Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 23 Agustus 2015

AFTER MIDNIGHT: THE MEN WHO KNEW TOO MUCH



"All the ways you wish you could be, that's me. I look like you wanna look, I fuck like you wanna fuck, I am smart, capable, and most importantly, I am free in all the ways that you are not."

          “Bagaimana quotes favoritku? Kau pasti tau itu dari film apa?”

       Suara wanita bising yang penuh amarah dan keangkuhan terdengar nyaring keluar melalui speker kecil yang berada di pojok kiri ruangan. Ruangan 3x4 yang cukup sempit untuk dihuni satu orang. Cukup membuat gerah, karna dilapisi dengan dinding besi namun berpintu kayu oak yang kokoh dan tanpa daun jendela. Mara, seorang pria paruh baya terduduk lesu di pojok ruangan, dia sudah empat hari berada di ruangan aneh, tanpa makan dan minum. Dia tak mengerti apa alasan dia bisa berada di sini, kejadian terakhir yang dia ingat adalah dia sedang menelfon anaknya dari telfon umum di pinggir stasiun kota. Tiba tiba saja dia dipukul seseorang dari belakang, dan kemudian tersadar di ruangan sempit ini.

       “Fight Club, bangsat! Apa mau mu?”, jawab Mara dengan emosi.

     “Tidak.. Hanya bertanya saja...” Jawab suara yang keluar dari ujung speaker.

   Mara, adalah seorang wartawan senior disebuah surat kabar ternama di ibu kota. Dia juga seorang ayah dari satu orang putri yang masih berusia empat tahun, istrinya sudah meninggal setahun lalu karna bunuh diri. Dia merasa selama ini tak punya musuh sama sekali, dia hanya wartawan film bukan wartawan politik jadi tak mungkin ulasan atau kritikannya akan menyinggung orang lain. Hal yang dia alami sekarang berada diluar nalar akal sehatnya sebagai manusia. Bingung, kesal, marah dan lapar semuanya bergabung menjadi satu hingga tak cukup dengan satu kata untuk menjelaskan apa yang Mara rasakan saat ini.

      “Mara.. Mara... Mara... Kau pintar, aku tertarik denganmu. Kau selalu membuatku bergairah ketika berpura pura bodoh...” Kembali suara wanita keluar dari ujung speaker.
             
        “Cih! Aku tak mengerti maksudmu?!”
                
     “Wartawan berpengalaman dengan prestasi meliput banyak kasus yang menghebohkan, apakah menurutmu salah satu dari sekian banyak tulisanmu tak ada yang menyinggung orang lain?”, ujar wanita itu seraya tersenyum sinis yang terdengar menggema.
                
      Tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya yang hanya bisa terduduk disudut ruangan, Mara mencoba mengingat semua kasus yang ia tulis di surat kabarnya, mulai dari kasus korupsi yang melibatkan CIA dan MI6, pelacuran kelas atas yang melibatkan menteri luar negeri, hingga party orgy yang melibatkan anak para pejabat pemerintahan. Tentu dari semua kasus yang pernah ia beritakan, membuatnya mendapatkan banyak musuh yang bergerak secara tak kasat mata, bahkan bukan tak mungkin sebentar lagi namanya akan menghilang dari perederan.
                
     “Aku beri waktu 10 detik, jika benar sebentar 5 menit lagi akan ada seporsi ribeye steak datang untukmu.”
                
     Tanpa berkata apapun, Mara terus memutar otak menghubungkan semua kasus yang pernah ia beritakan. Sepiring steak bukanlah menjadi prioritasnya saat ini, melainkan nyawalah yang ia khawatirkan. Empat hari dikurung disebuah ruangan asing, bukan tak mungkin wanita ini malah memberinya racun pada steak itu nantinya. Keringat mengucur dari ubun ubun, karna ia terusa berusaha mengingat dan menghubungkan semua hal menjadi satu kesatuan tapi sepertinya itu semua hasilnya nihil.
                
   “JAWAAAAAB!!!!”, wanita itu berteriak kencang, nampaknya ia sangat emosi karna Mara tak bisa memberikan jawaban apapun.
                
        “A.... ada banyak kasus yang aku tulis, aku tak bisa mengenalmu”, sebuah kalimat keluar dari mulut Mara, bukan sebuah jawaban bagus tapi setidaknya itu cukup memberitahu semua yang ada dipikirannya.
                
    “Ayolahh buat permainan ini seru, kau sama sekali tak membuatku bergairah!”, jawab si wanita misterius.
                
         Mara mulai menyadari bahwa dirinya sedang berada di posisi yang sangat tak menguntungkan, ia tau bahwa sebuah masalah besar sedang menghampirinya.
                
          Dooor!! Door!! Door!!
                
         Terdengar tiga kali suara tembakan, persis diluar ruangan tempat Mara dikurung. Dengan penuh kebingungan bercampur rasa takut, ia mulai bergerilya di ruangan sempit itu mencari sebuah tempat untuk berlindung walaupun ia tau hal itu tak menghasilkan apapun. Namun ternyta sepertinya bukan ia saja yang panik, dari balik speaker sayup terdengar sedikit kepanikan dan amarah dari wanita misterius itu. Mara menyimpulkan sepertinya orang orang dibalik speaker, juga terkejut dengan suara tembakan itu namun menurutnya ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan apa yang terjadi dibalik speaker.
                
     Tiba tiba saja pintu oak yang menahan Mara ditembak dua kali secara beruntun, yang mengakibatkan pintu tersebut terbuka. Sosok pria dengan proporsi badan tinggi dan tegap, rambut hitam klimis, berkacamata hitam dengan sebatang rokok menempel di bibirnya memasuki ruangan. Mengenakan jas press body berwarna hitam dengan dalaman kemeja biru pastel, ditambah celana bahan model stright berwarna hitam dan sepatu pantofel, pria asing ini terlihat parlente seperti seorang excutive, tapi saat ini pria itu memegang sebuah handgun klasik tipe Walther P99 di tangan kanannya.
                
              “Mara Cornell?”, ujar pria itu seraya menunjuk wajah Mara dengan tangan kirinya.
                
         Mara yang terkejut tak bisa bekarta apapun, ia hanya mengangguk tanda menjawab atas pertanyaan dari pria tersebut. Pria itu langsung menghampiri dan menarik lengan kirinya, ia memaksa untuk mengikutinya keluar dari kurungan itu. Dengan kedua kaki yang bergetar hebat, Mara mencoba mengikuti pria itu, entah kenapa ia meyakini bahwa pria itu datang untuk menyelamatkannya.
                
       “TANGKAP PENGACAU ITU!!!!!!!” kembali terdengar teriakan wanita misterius dari balik speaker, sepertinya ia sangat marah dengan keadaan yang terjadi.
                
             Mendengar teriakan itu, pria itu membuang rokoknya dan langsung saja menarik Mara untuk mempercepat jalannya. Mara terkejut melihat keadaan diluar ruangannya disekap sudah dipenuhi tiga mayat dengan kepala berlubang akibat tertembak. Namun ternyata sepertinya usaha mereka untuk keluar tak semudah itu, ruangan tempat mara disekap ternyata terhubung dengan sebuah jalan menyerupai labirin panjang dan gelap. Mara menyimpulkan sepertinya ini sebuah ruangan bawah tanah khusus yang dirancang khusus sebagai tempat persembunyian.
                



       Mara hanya mengikuti arahan dari si pria misterius, yang memberi intruksi agar Mara mengkikuti pergerakannya secara perlahan dari belakang. Dengan mengacungkan senjatanya, pria itu bergerak pelan menyusuri jalan berdinding baja seperti sedang menghindari sesuatu yang tak diharapkan.
                
              Door!! Dooor!!!

Hampir berjalan selama 10 menit tiba tiba saja terdengar suara tembakan dari arah belakang, beruntung tembakan itu meleset tanpa mengenai mereka berdua. Mendengar suara tembakan, pria itu langsung menarik Mara untuk segera berlari menyelamatkan diri. Saat ini kira kira mereka sedang dikejar oleh lebih dari sepuluh orang yang semuanya memegang senjata. Pria tersebut berlari dengan sangat kencang menarik Mara hingga mereka menemukan sebuah jalan persimpangan yang sepertinya dapat membuat mereka bersembunyi untuk semenatara waktu.

Dengan bersembunyi dibalik sebuah tembok, pria tersebut memasang posisi siap menembak dan Mara yang ketakutan hanya bisa bersembunyi dibelakang pria itu. Melihat mereka berdua yang bersembunyi, kesepuluh orang pengejar itu pun bersiap melakukan serangan dengan menodongkan semua senjata mereka. Adu tembak pun tak bisa dihindarkan, Dooor! Dooor! Dooor! Doooor!! Semua pengejar tadi menembakan amunisinya kearah persebembunyian mara dan pria itu. Pria itu tak membalas satu pun tembakan yang dialamatkan padanya, ia hanya terlihat mengeluarkan sebuah peluru berwarna biru yang ia masukan kedalam handgun miliknya, sepertinya tembakan bertubi tubi ini membuatnya tak memiliki kesempatan untuk membalas tembakan.

Namun sepersekian detik saat serangan terdengar melengah karna para pengejar mulai kehabisan peluru, pria itu langsung keluar lalu menembakan handgunnya tepat diatas dinding batu tempat para pengejar itu berdiri. Hanya dengan satu kali tembakan saja, dinding batu itu runtuh menimpa seluruh pengejar itu. Pria itu tersenyum kecil seakan bangga dengan apa yang telah ia lakukan, melihat hal itu mara menyimpulkan sesuatu bahwa pria ini bukanlah orang biasa.

Pria itu kembali menarik lengan mara untuk kembali bergerak, kali ini mereka berdua berlari dengan kecepatan penuh karna sayup sayup dari kejauhan terdengar suara langkah kaki bergerak kearah mereka, kali ini mereka dikejar oleh lebih banyak orang dari sebelumnya. Pria itu menarik mara bergerak kearah kanan dan kiri, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah tangga yang menuntun mereka keatas. Benar dugaan mara, bahwa saat ini ia memang disekap disebuah ruang bawah tanah yang dirancang khusus.

“Cepat, kau naik keatas, biar aku yang tangani ini.” Ujar pria itu.

Tanpa keraguan karna dikalahkan oleh rasa takut teramat sangat, ia mengikuti perintah pria itu. Mara menaiki tangga yang menuntunnya ke dunia atas, pria itu pun mengikutinya dari belakang.

“Cepat! Cepat!” ujar pria itu, yang membuat mara otomatis mempercepat gerakannya. Tak lama kemudian para pengejar tiba ditangga tempat mereka mencoba naik keatas, mengetahui hal itu, mara makin mempercepat gerekannya hingga akhirnya ia berhasil terlebih dulu keluar. Dilain waktu, dengan kedua tangan memegang tangga, pria itu sibuk menendang satu persatu wajah para pengejar yang mencoba menaiki tangga untuk menangkapnya. Pria itu sepertinya memang memiliki kekuatan yang besar sehingga para penjaga yang mengganggunya menaikin anak tangga, terlihat seperti bukan lawan sepadan.

Tak lama, akhirnya pria itu pun bisa keluar dengan melalui lubang got tepat dipinggir kota. Tepat pukul 00.00 dibawah terang cahaya bulan, pria itu melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi ia kenakan lalu menyimpannya dibalik kantong jas. Ia kemudian mengeluarkan sebuah bolpoin hitam klasik, kemudian memutarnya kearah kiri sehingga memunculkan sebuah angka 10 berbentuk digital dari gagang bolpoin tersebut. Angka 10 itu tiba tiba countdown ketika ia menekan gagang bolpoin, di detik kelima pria itu membuang bolpoin kedalam lubang got.

“DAAAARRRRR!!!”

Bolpoin itu meledak memunculkan sebuah asap orange yang keluar dari dalam lubang got tersebut. Pria itu tersenyum kecil, mengetahui keberhasilannya mengalahkan semua orang yang mengejar dirinya. Namun senyuman itu tak berlangsung lama, setelah ia menyadari harus mencari keberadaan Mara namun ketika ia membalik badan... Ia melihat tubuh Mara sudah terbujur kaku di aspal dengan kepala hacur akibat tembakan.  

Disamping mayat Mara berdiri seorang wanita muda berusia sekitar 30 tahun dengan mengenakan mantel penghangat tubuh, blue jeans, boots coklat berbulu ditambah dengan sebuah topi baseball menutupi rambut blondenya. Wanita yang memiliki hidung mancung, mata tajam dan bibir tipis tersebut terlihat sangat marah ketika berhadapan dengan pria itu. Disisi lain, pria itu tau bahwa wanita tersebutlah yang menembak mati Mara dengan pistol yang ia genggam erat di tangan kanannya. Wanita tersebut menembakan pistolnya kesisi jalan disebelah kanan pria itu, ia membuat gertakan sebelum akhirnya menodongkan senjata kearah si pria. Kini jarak antara pria itu dan wanita tersebut tak lebih dari 15 meter saja.

“Angkat tanganmu!!!” Gertak wanita tersebut.

Dengan tetap tenang, pria itu langsung mengangkat tangannya mengikuti perintah wanita tersebut. Dari intonasi suara dan tingkat emosi yang ditunjukan, pria itu berasumsi bahwa wanita tersbut ialah wanita yang suaranya muncul dari balik speaker ruang tahanan Mara.

“Apa maumu?!!” Teriak wanita itu.

“Menyelamatkan dia”, jawab pria itu seraya menggerakan telunjuk kirinya yang menunjuk mayat Mara.

Wanita itu makin geram melihat gestur dan ekspresi si pria misterius itu. Dari genggaman kencang pistol yang ia arahkan, sangat terlihat jelas bahwa ia serius akan menembak pria itu.

“Siapa kau?!”

“Aku? Aku Vasper Jansen.” Jawab pria itu sambil tersenyum, yang malah makin membuat wanita itu makin tersulut amarah.

“jangan main main denganku!!!” Teriak wanita itu dengan kembali menembakan pistolnya 2 meter disamping kiri pria itu berdiri.

“Hahahaa oke aku bercanda. Kau Vasper Jansen, anak dari Bruce Jansen, pemimpin komplotan mafia terbesar di negeri ini. Justru aku yang harus bertanya, apa masalahmu dengan Mara Cornell?”

“Bukan urusanmu!! Bukan urusanmu!!! Balas wanita yang bernama Vasper Jansen tersebut.

“Kau ingin balas dendam pada Mara karna telah membantu penyelidikan polisi untuk menghukum mati ayahmu?” Tanya pria itu.

Vasper terdiam mendengar ucapan pria itu, ia terkejut mengetahui pria itu mengetahui semua hal tentang dirinya.

“Pria ini membahayakan organisasi kami!!” ujar vasper dengan tiga kali kembali menembakan pistolnya ke mayat Mara yang telah terbujur kaku.

Mendengar ucapan Vasper, pria itu menurunkan kedua tangannya lalu menyilangkannya. Tanpa menunjukan rasa takut atau terintimidasi, ia tersenyum kearah wanita yang terus mengarahkan pistolnya itu.

“Sayang sekali Vasper, padahal dengan kecantikan yang kau miliki aku tak ragu untuk mengajakmu dinner atau mentraktirmu dua gelas martini.” Ujar pria itu dengan kata kata lembut yang menggoda. “Vasper Jansen, adalah nama terindah yang pernah kudengar.” Terang pria itu, melanjutkan kata katanya.

Ucapan pria itu ternyata membuat Vasper makin marah besar, ia tak terima dengan perkataan itu yang baginya terdengar seperti melecehkan harkat dan martabatnya.

“Siapa kau?!!!!” Teriak Vasper yang tak ragu menarik pelatuk pistolnya.

“Kau tau siapa namaku,” ujar pria itu, “aku agen MI6 dengan kode Tiger.” Lanjutnya, seraya menyentuh jam tangan yang terpasang di tangan kirinya.  

Mendengar ucapan pria itu, Vasper terlihat langsung menyadari sesuatu hal yang berhubungan dengan MI6 dan kode Tiger, hal itu seketika membuatnya ingin langsung menarik pelatuk pistol. Namun ternyata pria itu ternyata telah memperhitungkan apa yang akan dilakukan oleh Vasper. Pria itu menekan dengan kencang jam tangannya, yang seketika membuat malam menjadi terang benderang.


Tiba tiba saja sebuah mobil marcedes benz hitam yang berada dibelakang Vasper menyalakan lampu. Hal itu membuat konsentrasi Vasper terganggu dan membuatnya segera melihat kearah mobil yang berada dibelakangnya itu. Lalu hanya dalam hitungan detik, mobil itu memunculkan senjata dari kap depannya yang membuat Vasper menjadi sangat terkejut.

Melihat hal tersebut, si pria misterius langsung bergerak cepat kearah Vasper kemudian memukul tengkuknya dari belakang yang seketika membuatnya pingsan. Lalu dengan santai, pria itu berjalan kearah mobil marcedes benz dengan meninggalkan Vasper yang pingsan tergeletak disamping mayat Mara.

                                             *****

Pria itu menyetir mobil melewati kota dengan sangat santai, ia melepaskan jas, membuka bagian atas kancing kemeja, juga meletakan Walther P99 dan kacamata hitam di kursi penumpang yang ada disebelahnya. Ia kemudian menekan sebuah tombol berwarna merah menyala yang berada dibagian monitor mobil tersebut, kemudian seketika saja muncul sebuah gelombang berwarna biru.

“Password?” muncul suara digital yang membuat gelombang pada monitor menjadi bergerak.

“Kode: Tiger.”

“Report status?”

“Report status: Misi gagal, target tewas tertembak.” Jawab pria itu dengan sedikit kegetiran, karna kegagalannya menyelesaikan misi untuk menyelamatkan Mara.

“Say your name if your report done”

Pria itu menghela nafas dengan kegagalannya menyelesaikan misi tadi karna menurutnya misi itu akan berhasil jika saja ia lebih berhati hati dalam menentukan tindakan, sebuah kegagalan yang cukup disayangkan untuk seorang agen rahasia sekaliber dirinya. Namun disisi lain, ia juga cukup menyimpan sebuah kebahagiaan tersendiri karna dapat bertemu langsung dengan Vasper Jansen, walaupun wanita itu hampir saja membunuhnya.

“Namaku Malaka, Andre Malaka. Laporanku selesai dan dalam perjalanan kembali”, jawab pria itu menyelesaikan laporannya.  
     
               





Senin, 08 Juni 2015

After Midnight: Kucing Hitam



7 Juni, 00:23.

Ketika Vito membuka mata, ia menyadari ada sesuatu yang tak beres. Ia terbangun dikamarnya yang gelap dengan keadaan lemas seperti baru saja memikul beban puluhan ton. Dalam keadaan pusing, ia mencoba bangkit lalu duduk di sisi kiri kasur. Ia berusaha membuka lebar lebar kedua matanya namun apa yang ia pandang semuanya buram, sekilas terlihat tumpukan buku dan baju kotor tergeletak di sudut ruangan. Untuk menyadarkan diri, ia segera menghitung mundur dari angka 100 hingga 0, ini merupakan kebiasaan yang selalu ia terapkan jika ingin sadar ketika mabuk berat.

55, 54, 53, 52....

Di angka 52 tiba tiba saja ia menyadari suatu hal aneh, menurutnya bukanlah kamar apartemennya. Memang beberapa letak perabotan seperti lemari, meja belajar dan televisi sangat mirip dengan letak kamarnya, namun suasana dan aura kamar itu sangat berbeda. Dalam keadaan kamar gelap, ia merasakan adanya hembusan angin yang seolah olah menebus dadanya. Ia mencoba berdiri walupun kepalanya masih terasa sangat pusing untuk mencari tau keberadaannya sekarang.

Baru saja mencoba menggerakan kaki kananya untuk melangkah, ia dikagetkan dengan suara decit pintu mendadak terbuka. Tiba tiba saja seluruh badannya tak bisa digerakan, ia merasakan kaku dari kepala hingga jempol kaki, makin lama pintu terbuka makin lebar. Sebuah kilauan cahaya masuk dari balik celah pintu namun belum cukup membuat ruangan itu menjadi terang. Terlihat dari cahaya itu, sebuah siluet seperti masuk kedalam ruangan kamar.

Ia sadar dirinya tak akan mampu melihat siluet yang mulai mendekat kearahnya. Sekuat tenaga ia mencoba menutup kedua matanya tapi tak bisa, semakin ia mencoba, makin terasa penasaran pula kedua bola matanya dengan siluet tersebut. Seekor kucing hitam tiba tiba saja mucul dari balik pintu, siluet misterius tadi ternyata seekor kucing dengan tatapan mata tajam.

Mengetahui bahwa itu hanya bayangan seekor kucing, Vito langsung bisa mengusai tubuhnya kembali. Nampaknya kaku yang ia alami barusan dikarnakan rasa takut dan terkejut akan bayangan misterius yang tiba tiba saja muncul. Namun karna terkejut, ia langsung terduduk tepat diatas tumpukan baju kotor, tubuhnya kembali tak mampu berdiri.

Kucing hitam itu berjalan dengan pelan namun terus mendekat kearahnya yang sedang tak berdaya. Kucing itu berjalan makin dekat, diiringi hembusan angin yang kembali terasa menembus dada. Tanpa disadari, kini kucing itu sudah berada di betis kirinya kemudian langsung menggosokan kepala dengan manja di bulu kakinya. Ia hanya bisa terdiam melihat kucing itu yang terus menerus menggerakan kepala.

Walaupun kucing itu terus menggerakan kepala di kakinya, ia kembali menghitung mundur berharap tubuhnya kembali bisa digerakan. Baru saja mulai menghitung di dalam hati, ia kembali dikejutkan oleh suatu hal yang aneh.

“percuma saja...”, muncul suara aneh tanpa diketahui asal usulnya.

Ia langsung berhenti menghitung ketika mendengar suara itu. Dengan sigap ia melihat tiap sudut ruangan, mencari sumber suara aneh itu berasal namun semuanya sia sia karna sepertinya tak ada hal yang aneh.  Ia memejamkan mata, lalu kembali mulai menghitung mundur namun lagi lagi suara aneh itu muncul dengan intonasi yang lebih kencang. Ketika membuka mata, ia dikagetkan dengan kucing hitam yang kini telah berada di pangkuannya. Dengan tatapan mata sangat tajam, kucing itu menatap langsung mata Vito seperti akan menerkam mangsa.

“percuma saja kau menghitung....”

Suara itu kembali muncul, setelah kucing hitam itu menggerakan mulutnya. Kini ia tau bahwa sumber suara aneh itu berasal dari si kucing hitam dengan mata tajam dan gigi taring yang runcing, yang saat ini sedang duduk di pangkuannya. Vito tak bisa memalingkan kepalanya dari tatapan si kucing, tapi ia mencoba untuk membuka mulutnya, ia berpikir setidaknya bisa mengeluarkan sebuah kata untuk berbicara dengan kucing tersebut.

“kau berbicara?”, ujar Vito yang akhirnya bisa menggerakan bibirnya.

“tentu saja”, kucing itu membalas perkataan Vito dengan singkat.

Vito masih belum bisa memalingkan matanya dari tatapan tajam si kucing, ia merasakan kengerian yang teramat sangat seolah aliran darahnya mengalir cepat menuju otak. Ia menyadari bahwa matanya akan sulit berpaling dari tatapan si kucing, ia hanya bisa menggerakan mulutnya untuk bertanya pada kucing itu.

“Dimana ini? Apa maumu?”, tanya Vito denga suara pelan.

“Tentu saja dikamarmu.”

“Bukan, ini bukan kamarku.”


Dengan tetap menatap Vito, kucing itu tiba tiba saja tertawa dengan sangat kencang. Sekilas tawanya mengingatkan tawa Joker di serial animasi Batman, sebuah tawa puas setelah berhasil menyeret musuh kedalam perangkap.

“Itu tak penting. Yang paling penting, aku mempunyai sebuah tugas untukmu.”, lanjut si kucing.

“kenapa aku harus menerima tawaranmu?”, balas Vito.

“karna aku akan memberikan semua hal yang kau mau.”, dengan cepar si kucing menjawab pertanyaan Vito, lalu kini ia tersenyum sangat lebar penuh keyakinan bahwa tawarannya akan diterima.

“Aku tau kau tak menginginkan harta”, lanjut si kucing, “hubungan sex dengan wanita berkacamata yang sering kau temui di perpustakaan akan kau dapatkan, percaya ucapanku.”

Vito terkejut dengan ucapan kucing tersebut, bagaimana mungkin kucing itu tau dengan hal yang selalu ia dambakan. Memang sudah hampir 2 bulan ini, ia sering bertemu dengan seorang wanita berkacamata di perpustakaan favoritnya. Wanita itu cantik dengan kulit putih, buah dada besar dan senyuman manis, walaupun belum pernah berkenalan, sejak pertama bertemu ia selalu menjadikan wanita itu sebagai fantasi saat masturbasi. Tak ada seorangpun yang tau tentang wanita berkacamata itu, hal ini dikarnakan Vito memang tak pernah memiliki seorang teman.

“aku tau segalanya.” Lanjut si kucing.

Vito memilih dan merangkai banyak kata di dalam kepalanya, ia menyusun sebuah kalimat untuk bertanya pada si kucing.

“Apa yang kau mau?”, dari banyak kata, ia memilih 3 kata ini untuk ditanyakan pada si kucing.

“hanya hal sepele, aku hanya ingin kau membunuh 1 orang. Malam ini, tepat di jam 2:58 dini hari.” 
Jawab si kucing masih dengan bibir yang tersenyum lebar.

“Bagaimana mungkin membunuh orang merupakan hal yang sepele”, pikir Vito dalam hati. Ini bukan permintaan biasanya bagi pegawai advertising seperti Vito, ditambah lagi yang meminta hal ini adalah seekor kucing hitam yang bisa berbicara.

“kau harus menerimanya, aku benci penolakan.” Lanjut si kucing dengan menatap penuh kearah Vito.

“bagaimana jika aku menolak?”, ujar vito dengan keringat mengucur deras yang membuat rambutnya menjadi basah.

“maka aku aku memakan otakmu, aku tak bercanda.” Kucing itu menghentikan senyumannya, seraya makin menajamkan bola matanya pada Vito. Keadaan makin mengerikan, ia bisa merasakan bahwa kucing hitam ini sama sekali tak bercanda.

“siapa yang harus dibunuh?”, tanya vito

“aku akan membawamu ke tempat orang itu berada.” Ujar si kucing.

Kucing itu langsung pergi dari pangkuan Vito, ia berbalik mundur berjalan kearah pintu. Seketika Vito merasakan tubuhnya kembali bisa digerakan, semua pusing yang tadi ia rasakan pun menghilang, ia kembali segar seperti baru saja mendapat suntikan sebuah ekstasi.

Walaupun tubuhnya sudah bisa digerakan tapi ia tak bisa mengontrol gerakannya. Tiba tiba saja tubuhnya berdiri tanpa menunggu perintah dari otak, kedua kaki juga turut bergerak melangkah kedepan mengikuti si kucing hitam. Sebuah tengah malam yang aneh dan pertama kali dalam hiduonya, ia tak tau si kucing hitam akan membawanya kemana dan membunuh siapa. Ia merasa seperti sebuah boneka yang sedang digerakan oleh seorang dalang.


Tak lama setelah vito dan kucing hitam pergi meninggalkan ruang an tersebut. Melalui pantulan layar televisi, terlihat seorang wanita keluar dari persembunyiannya di kolong kasur. Wanita itu berpakaian pakaian serba putih menyerupai dress yang terlihat sangat kusut, penampilannya sangat lusuh seperti telah bersembunyi sangat lama dibawah kolong kasur itu. 

Wanita itu duduk disisi kasur, rambut panjangnya yang hitam menutupi seluruh wajahnya, hingga tak dapat dikenali. Ia hanya duduk tanpa melakukan apapun, hingga akhirnya menggerakan kedua telapak tangannya. Ia hanya memandangi kedua kedua telapak tangan tersebut tanpa berkata kata.

Kamis, 04 Juni 2015

Kisah Dara dan Kirana



Aku ingin melanjutkan ceritaku yang sempat tertunda cukup lama. Dulu sekali, aku pernah berjanji pada seorang wanita, suatu saat aku akan membuktikan padanya bahwa aku adalah pria yang tepat berada menjadi pendamping hidupnya. Namun 1 tahun berlalu, 2 tahun berlalu, hingga 7 tahun pun berlalu, aku tak pernah bisa menepati janjiku. Tak ada yang harus disalahkan jika 4 hari lagi ia akan segera menikah dengan pria pilihannya. Walaupun aku berjanji akan membuktikan cintaku pada wanita pujaanku, tapi ternyata aku tak pernah sesetia itu padanya.

Saat ini, entah kenapa aku dengan pikiran pikiran kosong, aku mengunjungi sebuah bar yang tak pernah kudatangi sebelumnya. Yang makin aneh, mungkin karna banyak pikiran dan sedikit mabuk, aku curhat dengan seorang penjaga bar ini, seorang pria tua, berusia 60 tahunan dengan rambut penuh uban, sekilas dia mengingatkanku pada sosok Clint Eastwood.

Dengan kepala pusing dan kata kata meracau, plus bau alkohol yang sangat menyengat. Aku bicara pada penjaga bar itu, bahwa aku sedanga jatuh cinta pada seorang wanita. Seorang pemain musik, penulis lagu, bertinggi badan 170 cm, berat badan proporsional. Ia juga memiliki mata bulat, senyum sinis yang memikat, rambut panjang lurus bergelombang, dan yang membuatku tergila gila adalah warna rambutnya yang hitam pekat, seperti kopi pahit tanpa gula. Wanita pemusik itu bernama, Dara. Oiya, hampir lupa, wanita pujaanku bernama Kirana.

Diiringi alunan musik slow rock bernuansa 80an, aku mulai terbawa suasana saat bar ini memainkan lagu Born to be My Baby milik Bon Jovi.

“Hei pak, kau pernah mengalami sebuah dilema?”, aku memanggil si bartender dengan suara yang cukup kencang.

Tanpa berekspresi, bartender itu mendekat kearahku dan kembali memberiku sebuah gelas kecil, yang dari baunya aku tau bahwa itu sebuah jagermeister.

Aku tak tau bagaimana cara mengungkapkannya dengan kata kata, aku hanya ingin ada orang mengerti apa yang aku rasakan. Sudah 9 tahun aku mengenal Kirana dan dari 9 tahun, 7 tahun aku menyianyiakan waktu, menyianyiakan janjiku untuk membuktikan bahwa aku adalah pria yang tepat untuknya. Selama rentang waktu 7 tahun itu, aku bertemu dengan banyak wanita, menghilang sesuka hati, dan lebih parahnya tak pernah 1 kalipun aku berpikir bahwa ia menunggu janjiku.

Aku mulai menyadari kesalahanku, saat aku berkenalan dengan Dara disebuah acara musik, 2 tahun yang lalu. Dara membuatku tak dapat mengalihkan mata saat pertama kali melihatnya. Dara memiliki suara yang sangat lembut, dan kemampuan bermain gitar yang seketika membuatnya bertambah cantik 200 persen. Setelah mengenal satu sama lain cukup lama, ternyata aku dan Dara memiliki banyak kesamaan.

Aku tak sadar semua kata kata itu keluar dari mulutku, penjaga bar dan beberapa orang yang duduk disebelahku ternyata mulai menyimak semua kisah busukku. Dengan keadaan yang mulai mabuk, aku kembali melanjutkan curhatanku.

Selama 1 tahun kebelakang, aku dan Dara menghabiskan waktu bersama. Lewat pesan singkat dari ponsel, ia selalu membangunkanku tiap pagi, akupun selalu membalas dengan ucapan selamat tidur saat malam tiba. Dara merupakan seorang pencipta lagu yang sangat puitis, sebagai seorang pria, aku beruntung selalu jadi yang pertama mendengar lagu ciptaannya, ”take my hand let’s see where we wake up tomorrow. Best laid plans sometimes are just a one night stand~”, itu adalah sebuah line yang menjadi favoritku dari semua lagu yang ia ciptakan. Kami memiliki hubungan sangat dekat seperti sepasang kekasih, namun aku dan Dara bukanlah sepasang kekasih.

Kedekatanku dan Dara dikarnakan kami memiliki kisah cinta yang sangat sama. Aku menjanjikan suatu hal yang tak bisa kutepati pada Kirana, Dara ternyata memiliki kisah yang sama denganku. Ia sangat mencintai seorang pria yang menghilang dari kehidupannya, pria itu menghilang dengan janji akan kembali padanya. 7 tahun berlalu pria itu tak pernah kembali namun ia tetap mengharapkan pria itu datang, itulah alasan terbesarnya menjadi seorang pemusik. Ia selalu berharap lewat lirik lagu ciptaannya yang peluh, pria itu ingat dan kembali datang untuk mencarinya.

Selama 1 tahun ini, aku selalu berusaha menjadi right man in the right place untuk Dara, meskipun aku tau itu akan percuma. Rasa penasaranku dan kekagumanku akan sosok Dara yang selalu membuatku berdegup, makin  membuatku lupa akan janjiku pada Kirana. Aku seolah tak peduli dengan Kirana, meskipun teman temanku pernah berkata bahwa Kirana masih menungguku.

Semakin lama, kedekatan kami pun makin intens dengan pertemuan yang terjadi setiap hari, hubunganku dengan Dara makin tak karuan. Tak ada kejelasan dari hubungan yang kami jalani, ia masih terus mencipatakan lagu dengan lirik sendu nan puitis sebagai ungkapan isi hatinya menanti janji seorang pria pujaannya.

Bulan berganti bulan dan aku sepertinya mulai kehilangan Dara. Tiba tiba saja, tak ada lagi ucapan selamat pagi, tak ada lagi lirik lagu yang ia tanyakan, tak ada lagi senyumannya, dan tak ada lagi pesan darinya yang masuk di ponselku. Seketika, aku mencoba mencarinya namun hasilnya nihil, ia hilang bak ditelan bumi.

Tak lama, aku mengetahui satu hal, ternyata dara berhasil mendapatkan apa yang ia impikan selama ini. Pria impiannya, kembali hadir dihadapannya setelah menghilang selama hampir 7 tahun. Aku tak bisa memahami apa yang maksud dari tindakan Dara kali ini. “Lantas kenapa jika pria itu kembali menemuimu?!! Tetap saja kau tak bisa meninggalkanku seperti ini!!!”, teriaku di dalam hati. Pikiranku berkecamuk membuat dada menjadi sesak, kepala pusing seperti dihantam balok berukuran raksasa. Walaupun aku dan Dara bukanlah seorang kekasih tapi bagiku saat ini, ia sangat menghianati perasaanku dan apa yang telah aku korbankan padanya selama 1 tahun ini.

Seketika aku teringat akan janjiku pada Kirana, sebuah janji yang telah aku lupakan. Aku ingin datang menemui Kirana, di tempat amg tak pernah aku dan dia rencakan sebelumnya. Tapi ternyata semua itu, juga menjadi sia sia belaka. Aku mendapatkan kabar, bahwa tak lama lagi Kirana akan segera melangsungkan pernikahannya. Kirana akan menikah dengan salah satu temanku yang selama ini mejadi tempat mencurahkan isi hati kegalauannya.

Tak seperti Dara, Kirana menyerah menunggu kedatanganku tapi... tapi Dara meninggalkanku untuk seorang yang ia cintai sejak lama. Aku hanya ingin tertawa meratapi nasibku, selama 7 tahun aku memiliki semuanya namun hanya dalam hitungan hari aku kehilangan semua itu. Kali ini keadaan tak berpihak padaku, aku tau ini semua karna keegoisanku semata. Realitanya, memang tak selamanya manusia mendapatkan apa yang mereka inginkan, sebesar apa aku sabar untuk mendapatkan Dara, tetap saja tak sebesar rasa cintanya pada pria pujaannya, begitu pula sebaliknya, sebanyak apa aku berkata sangat mencintai Kirana, tetap saja logika dan perbuatanku menunjukan Kirana tak pernah untukku. Aku tak bisa menangis, hanya bisa menyalahkan keadaan yang saat ini terjadi padaku. Meratapi nasib dengan duduk sendiri di bar, memang menjadi pilihan tepat bagi pria seperti diriku. Saat ini aku hanya hamparan bintang di langit yang mulai kehilangan cahaya, karna termakan oleh gelapnya malam.

Tanpa sadar aku menangis dihadapan semua orang yang berada di bar, penjagan bar kembali memberiku minum tapi kali ini segelas lemon tea hangat, kemudian ia pergi keluar bar. Saat aku meracau tak jelas hampir 3 jam lebih ternyata tanpa kusadari ternyata sangat mengganggu semua orang yang ada di bar. Suasana bar yang tadinya cukup ramai, tiba tiba menjadi mendayu setelah playlist lagu secara random memplay lagu milik Dara. Sebuah lagu yang sangat bekesan, karna ada sebuah line dari liriknya yang menjadi favoritku.

******

Tepat pukul 3 saubuh, mendadak suasana bar menjadi sangat kacau. 5 orang asing datang dengan setelan jas hitam, lengkap dengan kacamata dan sepatu hitam. Dengan memegang sebuah pistol, mereka mengarahkan tangannya ke semua sudut ruangan bar yang sontak membuat orang orang berteriak. Salah satu dari mereka, seorang pria botak datang kearahku lalu menodongkan senjatanya tepat di pelipis kiri kepalaku. Dia mengatakan sesuatu tapi aku sangat mabuk untuk paham apa yang ia katakan. Dari gerak bibirnya aku menebak ia menanyakan keberadaan seseorang, sepertinya si pria botak, menayakan keberadaan penjaga bar yang dari tadi mendengarkan ceritaku. Aku sudah tak bisa menahan rasa mual yang mulai membanjiri pikiranku, aku tau ini membuatku akan muntah.


Alunan lagu Dara masih terus diputar di bar itu, kini sudah bagian lirik yang menjadi favoritku. Namun keadaan ternyata makin tak bisa dikontrol, benar saja, aku muntah tepat dihadapan pria botak itu. Lirik lagu Dara makin menyengat pikiranku tapi sepersekian detik bisa kulihat kalau si pris botak kesal dengan muntahku yang mengenai jasnya. Pria itu menggerakan telunjuk kanannya, menarik pelatuk senjata yang masih menempel di pelipis kiriku. 3 detik kemudian, rasa panas bercampur sakit yang sangat hebat menembus kepalaku dan.........

Selasa, 29 Oktober 2013

Ode Untuk si Kembar



                “Ini bukan waktunya untuk bercanda kan?”

                “Tentu tidak, buat apa aku bercanda.”

                “Berhenti menjahiliku!”

                “Tidak!”

                “Berhenti atau kulaporkan ibu!”

                “Laporkan saja!”

                “Berikan bonekaku, kalau tidak kubunuh kau!


                                                                                  ***

      Karin, saudari kembarku adalah wanita paling jahil yang pernah tercipta didunia, aku sempat berpikir bahwa jahil lebih penting baginya dibandingkan oksigen. Bukan hanya aku korban kejahilannya tapi hampir seluruh orang yang dia kenal pernah mengalami bagaimana menjengkelkannya Karin. Kami memang kembar tapi kami sama sekali tak memiliki keterikatan antara satu sama lain, dunia kami, kebiasaan kami bahkan kepribadian kami sangat berbeda drastis, ya bisa dibilang seperti warna televisi tahun 40an, hitam dan putih. Bahkan diusia kami yang sama sama telah menginjak 20 tahun kami tidak pernah saling bertukar pikiran satu sama lain. Ayah dan ibu juga terkesan tak perduli dengan pergaulan Karin, dia anak menjengkelkan yang bermasalah di setiap lingkungan sosial dan susah diatur, sedangkan aku kebalikan darinya.

         Tak terhitung sudah berapa kali dia memotong kepala boneka favoritku dan juga sudah tak terhitung pula sudah berapa kali aku menyumpahi dia mati. Tapi Tuhan sama sekali tak pernah mendengar doaku, Tuhan terus menerus membiarkan Karin hidup dan meneruskan perbuatan menyebalkannya, bukan hanya padaku tapi juga pada anak anak lain. Selang beberapa tahun akhirnya doaku di dengar Tuhan, hanya sampai usia 20 tahun saja Karin hidup di dunia. Akhirnya sekarang dia mati juga tapi tentu bukan aku yang membunuhnya. Dia mati oleh kekasihnya saat sedang berhubungan seks, kepalanya di gorok dengan pisau dapur. Pria itu adalah jawaban atas doaku selama ini.

Setelah hampir setahun setelah kematian Karin, rasa senang itu hilang, rasa sedih dan kesepian muncul seperti hujan di sore hari. Aku juga tak mengerti, aku merasa sangat merindukan Karin. Pernah suatu hari ketika sedang mengitari seisi rumah aku selalu merasa seperti diperhatikan oleh seseorang, bukan orang tuaku, bukan pembantu, bukan pula orang asing, tapi perasaan seperti sedang diperhatikan oleh Karin. Aku tak pernah lupa bagaimana feeling aneh menyelimutiku ketika dia tengah bersiap untuk melakukan tindakan jahat, dalam hati selalu kuulang kata, “Karin telah mati.” Faktanya memang dia telah mati tapi entah mengapa saat ini aku merasakan kehadirannya. Selain itu, bau keringatnya yang wangi jeruk kadang muncul di kamarku tiap pukul 2 malam. Kuakui setelah dia mati, aku kesepian tapi sama sekali aku tak pernah mengharapkan kehadirannya lagi.


Saat ini jam tepat menunujukan tepat pukul 2 malam di hari kamis, seperti biasanya aku masih disibukan dengan kegiatan sebagai penulis artikel fashion di sebuah majalah. Mataku mulai mengantuk, jariku pun mulai lelah menekan keyboard tapi besok pukul 7 pagi deadline ini sudah harus aku kumpulkan kepada editor. Waktu yang kurang tepat untuk mengenang masa masa bersama Karin, “ah terlalu banyak drama untuk apa memikirkan dia” ujarku dalam hati. Jam dinding berjalan makin lama seakan makin pelan, stasiun tv tak lagi menyajikan hal yang menarik, ingin segera melanjutkan pekerjaan tapi inspirasi tak kunjung datang.

Aku tertidur sejenak lalu terbangun karna suara ketukan tiba tiba saja jendela kamarku berbunyi tak terlalu keras. Bunyi yang pelan tapi sangat mencekam dan seratus persen aku yakin itu ketukan, seperti sedang diketuk dengan jari. Suasana msunyi senyap seketika, aku mematikan tv lalu mengecilkan volume itunes agar suara itu terdengar lebih jelas. Kelamaan suara itu terdengar makin nyata, jika awalnya hanya satu jari kini terdengar seperti diketuk dengan tiga jari. Suara ketukan itu makin lama berbunyi makin tidak karuan, aku takut, namun entah mengapa rasa penasaranku justru makin memuncak. Perlahan aku beranjak dari kasur mendekati jendela yang letaknya berhadapan denganku, dengan sedikit keberanian aku mencoba untuk membuka gorden secara perlahan. Semakin gorden akan kutarik, semakin kencang pula suara ketukan itu muncul, makin lama suara itu makin keras dan seperti menusuk kedalam kepalaku. Lalu tanpa basa basi lagi aku langsung menarik gorden dengan menutup kedua mataku. “Brakk!!!” Terdengar seperti suara menghantam jendela yang diikuti dengan kesunyian tanpa suara, suara ketukan itu telah hilang. Pelan pelan aku membuka mataku ternyata tak ada apa apa di jendela, hanya terlihat puluhan bintang terang.

Wangi ini.. kemudian mendadak wangi jeruk muncul memenuhi seisi kamar, wangi jeruk yang terasa amat pekat. Ini adalah wangi Karin, wangi yang selalu saja menghantuiku tapi apa mungkin ini terjadi? Aku mulai berpikiran yang aneh aneh, semua kisah horor muncul di kepalaku silih berganti. Aku takut. Aku mulai kebingungan. Hanya berdiri sambil menutup kedua mata yang dapat kulakukan saat ini, semuanya begitu tak masuk diakal, hingga akhirnya...

“Brukk!”

Terdengar suara terjatuh tepat disamping aku berdiri saat ini. Dapat kurasakan yang jatuh bukan merupakan benda yang berat, mungkin sebuah benda yang ringan. Tapi aku merasakan aura yang sangat aneh dengan benda yang jatuh itu, bulu kudukku semuanya berdiri membentuk barisan militer. Apa makin tak mengerti dengan situasi ini, sekarang aku hanya ingin semua kejadian aneh ini berhenti.. “Aku takut, ya Tuhan..” Tapi sekali lagi rasa takutku kalah dengan rasa penasaran yang kembali memaksaku untuk melihat benda apa yang terjatuh barusan. Pelan pelan aku membuka mata dan melihat kearah sebelah kanan tempat benda itu terjatuh. Oh, ternyata bukan benda yang harus ditakutkan, itu hanya boneka, ya benar hanya boneka namun boneka itu tanpa kepala.

“Ini tanda dari Karin!”

Kepalaku penuh dengan racauan kata kata tak beralasan. Aku mecoba menghadapi ini dengan biasa namun logikaku mengatakan ini semua tak masuk akal, ini ulah hantu. Hantu Karin datang menggangguku! Aku tak percaya hantu itu nyata, menggelikan!

Ta.. Tapi jika hantu tak nyata lantas boneka ini maksudnya apa? Lebih tak masuk akal jika boneka ini tiba tiba muncul begitu saja. Aku ingat, boneka ini adalah boneka pinguin kesanyanganku saat berusia 10 tahun, boneka ini disembunyikan oleh Karin entah dimana sampai mati dia tak pernah mengatakan letak boneka itu. Setidaknya itu semua sampai hal aneh ini muncul tiba tiba saja boneka ini terjatuh dari langit sesaat baru saja muncul keanehan di jendela kamarku.

Aku  ingin semua ini cepat berhenti, aku tak tahan dengan semua ini.

“Halo Kiran...”

Suara lirih terdengar dari pojok ruangan kamar, suara pelan yang terdengar seperti rintihan kesakitan senar biola. Aku mengenali suara ini tak mungkin dapat melupakannya, suara yang  menyebalkan dan sangat menyedihkan. “Apa benar ini nyata?” Kali ini apapun yang terjadi aku tak boleh menoleh kearah belakang, mengerikan, tingkat ketakutanku naik drastis.

“Ayo masak masakan..”

“Ayo main operasi operasian..”

Suara itu sangat mengganggu, semua suara Karin bergema di dalam telingaku. Suara lirih kesakitan penuh ejekan. Suaranya terdengar persis di sebelah kanan telingaku, suara jarak dekat yang mungkin hanya berjarak 5 – 7 sentimeter.

Entah mengapa tiba tiba saja badanku tak dapat bergerak, semua otot kaku tak bergerak, bulu kuduk merinding seperti sedang disentuh oleh belaian lembut pasti. Bukan, bukan belaian nafsu melainkan belaian kengerian yang dapat berarti banyak hal. “Apa apa ini? Kenapa ini?” Seketika pertanyaan ini muncul di kepalaku silih berganti. Kukerahkan seluruh sisa kekuatan untuk menggerakan tubuhku, sangat maksimal hingga dapat kurasakan ototku bergeser dengan sangat kasar. Seketika tubuhku akhirnya dapat bergerak kembali dan langsung saja tanpa diperintah aku masuk dan mengunci kamar mandi dengan rapat. Aku tak dapat berpikir dengan jernih yang ada dalam kepalaku bagaimana caranya agar semua ini berhenti.

Tiba tiba lampu kamar mandi mati..

Tak ada ada kehidupan, aku hanya dapat mendengar suara tarikan nafasku yang terengah. Keringat mengucur deras dari pori pori kulit, cuaca dingin seketika berubah menjadi panas. Aku meraba raba sekeliling namun tak merasa apapun, aku makin takut dan langsung mencoba membuka pintu kamar mandi namun.. namun kunci kamar mandi sudah tidak menggantung di lubang kunci. Air mataku mulai mengucur keluar tanpa diperintah, aku takut, aku tak ingin mati..

“Apa kau suka? Apa kau suka??”

Kembali terdengar suara lirih Karin tapi kali ini aku dapat merasakan suara itu muncul setidaknya tepat dihadapanku.

“Jangan ganggu aku...” Aku menutup kedua telingaku, aku tak sanggup lagi mendengar suara suara aneh yang terus muncul disekitarku. Terus menerus aku mengucapkan kata kata itu dengan cepat, secepat mungkin, secepat yang aku bisa. “Bruuuk!” Aku merasa ditabrak dengan sangat kuat hingga terjatuh kelantai, suasana sangat gelap aku pun tak tau benda apa yang baru saja menabrakku. Rasanya bukan seperti tabrakan melainkan seperti dorongan tangan, didorong dengan tenaga penuh.

Lampu menyala..

Tepat dihadapanku sebuah kepala melayang. Itu adalah kepala Karin, itu wajah Karin! Ya Tuhan halusinasi apa ini?! Ini tidak nyata! Kepala itu melayang dengan mata tertutup dan darah yang mengucur dari leher yang menganga lebar.

“Bagaimana rasanya menjadi aku?” Kepala itu berbicara, aku sangat takut hingga tak mampu berkata kata yang dapat kulakukan hanya menutup mata dan mendengarkan suara asing ini.

“Kau mengambil semuanya!”

Sepersekian detik tiba tiba mata itu terbuka dan bergerak cepat kearahku! Kurasakan gigitan dahsyat yang sangat menyakitkan di seluruh wajahku, aku tak mampu melawan, aku hanya bisa bertertiak. Aku menyerah dan.....


*****



Kamis, 17 Oktober 2013

Guess, Who’s Coming to Dinner?




Dinda

         Nanti malam adalah malam yang paling indah dalam hidup dinda, sudah lama dia menantikan makan malam ini. Sebuah hal romantis yang jarang sekali dilakukan oleh kekasihnya dan dia pikir itu akan bertambah spesial jika malam nanti dipadukan dengan gaun hitam yang telah dia beli sebulan yang lalu.

“Oh candle light dinner di restoran mewah pinggir pantai, tak pernah melakukan hal ini, aku penasaran batu apa yang baru saja menghantam kepala kekasihku. Tapi selain itu aku yakin pasti nanti malam dia akan memberikan surprise yang ter-sweet untukku, mungkin dia akan memberikanku kado atau mungkin juga tiket konser Pheonix, emm.. atau... pasti dia akan melamarku!! Ahhh Ya Tuhaaan!!” Gumam Dinda dalam hati dengan sangat semangat.

Hubungan Dinda dengan kekasihnya sedang sangat renggang setelah sebelumnya dia kepergok oleh teman kekasihnya sedang check ini di hotel dalam keadaan mabuk dengan pria asing yang baru dikenalnya. Setelah kurang lebih satu bulan menjalani hubungan dingin penuh rasa bersalah, akhirnya secara tiba tiba kekasihnya menghubunginya.

“Semoga saja masalah kemarin tidak membuatnya marah. Perselingkuhanku memang menyakitkan tapi aku yakin dia tak akan meninggalkanku, dia sayang padaku dan dia pasti memaafkanku. Jika memang dia memang masih marah padaku mustahil kan dia mengajakku candle light dinner malam ini.”
                
           Kriiiing... Kriiiiing... (Dering Handphone)
                
        Handphone berdering dengan kencangnya dan memecahkan semua lamunan Dinda yang dengan segera mengambil handphone yang tergeletak diatas kasur. Nama kekasihnya muncul dari layar telfon dan dengan cepat dia menekan layar handphone.
                
           Dinda    :               Halooo...?


Vito
                
         Hemm.. Ya ini mungkin benar tapi mungkin juga salah, kenapa aku harus memaafkan dia. Makan malam romantis di pinggir pantai, ah setan omong kosong macam apa itu?! Semuanya keluar dari mulutku tanpa berpikir panjang. Tak kupungkiri aku memang sayang dia tapi ini perselingkuhan, apa kasus perselingkuhan wanita dapat dikatakan wajar? Dasar wanita binal. Apa kekuranganku selama ini padanya? Minta ini itu kuberi, minta dijadikan prioritas kuturuti, minta anter jemput, ohh oke, “gue adalah babu lo.”

“Semuanya sudah kuberikan tapi dia masih saja selingkuh, cinta pada pandangan pertama katanya tapi dengan pria yang dikenal di klub malam, yang benar saja apakah kekasihku ini anak SMA?! Tai. Percuma rasanya sudah memaafkan dia tapi nyatanya logika dan akal sehatku sepertinya berperang satu sama lain tanpa ada yang mau mengalah, hanya membuang waktu dan membuatku terlihat seperti orang yang gampang naik pitam. Candle light dinner di pinggir pantai, benar benar lawakan hebat mengalahkan Raditya Dika.”
                
        Emosi Vito masih sangat labil setelah mengetahui bahwa kekasihnya telah berselingkuh. Sebagai pria yang umunya berpikir secara logika, kesalahan seperti itu sangat tidak bisa dimaafkan tapi dia pun tak dapat membohongi dirinya sendiri bahwa dia sangat mencintai kekasihnya. Namun sekarang dia masih belum mengerti apa yang harus dia lakukan nanti malam, apakah harus bertindak tegas atau mungkin harus bertindak layaknya peri. Sedikitpun tak ada terlintas dalam benaknya untuk berdandan spesial demi dinner nanti, bergaya seperti biasa dengan kaos dan sepatu kets sudah sangat cukup baginya.
                
        Vito terdiam dalam lamunannya, pikirannya masih bergerak tak karuan. Dia mengambil handphone yang tergeletak diatas lantai, kemudian secara random dia tiba tiba saja ingin menelfon kekasihnya.
                
        “Teeett.... Teetttt...” (Suara telfon tersambung) selang beberapa detik terdengar suara dari sebrang gagang telfon.
                
           Vito        :               Aku cuma mau mastiin nanti malem jadi.
                
           Vito        :               Kita ketemuan aja di sana.
                
           Vito        :               Inget ya, jam 8 on time sudah di sana.
                
           Vito        :               Sampai jumpa.


Dinda

          “Tak masalah jika memang tidak bisa menjemput, wanita aku harus mandiri kan tak boleh bergantung pada orang lain. Jarak rumahku dan tempat dinner tak terlalu jauh, mungkin setengah jam lagi aku bisa berangkat ke sana.”
                
         Layaknya wanita pada umumnya Dinda masih saja mempadu padankan pakaian apa yang harus dipakai malam ini, padahal sebelumnya dia sudah menentukan gaun hitam terusan panjang adalah pilihan tepat. “Seperti Audrey Hepburn, malam ini aku harus terlihat anggun seperti Audrey Hepburn”, ucapnya dalam hati seperti motivasi. Pilih pilih baju memang sejam tapi tetap saja outfit yang dipilih adalah gaun hitam yang sebenarnya telah menjadi pilihan pertama sejak tadi siang.
                
         Waktu sudah menunjukan pukul setengah delapan malam, dengan sedikit terburu buru Dinda menjalankan mobilnya, dia sangat takut bila kekasihnya bete karna telat. Dengan sedikit ragu dia mengetik line, setidaknya ini antisipasi jika ternyata dia telat datang ke restoran.
                
         “Aku baru otw, tadi kelamaan dandan. Maaf yaa.”


Vito
                
      Jam sudah menunjukan pukul 7.30 tapi vito masih juga belum beranjak dari tempat tidurnya meskipun sudah berpakaian yang menurutnya sangat keren dengan padanan converse butut kesayangannya. Dia terlihat masih menatap nanar keatas lampu kamar, pikirannya masih kosong. Semuanya masih dipenuhi bagaimana sakit hatinya dia atas perbuatan kekasihnya yang sangat “tai” menurutnya. Tiba tiba saja dia menjadi ragu apakah harus datang ke sana atau tidak, ketegasan yang coba dia tunjukan akhir akhir ini seakan diuji oleh kuatnya rasa hati. Suasana hening selama dua sampai 3 menit sebelum akhirnya dia mengambil handphone kemudian mengetik pesan kepada kekasihnya.
                
         “Sudah jalan? Maaf telat, sebentar lagi aku jalan.”


Dinda
                
      Dinda sampai ke restoran dengan tepat waktu, jalanan lancar tak seperti biasanya sepertinya malam ini keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Dress hitam terusan panjang dengan heels hitam membuat penampilannya terlihat sangat anggun, make up natural yang menunjang betuk pipinya yang cantik membuatnya terlihat sangat sempurna malam ini. Penampilan sempurna untuk malam yang sangat spesial dipinggir pantai, “ohhh betapa beruntungnya aku memiliki semua ini.”
                
        Dengan anggun dia duduk di tempat yang telah dipesan oleh kekasihnya. Sebuah tempat romatis dengan pemandangan lampion yang menerangi pantai, cukup dingin tapi dengan semua perasaan berbunga, cuaca seperti ini tidak masalah baginya. Dengan tenang dia masih menunggu kekasihnya datang, mungkin pekerjaan di kantor membuatnya datang terlambat malam ini.
                
         20 menit kemudian...
                
      Tiupan angin serasa merasuk menembus gaun anggunnya, tak biasanya kekasihnya datang terlambat seperti ini. Perasaan Dinda makin tak menentu upaya untuk terus sumringah semakin luntur karna hempasan angin malam, rasa kecewa dan penasaran tiba tiba saja datang menyelimuti. Dengan perlahan dia mengambil handphone yang tersimpan dari dalam tas untuk menelpon kekasihnya tapi percuma, tiga kali sambungan tak ada jawaban. Perlahan dia mengetik line yang ditujukan untuk kekasihnya.
                
         Dinda    :               Kamu dimana?
                
         Dinda    :               Kok belum dateng?


Vito
                
        “Maceeet, maceeet dan macet. Tak biasanya jalan dari rumah ke restoran ini begitu macet separah itu. Telah deh 15 menit.” Gerutu Vito.
                
         Dengan santai dia berjalan memasuki restoran, apalagi gadis manis dengan gaun merah hati pasti sedang menunggu kedatangannya saat ini. Dia bertanya sebentar kepada waitress, yang langsung menunjukan tempat yang telah dia pesan. Sebuah tempat yang ternyata cukup romantis dengan lampion yang berjejer menerangi lautan malam, cuaca yang dingin dengan alunan musik jazz membuat suasana random seperti romantis campursari. Perlahan dia duduk di tempat yang telah dia pesan, memandangi laut sebentar kemudian mengecek jam yang teryata telah menunjukan pukul 8.30. 
                
       Suasana di restoran ini masih sangat sepi, hanya ada empat pasangan yang sedang candle light dinner yang rata umurnya mungkin sekitar 40 tahunan. Hampir telat 30 meit tapi nyatanya keasihnya juga belum terlihat batang hidungnya. Dengan cepat dia segera menghubungi kekasihnya.
                                                                                                

                                                                       *****

Vito        :               Kamu dimana?

Dinda    :               30 menit aku di sini, kamu kemana?

Vito        :               Jangan ngaret, sudah 30 menit ini.

Dinda    :               Telfon aku angkat doong.

Vito        :               Jalanan macet, cepetan ke sini aku sudah nungguin.

.............................

Dinda    :               Aku sendirian di sini.

Vito        :              Aku sendiri nih, kamu mau dateng apa ngga?

Dinda    :               Kamu maunya apa sih.

Vito        :              Jangan main main deh.

................................
                                                                                                
                                                                        *****

Dinda
                
              “Okee. Ini bukan akhirnya dari segala. Hidup berawal saat meninggalkan comfort zone kan?” Ucap Dinda dalam hati untuk menenangkan perasaannya yang tidak karuan.
                
           Kekasihnya tiba tiba saja berubah pikiran, dia tak ajdi datang menenuminya di tempat yang telah dijanjikan, dinner romantis berubah menjadi mengenaskan. Bukan hanya membatalkan tapi juga kekasihnya memutuskan hubungan melalui line, dengan alasan klasik “Aku bosan, kita putus aja.” Cukup menyakitkan tapi dia menyadari mungkin ini adalah balas dendam yang sangat spesial yang telah disiapkan oleh kekasihnya.
                
          Sakit terlanjur sakit, perasaan wanita tak bisa berbohong walau mencoba tegar, air mata pasti akan jatuh pula dari pelupuk mata. Hanya desiran angin, ombak dan sebatang rokok yang menemani malam hari ini. Dia menangis pelan kearah lautan yang luas dengan menghisap sebatang rokok yang terasa pahit.


Vito
                
           End of conversasion dan chat diakhiri dengan sedikit menyakitkan bagi Vito. Ternyata kekasihnya tak akan datang pada candle light dinner, cukup komplit keributan antara dia dan kekasihnya via line semua kata kata kasar dan ungkapan tak manusiawi keluar seperti kotoran pagi hari. Diluar dugaan, kekasihnya memutuskan hubungan dengan alasan, “bosan dengan rutinitas yang dilakukan bareng kamu.”
                
          “Hah, cewek brengsek!”
                
       Dia hanya bisa memandangi langit malam sembari menikmati cuaca dingin yang disajikan dengan suara debur ombak. Semua orang di sini memeliki pasangannya masing masing, berbeda dengannya yang duduk bengong sendirian.

Namun entah karna tak menyadari atau dari tadi hanya sibuk dengan urusannya, dia baru melihat seorang wanita yang persis duduk dihadapannya juga sedang sendiri. Wanita itu terus menyeka air matanya dengan tisu yang tersedia diatas meja sembari terus menghisap batang rokok. Wanita itu itu sepertinya terlihat sedang mengalami hal yang tidak mengenakan. Seorang wanita cantik sedang menangis dengan memandangi lautan, pasti sedang mengalami malam yang sangat berat, terka Vito.

“Padahal gaun hitam dan make up naturalnya pasti akan membuatnya terlihat tiga kali lebih cantik jika tersenyum.” Pikir Vito.

                                                                         *****
               
Vito dan Dinda adalah dua orang kebetulan berada di tempat yang sama, mereka tak mengenal satu sama lain namun menjalani kisah yang sama. Semoga ombak dan angin malam dapat merubah segalanya. Malam ini mungkin menjadi malam yang sangat indah bagi semua orang tapi dibalik itu ada juga segilintir orang yang tidak mengalami malam yang baik. Memang semua telah berakhir tapi jika ada sebuah akhir berarti kita harus siap memulai suatu yang baru. 

                                                              ******



Judul terinspirasi dari film Guess Who’s Coming to Dinner (1967)