalo aku belum bisa tepatin janji aku 2 tahun lalu, tapi kamu harus yakin aku pasti tepatin itu untuk kamu. Kira kira kapan ya kita bisa arrange waktu untuk bisa ketemu gitu? Atau mungkin kamu sempetin nengok aku disini, kan bentar lagi aku bakal di wisuda, hehehee..

Aku mau banget pulang ke Jakarta untuk ngeliat kamu, aku mau dengerin kamu nyanyi To be with You lagi, aku juga mau titip hati aku ke kamu biar bisa kamu bawa kemana aja, hahahahaa! Maaf ya ras kalo aku gombal. Segini dulu yang bisa aku ceritain ke kamu ras, kamu baik baik ya disana, jagain hati aku.

Aku masih dan selalu nungguin balesan surat dari kamu, ditunggu kabar dari kamu ya, sayang. Happy fifth Anniversary for us, I love you so much...





Your love, Albar.


*************






London, 18 November 1997


Dear Laras,

Halo apa kabar? Kamu masih kenal sama aku kan? Hehehe.

Gimana kamu disana? Pasti baik baik aja kan. Maaf ya kalo aku baru bisa kirim surat lagi sekarang, kerjaan aku disini padet. Aku juga baru di rolling di bagian ivestigasi gitu, jadi aku harus ngintilin polisi gitu biar bisa dapet berita bagus. Ditambah lagi, investigasi kecelakaan Lady Diana ga kelar kelar, bikin pengen membelah diri deh, hahahaaa...

Gak kerasa banget, udah enam tahun loh kita belom bisa ketemu juga. Lagi lagi aku belum bisa tepatin janji aku ke kamu, terus masih dengan lancangnya gitu aja aku masih kirim surat ke kamu, maaf ya..

Aku cuma mau tau, udah tiga tahun kita jalanin hubungan jarak jauh dan udah selama itu juga kamu gak penah sekalipun bales surat dari aku, kenapa Ras? Apa karna kamu marah aku selalu undur janji untuk nikahin kamu? Atau memang kamu sengaja gak pernah bales surat dari aku? Bahkan waktu aku wisuda aja, gak ada ucapan selamat dari kamu.

Kamu kenapa, Laras?

Aku terus menerus nunggu balesan surat kamu dari kamu, walaupun hanya sekedar say hello atau apapun itu. Kamu kenapa sih ilang gitu aja?! Kalo emang kamu ngeraguin hubungan kita berdua, seenggaknya kamu gak akan lakuin ini ke aku!

Aku akan buktiin ke kamu kalo aku bener bener sayang sama kamu. Bulan depan aku akan pulang ke Jakarta untuk ketemu kamu, aku harap kamu mau sediain waktu buat ketemuan. Asal kamu tau, aku sayang banget sama kamu dan itu ga main main.

Aku masih terus pandangin bulan sebelum tidur yang bisa inget kamu, aku harap kamu juga masih begitu..

I miss you, laras




Albar


********




London, 3 Januari 2000


Dear Laras,

Hallo, little girl? How are you?

Maaf kalo aku masih lancang nulis surat buat kamu. Aku sadar sepertinya sampai sekarang aku masih sayang sama kamu, walaupun aku tau itu gak mungkin terjadi di kamu.

Tujuan aku nulis surat ini, pertama, aku pengen minta maaf karna ngerusak quality time kita di Jakarta tiga tahun lalu. Harusnya, waktu itu aku bisa bersikap lebih dewasa untuk nyikapin hal hal seperti kayak gitu. Tapi, kenapa lama banget ya aku minta maaf? Tiga tahun kemudian, lewat surat pula padahal sekarang udah ada handphone atau email.

Tujuan yang kedua, aku mau kamu tau kalo sampe sekarang aku belum bisa lupain kamu Ras, aku masih terus mikirin kamu. Aku masih gak percaya aja kenapa semuanya jadi kayak gini, masih ada kesempatan gak sih supaya aku bisa terus sama kamu? Masih ada kesempatan gak buat aku? Kalo ngga ada, kasih tau aku gimana caranya biar aku bisa sama kamu aja?

Setelah kejadian di Jakarta tiga tahun lalu itu, pas balik ke London aku merasa kayak zombie. Badan aku disini, tapi otak dan hati aku udah kutinggal di kamu,aku serasa gabisa idup tapi juga gabisa mati. Cinta yang aku punya kayaknya udah dibawa jauh sama kamu, sumpah, aku hanya mau kesempatan buat terus sama kamu.

Maaf banget sebelumnya, aku tau pasti sekarang kamu udah bahagia sama hidup kamu, sama suami kamu disana. Aku ikut seneng kalo kamu sekarang udah bahagia sama dia, walaupun awalnya emang berat banget, pas tau kalo ternyata kamu gak pernah bales surat aku alasannya karna itu.

Aku pernah denger pepatah, “kalo kamu bingung diantara dua pilihan, maka pilihlah nomor dua, karna yang kedualah yang bisa membuatmu melupakan yang pertama”, right choice. By the way, maaf suratku kali ini kacau banget. Intinya, aku mau minta maaf atas kejadian gak enak tiga tahun lalu dan aku juga cuma pengen kamu tau apa yang aku rasain.

Hmm... Seenggaknya lagu To Be With You emamg berkesan buat aku. Itu lagu yang bikin pertama kali aku kenal kamu, terus sekarang ternyata lirik terakhirnya juga pas banget kayak akhir hubungan kita, hahahaa!

Semoga waktu bisa pertemuin kita lagi ya, ras.  

“I'm the one who wants to be with you, deep inside I hope you feel it too. Waited on a line of greens and blues, just to be the next to be with you”





Albar

Minggu, 23 Agustus 2015

AFTER MIDNIGHT: THE MEN WHO KNEW TOO MUCH



"All the ways you wish you could be, that's me. I look like you wanna look, I fuck like you wanna fuck, I am smart, capable, and most importantly, I am free in all the ways that you are not."

          “Bagaimana quotes favoritku? Kau pasti tau itu dari film apa?”

       Suara wanita bising yang penuh amarah dan keangkuhan terdengar nyaring keluar melalui speker kecil yang berada di pojok kiri ruangan. Ruangan 3x4 yang cukup sempit untuk dihuni satu orang. Cukup membuat gerah, karna dilapisi dengan dinding besi namun berpintu kayu oak yang kokoh dan tanpa daun jendela. Mara, seorang pria paruh baya terduduk lesu di pojok ruangan, dia sudah empat hari berada di ruangan aneh, tanpa makan dan minum. Dia tak mengerti apa alasan dia bisa berada di sini, kejadian terakhir yang dia ingat adalah dia sedang menelfon anaknya dari telfon umum di pinggir stasiun kota. Tiba tiba saja dia dipukul seseorang dari belakang, dan kemudian tersadar di ruangan sempit ini.

       “Fight Club, bangsat! Apa mau mu?”, jawab Mara dengan emosi.

     “Tidak.. Hanya bertanya saja...” Jawab suara yang keluar dari ujung speaker.

   Mara, adalah seorang wartawan senior disebuah surat kabar ternama di ibu kota. Dia juga seorang ayah dari satu orang putri yang masih berusia empat tahun, istrinya sudah meninggal setahun lalu karna bunuh diri. Dia merasa selama ini tak punya musuh sama sekali, dia hanya wartawan film bukan wartawan politik jadi tak mungkin ulasan atau kritikannya akan menyinggung orang lain. Hal yang dia alami sekarang berada diluar nalar akal sehatnya sebagai manusia. Bingung, kesal, marah dan lapar semuanya bergabung menjadi satu hingga tak cukup dengan satu kata untuk menjelaskan apa yang Mara rasakan saat ini.

      “Mara.. Mara... Mara... Kau pintar, aku tertarik denganmu. Kau selalu membuatku bergairah ketika berpura pura bodoh...” Kembali suara wanita keluar dari ujung speaker.
             
        “Cih! Aku tak mengerti maksudmu?!”
                
     “Wartawan berpengalaman dengan prestasi meliput banyak kasus yang menghebohkan, apakah menurutmu salah satu dari sekian banyak tulisanmu tak ada yang menyinggung orang lain?”, ujar wanita itu seraya tersenyum sinis yang terdengar menggema.
                
      Tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya yang hanya bisa terduduk disudut ruangan, Mara mencoba mengingat semua kasus yang ia tulis di surat kabarnya, mulai dari kasus korupsi yang melibatkan CIA dan MI6, pelacuran kelas atas yang melibatkan menteri luar negeri, hingga party orgy yang melibatkan anak para pejabat pemerintahan. Tentu dari semua kasus yang pernah ia beritakan, membuatnya mendapatkan banyak musuh yang bergerak secara tak kasat mata, bahkan bukan tak mungkin sebentar lagi namanya akan menghilang dari perederan.
                
     “Aku beri waktu 10 detik, jika benar sebentar 5 menit lagi akan ada seporsi ribeye steak datang untukmu.”
                
     Tanpa berkata apapun, Mara terus memutar otak menghubungkan semua kasus yang pernah ia beritakan. Sepiring steak bukanlah menjadi prioritasnya saat ini, melainkan nyawalah yang ia khawatirkan. Empat hari dikurung disebuah ruangan asing, bukan tak mungkin wanita ini malah memberinya racun pada steak itu nantinya. Keringat mengucur dari ubun ubun, karna ia terusa berusaha mengingat dan menghubungkan semua hal menjadi satu kesatuan tapi sepertinya itu semua hasilnya nihil.
                
   “JAWAAAAAB!!!!”, wanita itu berteriak kencang, nampaknya ia sangat emosi karna Mara tak bisa memberikan jawaban apapun.
                
        “A.... ada banyak kasus yang aku tulis, aku tak bisa mengenalmu”, sebuah kalimat keluar dari mulut Mara, bukan sebuah jawaban bagus tapi setidaknya itu cukup memberitahu semua yang ada dipikirannya.
                
    “Ayolahh buat permainan ini seru, kau sama sekali tak membuatku bergairah!”, jawab si wanita misterius.
                
         Mara mulai menyadari bahwa dirinya sedang berada di posisi yang sangat tak menguntungkan, ia tau bahwa sebuah masalah besar sedang menghampirinya.
                
          Dooor!! Door!! Door!!
                
         Terdengar tiga kali suara tembakan, persis diluar ruangan tempat Mara dikurung. Dengan penuh kebingungan bercampur rasa takut, ia mulai bergerilya di ruangan sempit itu mencari sebuah tempat untuk berlindung walaupun ia tau hal itu tak menghasilkan apapun. Namun ternyta sepertinya bukan ia saja yang panik, dari balik speaker sayup terdengar sedikit kepanikan dan amarah dari wanita misterius itu. Mara menyimpulkan sepertinya orang orang dibalik speaker, juga terkejut dengan suara tembakan itu namun menurutnya ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan apa yang terjadi dibalik speaker.
                
     Tiba tiba saja pintu oak yang menahan Mara ditembak dua kali secara beruntun, yang mengakibatkan pintu tersebut terbuka. Sosok pria dengan proporsi badan tinggi dan tegap, rambut hitam klimis, berkacamata hitam dengan sebatang rokok menempel di bibirnya memasuki ruangan. Mengenakan jas press body berwarna hitam dengan dalaman kemeja biru pastel, ditambah celana bahan model stright berwarna hitam dan sepatu pantofel, pria asing ini terlihat parlente seperti seorang excutive, tapi saat ini pria itu memegang sebuah handgun klasik tipe Walther P99 di tangan kanannya.
                
              “Mara Cornell?”, ujar pria itu seraya menunjuk wajah Mara dengan tangan kirinya.
                
         Mara yang terkejut tak bisa bekarta apapun, ia hanya mengangguk tanda menjawab atas pertanyaan dari pria tersebut. Pria itu langsung menghampiri dan menarik lengan kirinya, ia memaksa untuk mengikutinya keluar dari kurungan itu. Dengan kedua kaki yang bergetar hebat, Mara mencoba mengikuti pria itu, entah kenapa ia meyakini bahwa pria itu datang untuk menyelamatkannya.
                
       “TANGKAP PENGACAU ITU!!!!!!!” kembali terdengar teriakan wanita misterius dari balik speaker, sepertinya ia sangat marah dengan keadaan yang terjadi.
                
             Mendengar teriakan itu, pria itu membuang rokoknya dan langsung saja menarik Mara untuk mempercepat jalannya. Mara terkejut melihat keadaan diluar ruangannya disekap sudah dipenuhi tiga mayat dengan kepala berlubang akibat tertembak. Namun ternyata sepertinya usaha mereka untuk keluar tak semudah itu, ruangan tempat mara disekap ternyata terhubung dengan sebuah jalan menyerupai labirin panjang dan gelap. Mara menyimpulkan sepertinya ini sebuah ruangan bawah tanah khusus yang dirancang khusus sebagai tempat persembunyian.
                



       Mara hanya mengikuti arahan dari si pria misterius, yang memberi intruksi agar Mara mengkikuti pergerakannya secara perlahan dari belakang. Dengan mengacungkan senjatanya, pria itu bergerak pelan menyusuri jalan berdinding baja seperti sedang menghindari sesuatu yang tak diharapkan.
                
              Door!! Dooor!!!

Hampir berjalan selama 10 menit tiba tiba saja terdengar suara tembakan dari arah belakang, beruntung tembakan itu meleset tanpa mengenai mereka berdua. Mendengar suara tembakan, pria itu langsung menarik Mara untuk segera berlari menyelamatkan diri. Saat ini kira kira mereka sedang dikejar oleh lebih dari sepuluh orang yang semuanya memegang senjata. Pria tersebut berlari dengan sangat kencang menarik Mara hingga mereka menemukan sebuah jalan persimpangan yang sepertinya dapat membuat mereka bersembunyi untuk semenatara waktu.

Dengan bersembunyi dibalik sebuah tembok, pria tersebut memasang posisi siap menembak dan Mara yang ketakutan hanya bisa bersembunyi dibelakang pria itu. Melihat mereka berdua yang bersembunyi, kesepuluh orang pengejar itu pun bersiap melakukan serangan dengan menodongkan semua senjata mereka. Adu tembak pun tak bisa dihindarkan, Dooor! Dooor! Dooor! Doooor!! Semua pengejar tadi menembakan amunisinya kearah persebembunyian mara dan pria itu. Pria itu tak membalas satu pun tembakan yang dialamatkan padanya, ia hanya terlihat mengeluarkan sebuah peluru berwarna biru yang ia masukan kedalam handgun miliknya, sepertinya tembakan bertubi tubi ini membuatnya tak memiliki kesempatan untuk membalas tembakan.

Namun sepersekian detik saat serangan terdengar melengah karna para pengejar mulai kehabisan peluru, pria itu langsung keluar lalu menembakan handgunnya tepat diatas dinding batu tempat para pengejar itu berdiri. Hanya dengan satu kali tembakan saja, dinding batu itu runtuh menimpa seluruh pengejar itu. Pria itu tersenyum kecil seakan bangga dengan apa yang telah ia lakukan, melihat hal itu mara menyimpulkan sesuatu bahwa pria ini bukanlah orang biasa.

Pria itu kembali menarik lengan mara untuk kembali bergerak, kali ini mereka berdua berlari dengan kecepatan penuh karna sayup sayup dari kejauhan terdengar suara langkah kaki bergerak kearah mereka, kali ini mereka dikejar oleh lebih banyak orang dari sebelumnya. Pria itu menarik mara bergerak kearah kanan dan kiri, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah tangga yang menuntun mereka keatas. Benar dugaan mara, bahwa saat ini ia memang disekap disebuah ruang bawah tanah yang dirancang khusus.

“Cepat, kau naik keatas, biar aku yang tangani ini.” Ujar pria itu.

Tanpa keraguan karna dikalahkan oleh rasa takut teramat sangat, ia mengikuti perintah pria itu. Mara menaiki tangga yang menuntunnya ke dunia atas, pria itu pun mengikutinya dari belakang.

“Cepat! Cepat!” ujar pria itu, yang membuat mara otomatis mempercepat gerakannya. Tak lama kemudian para pengejar tiba ditangga tempat mereka mencoba naik keatas, mengetahui hal itu, mara makin mempercepat gerekannya hingga akhirnya ia berhasil terlebih dulu keluar. Dilain waktu, dengan kedua tangan memegang tangga, pria itu sibuk menendang satu persatu wajah para pengejar yang mencoba menaiki tangga untuk menangkapnya. Pria itu sepertinya memang memiliki kekuatan yang besar sehingga para penjaga yang mengganggunya menaikin anak tangga, terlihat seperti bukan lawan sepadan.

Tak lama, akhirnya pria itu pun bisa keluar dengan melalui lubang got tepat dipinggir kota. Tepat pukul 00.00 dibawah terang cahaya bulan, pria itu melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi ia kenakan lalu menyimpannya dibalik kantong jas. Ia kemudian mengeluarkan sebuah bolpoin hitam klasik, kemudian memutarnya kearah kiri sehingga memunculkan sebuah angka 10 berbentuk digital dari gagang bolpoin tersebut. Angka 10 itu tiba tiba countdown ketika ia menekan gagang bolpoin, di detik kelima pria itu membuang bolpoin kedalam lubang got.

“DAAAARRRRR!!!”

Bolpoin itu meledak memunculkan sebuah asap orange yang keluar dari dalam lubang got tersebut. Pria itu tersenyum kecil, mengetahui keberhasilannya mengalahkan semua orang yang mengejar dirinya. Namun senyuman itu tak berlangsung lama, setelah ia menyadari harus mencari keberadaan Mara namun ketika ia membalik badan... Ia melihat tubuh Mara sudah terbujur kaku di aspal dengan kepala hacur akibat tembakan.  

Disamping mayat Mara berdiri seorang wanita muda berusia sekitar 30 tahun dengan mengenakan mantel penghangat tubuh, blue jeans, boots coklat berbulu ditambah dengan sebuah topi baseball menutupi rambut blondenya. Wanita yang memiliki hidung mancung, mata tajam dan bibir tipis tersebut terlihat sangat marah ketika berhadapan dengan pria itu. Disisi lain, pria itu tau bahwa wanita tersebutlah yang menembak mati Mara dengan pistol yang ia genggam erat di tangan kanannya. Wanita tersebut menembakan pistolnya kesisi jalan disebelah kanan pria itu, ia membuat gertakan sebelum akhirnya menodongkan senjata kearah si pria. Kini jarak antara pria itu dan wanita tersebut tak lebih dari 15 meter saja.

“Angkat tanganmu!!!” Gertak wanita tersebut.

Dengan tetap tenang, pria itu langsung mengangkat tangannya mengikuti perintah wanita tersebut. Dari intonasi suara dan tingkat emosi yang ditunjukan, pria itu berasumsi bahwa wanita tersbut ialah wanita yang suaranya muncul dari balik speaker ruang tahanan Mara.

“Apa maumu?!!” Teriak wanita itu.

“Menyelamatkan dia”, jawab pria itu seraya menggerakan telunjuk kirinya yang menunjuk mayat Mara.

Wanita itu makin geram melihat gestur dan ekspresi si pria misterius itu. Dari genggaman kencang pistol yang ia arahkan, sangat terlihat jelas bahwa ia serius akan menembak pria itu.

“Siapa kau?!”

“Aku? Aku Vasper Jansen.” Jawab pria itu sambil tersenyum, yang malah makin membuat wanita itu makin tersulut amarah.

“jangan main main denganku!!!” Teriak wanita itu dengan kembali menembakan pistolnya 2 meter disamping kiri pria itu berdiri.

“Hahahaa oke aku bercanda. Kau Vasper Jansen, anak dari Bruce Jansen, pemimpin komplotan mafia terbesar di negeri ini. Justru aku yang harus bertanya, apa masalahmu dengan Mara Cornell?”

“Bukan urusanmu!! Bukan urusanmu!!! Balas wanita yang bernama Vasper Jansen tersebut.

“Kau ingin balas dendam pada Mara karna telah membantu penyelidikan polisi untuk menghukum mati ayahmu?” Tanya pria itu.

Vasper terdiam mendengar ucapan pria itu, ia terkejut mengetahui pria itu mengetahui semua hal tentang dirinya.

“Pria ini membahayakan organisasi kami!!” ujar vasper dengan tiga kali kembali menembakan pistolnya ke mayat Mara yang telah terbujur kaku.

Mendengar ucapan Vasper, pria itu menurunkan kedua tangannya lalu menyilangkannya. Tanpa menunjukan rasa takut atau terintimidasi, ia tersenyum kearah wanita yang terus mengarahkan pistolnya itu.

“Sayang sekali Vasper, padahal dengan kecantikan yang kau miliki aku tak ragu untuk mengajakmu dinner atau mentraktirmu dua gelas martini.” Ujar pria itu dengan kata kata lembut yang menggoda. “Vasper Jansen, adalah nama terindah yang pernah kudengar.” Terang pria itu, melanjutkan kata katanya.

Ucapan pria itu ternyata membuat Vasper makin marah besar, ia tak terima dengan perkataan itu yang baginya terdengar seperti melecehkan harkat dan martabatnya.

“Siapa kau?!!!!” Teriak Vasper yang tak ragu menarik pelatuk pistolnya.

“Kau tau siapa namaku,” ujar pria itu, “aku agen MI6 dengan kode Tiger.” Lanjutnya, seraya menyentuh jam tangan yang terpasang di tangan kirinya.  

Mendengar ucapan pria itu, Vasper terlihat langsung menyadari sesuatu hal yang berhubungan dengan MI6 dan kode Tiger, hal itu seketika membuatnya ingin langsung menarik pelatuk pistol. Namun ternyata pria itu ternyata telah memperhitungkan apa yang akan dilakukan oleh Vasper. Pria itu menekan dengan kencang jam tangannya, yang seketika membuat malam menjadi terang benderang.


Tiba tiba saja sebuah mobil marcedes benz hitam yang berada dibelakang Vasper menyalakan lampu. Hal itu membuat konsentrasi Vasper terganggu dan membuatnya segera melihat kearah mobil yang berada dibelakangnya itu. Lalu hanya dalam hitungan detik, mobil itu memunculkan senjata dari kap depannya yang membuat Vasper menjadi sangat terkejut.

Melihat hal tersebut, si pria misterius langsung bergerak cepat kearah Vasper kemudian memukul tengkuknya dari belakang yang seketika membuatnya pingsan. Lalu dengan santai, pria itu berjalan kearah mobil marcedes benz dengan meninggalkan Vasper yang pingsan tergeletak disamping mayat Mara.

                                             *****

Pria itu menyetir mobil melewati kota dengan sangat santai, ia melepaskan jas, membuka bagian atas kancing kemeja, juga meletakan Walther P99 dan kacamata hitam di kursi penumpang yang ada disebelahnya. Ia kemudian menekan sebuah tombol berwarna merah menyala yang berada dibagian monitor mobil tersebut, kemudian seketika saja muncul sebuah gelombang berwarna biru.

“Password?” muncul suara digital yang membuat gelombang pada monitor menjadi bergerak.

“Kode: Tiger.”

“Report status?”

“Report status: Misi gagal, target tewas tertembak.” Jawab pria itu dengan sedikit kegetiran, karna kegagalannya menyelesaikan misi untuk menyelamatkan Mara.

“Say your name if your report done”

Pria itu menghela nafas dengan kegagalannya menyelesaikan misi tadi karna menurutnya misi itu akan berhasil jika saja ia lebih berhati hati dalam menentukan tindakan, sebuah kegagalan yang cukup disayangkan untuk seorang agen rahasia sekaliber dirinya. Namun disisi lain, ia juga cukup menyimpan sebuah kebahagiaan tersendiri karna dapat bertemu langsung dengan Vasper Jansen, walaupun wanita itu hampir saja membunuhnya.

“Namaku Malaka, Andre Malaka. Laporanku selesai dan dalam perjalanan kembali”, jawab pria itu menyelesaikan laporannya.